Resensi Buku

[Resensi Buku] Khilafah, Sistem Pemerintahan yang Layak Diperhitungkan Penegakannya

#ResensiBuku Kitab Ahkamus Sulthaniyah


penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.


MuslimahNews.com, RESENSI BUKU — Kitab Ahkamus Sulthaniyah adalah karya monumental Imam Al-Mawardi yang memuat hukum-hukum yang sangat dibutuhkan oleh para penguasa, khususnya para khalifah dan jajarannya. Selain itu, buku ini juga sangat layak menjadi rujukan bagi mereka untuk menjalankan tugas dan kewajibannya. Demikian halnya bagi masyarakat yang mereka pimpin, agar paham dengan hak mereka selaku pihak yang dipimpin.

Kitab Ahkamus Sulthaniyah ini ditulis pada masa pemerintahan Khalifah Al-Qa’im bi Amrillah, yang tak lain adalah salah seorang khalifah era Abbasiyah. Yang mana saat itu Imam Al-Mawardi duduk sebagai seorang Qadhi Qudhat.

Beliau rahimahullah mengkhususkan penulisan sebuah kitab yang membahas hukum-hukum yang berkaitan dengan kekuasaan, yang berisi perkara yang wajib ditaati. Ini agar khalayak bisa mengetahui berbagai mazhab dari para fukaha, dan apa-apa yang menjadi hak dan kewajibannya bisa dipenuhi, sehingga menjadi adil pelaksanaan dan keputusan hukum yang diberikan bagi kemaslahatan umum.

Kitab ini memuat dua puluh bab yang begitu rinci, mulai dari pengangkatan imamah, gambaran pelaksanaan sistem sanksi kriminalitas, pengaturan kehidupan keluarga dan pernikahan, serta berbagai ketentuan mengenai pengelolaan harta/ekonomi oleh Khilafah.

Baca juga:  Pemilu dalam Negara Khilafah

Beliau rahimahullah juga menegaskan bahwa “imamah” di sini adalah khalifah, bukan pemimpin yang bermakna umum dengan sistem apa pun.

Betapa jelas dan tegas, bahwa aktivitas memimpin adalah bagian dari keterikatan terhadap hukum syariat Islam. Di mana, para penguasa dan pejabat-pejabatnya sama sekali tidak memiliki hak untuk mengabaikan amanah tersebut.

Imamah (kepemimpinan) yang dibahas di sini adalah asas yang meneguhkan prinsip-prinsip agama, sebagai penunjang kemaslahatan hidup umat manusia. Yang dengan imamah itu, seluruh urusan umat tertata dengan baik, sehingga mampu melahirkan pemerintahan yang unggul. Kebijakan-kebijakan yang digulirkan untuk umat pun lebih diutamakan dibandingkan kebijakan kenegaraan lainnya.

Sungguh, melalui Khilafah ini, Allah dengan kekuasaan-Nya telah memilih untuk umat ini seorang imam (khalifah) yang berfungsi menggantikan peran kepemimpinan para Nabi dan Rasul. Seorang khalifah juga berperan melindungi agama dan mengatur urusan negara dengan mewujudkan kebijakan sesuai dengan syariat Allah.

Menjabat adalah soal menyebut yang putih adalah putih, dan menyebut yang hitam adalah hitam. Tiada kompromi dalam pelaksanaan hukum syariat. Alih-alih menyalahgunakan kekuasaan. Karena setiap jengkalnya adalah pertanggungjawaban, baik kepada umat yang dipimpin maupun kepada Allah Swt. selaku Asy-Syari’.

Baca juga:  Kebersamaan yang Membahagiakan

Tiada alasan lagi untuk menyebut Khilafah adalah urusan yang kuno, alih-alih menyebutnya mimpi di siang bolong. Karena sejarah telah membuktikan kegemilangannya, dalil-dalil syariat telah menuntun penegakannya, dan tak sedikit ulama yang menuliskan sejarah emas tersebut.

Maka sungguh, Khilafah sangat layak diperjuangkan dan diperhitungkan penegakannya. Cukuplah Allah menjadi penolong dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *