[News] Pegasus Spyware, Kejahatan Israel yang Meluas ke Seluruh Dunia

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Dikutip dari Al-Jazeera (21/7/2021) Pegasus merupakan sistem yang berasal dari perusahaan spyware Israel, NSO Group. Sistem ini dijual dengan puluhan ribu politisi, jurnalis, pengacara, dan aktivis menjadi sasarannya. NSO mengatakan pihaknya mengekspor ke 45 negara dengan persetujuan dari “pemerintah Israel”.

Menurut bukti yang dikumpulkan oleh LSM Forbidden Stories yang berbasis di Paris dan kelompok hak asasi Amnesty International, tampaknya ada 50.000 orang yang ponselnya telah dipilih untuk diintai. Sebagian besar jumlahnya berada di negara-negara Teluk dan Afrika Utara, tetapi negara-negara lain ikut terkena dampak termasuk India, Pakistan, dan Prancis.

Bahkan menurut Voanews (22/7/2021) perangkat lunak itu digunakan untuk melawan para pemimpin pemerintah, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron. Macron telah menyerukan penyelidikan, dan Israel mengatakan pihaknya menunjuk satuan tugas untuk menyelidiki.

Ditulisnya, meskipun NSO mengatakan spyware tersebut untuk membantu menangkap penjahat dan teroris, namun penyelidikan internasional yang dimulai oleh Forbidden Stories dan Amnesty International yang dikenal sebagai Proyek Pegasus, menemukan bahwa spyware telah digunakan secara luas.

Selain itu France24 (18/7/2021) mengabarkan para ahli memperingatkan terkait adanya laporan spyware Pegasus buatan Israel telah digunakan untuk memantau aktivis, jurnalis dan politisi di seluruh dunia yang menjadi sorotan risiko diplomatik karena memelihara dan mengekspor “teknologi yang menindas”.

Setidaknya terdapat daftar 65 eksekutif bisnis, 85 aktivis hak asasi manusia, 189 jurnalis, dan lebih dari 600 politisi dan pejabat pemerintah termasuk kepala negara dan perdana menteri, serta menteri kabinet.

Baca juga:  Lebih dari 6.000 Warga Palestina Ditangkap Israel Selama Tahun 2018

Para ahli Israel menyampaikan sejarah panjang negara itu dalam menggunakan ekspor persenjataan mutakhir untuk membina hubungan diplomatik, tetapi memperingatkan bahwa penjualan sistem pengawasan canggih yang berkembang dapat menyebabkan lebih banyak kerugian daripada keuntungan.

“Ekspor senjata Israel membantu negara itu menjalin semua jenis hubungan,” kata Yoel Guzansky dari Institut Studi Keamanan Nasional di Tel Aviv.

Di sisi lain, Bloomberg (19/7/2021) menuliskan dari Amnesty Internasional bahwa NSO Group terutama menggunakan pusat data Eropa yang dijalankan oleh perusahaan hosting Amerika, termasuk AWS, untuk mengoperasikan banyak infrastruktur serangan bagi pelanggannya.

Kejahatan yang Meluas

Mengkritisi hal ini, aktivis muslim, Bilal Al-Muhajir menilai tampaknya “sihir” telah berbalik melawan “para penyihir”, karena negara-negara Barat telah menanamkan Israel yang bersifat kanker di dalam tubuh dunia muslim untuk melemahkan umat Islam. Negara-negara ini terus mendukung, menyediakan semua sarana kehidupan, sambil memperluas garis hubungan normalisasi dengan negara-negara di kawasan dan sekitarnya.

“Tapi nyatanya, mereka tidak lepas dari bahaya Israel ini, termasuk sahabatnya, seperti Mohammed VI, Emirates, serta mereka yang mendukung normalisasi hubungan dengan Israel, seperti Imran Khan. Bahkan mereka tidak bebas dari bahaya semacam itu. Pegasus spyware memperlihatkan kejahatan Israel meluas melampaui dunia muslim hingga menyerang seluruh dunia,” sorotnya.

Menurutnya orang tidak bisa terkejut dengan sikap Yahudi, karena mereka adalah orang-orang yang membunuh para Nabi (as.) dan menyembah anak sapi. Oleh karenanya, tinggal para intelektual memahami fakta ini, sehingga mereka akan meluruskan urusan mereka ketika berhadapan dengan entitas seperti itu. “Mengambil sikap yang sesuai terhadapnya, atau paling tidak adalah mencabutnya dari akar yang terdalam,” sebutnya.

Baca juga:  Larangan Normalisasi Adalah Perintah Allah SWT

Bahkan, lanjutnya, mereka tetap berada di garis depan dari segala bentuk pengkhianatan. Tidak berhenti menapaki jejak nenek moyang Yahudi mereka yang mengkhianati Nabi Musa (as.) dengan menyembah anak sapi, yang tidak memenuhi perjanjian mereka dengan manusia terbaik, Muhammad (Saw.), dan yang melanggar perjanjian mereka dengannya (Saw.). Sejarah, baik kuno maupun modern, belum pernah menyaksikan mereka mematuhi perjanjian apa pun, baik itu dengan manusia atau Tuhan (Swt.) dari seluruh umat manusia.

“Mereka adalah orang-orang yang membingungkan, berbohong, menipu, dan batil. Mereka menuduh atau mengarang terhadap orang lain, dengan apa yang bukan mereka. Berada di garis depan dalam semua praktik kejahatan, termasuk perdagangan manusia dan prostitusi di seluruh dunia hari ini,” tukasnya

Ia menyatakan semua kejahatan ini sesuai dengan firman Allah (Swt.),

[ ألم تر إلى الذين أوتوا نصيبا من الكتاب يؤمنون بالجبت والطاغوت ويقولون للذين كفروا هؤلاء أهدى من الذين آمنوا أولئك الذين لعنهم الله ومن يلعن الله فلن تجد له نصيرا أم لهم نصيب من الملك فإذا لا يؤتون الناس نقيرا ]

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Alkitab? Mereka percaya kepada Jibt dan Tagut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barang siapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan) ? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (kebajikan) kepada manusia.” (QS An-Nisa’: 51—53)

Baca juga:  Gaza Kembali Terluka, Siapa Sudi Membela?!

Proyek Kolonialis

Untuk menekankan karakteristik jahat dan berbahayanya Israel, ia mengutip pernyataan ahli strategi politik dan pakar opini publik, Dahlia Scheindlin yang menulis di The Guardian,

“Orang Israel sangat menyadari bahwa teknologi mutakhir adalah pendorong besar ekonominya. Selain itu, teknologi Israel sangat penting bagi citra dan identitas nasional negara itu di abad ke-21. Bagi orang Yahudi Israel, hi-tech melambangkan kekhususan. Bagi orang Israel, industri teknologi membuktikan bahwa Israel adalah orang baik dan menetralkan sisi gelap negara tentang pendudukan wilayah Palestina sejak 1967, dan konflik sejak 1948. Tentu saja, konflik tersebut melibatkan banyak pelanggaran hak asasi manusia dan penghancuran demokrasi yang sama yang dilakukan Pegasus di seluruh dunia.”

Namun, ia berpendapat, Scheindlin tidak menyebutkan teknologi ini dan infrastrukturnya berasal dari Amerika. “Dengan kata lain, kejahatan Israel yang penuh kebencian ini adalah percikan api dari Amerika, pemimpin kekufuran di dunia. Oleh karena itu, dunia harus menghadapinya sebagai proyek di antara proyek-proyek kotor kolonialis Amerika,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan