Bagaimana (Upaya) Membangkitkan Umat Islam Saat Ini (Bagian 2/2)

Sambungan dari Bagian 1/2

MuslimahNews.com, HADITSU AL-SHIYAM — Walaupun demikian, bukan berarti bahwa menegakkan pemerintahan di atas dasar suatu pemikiran dilakukan dengan kudeta militer, mengambil alih pemerintahan, dan dibangun di atas landasan suatu pemikiran. Hal ini tidak akan mampu membangkitkan dan pemerintahan seperti itu tidak mungkin bertahan lama.

Yang harus dilakukan adalah mendidik/memahamkan umat, atau mendidik/memahamkan kelompok terkuat di masyarakat dengan pemikiran yang ditujukan untuk membangkitkan umat. Mengadopsi pemikiran tersebut dalam kehidupan, dan arah perjalanan kehidupan didasarkan pada pemikiran ini. Pada saat yang sama dibangun pemerintahan melalui umat, yang berdasarkan pada pemikiran tersebut.

Jika ini dilakukan, akan tercapailah kebangkitan yang pasti. Jadi, pada dasarnya kebangkitan itu bukan bertumpu pada mengambil alih pemerintahannya, tetapi menyatukan umat dengan suatu pemikiran. Menjadikan pemikiran tersebut sebagai arah kehidupannya. Kemudian menguasai pemerintahan dan dibangun di atas landasan pemikiran tersebut.

Dengan demikian, pengambilalihan kekuasaan bukan tujuan dan hal ini tidak boleh dijadikan sebagai tujuan. Ia hanya layak dijadikan sebagai metode (thariqah) untuk mencapai kebangkitan. Selama pendiriannya di dasarkan pada suatu pemikiran, maka kebangkitan akan dapat diraih.

Contoh yang paling gamblang adalah apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah (saw.). Tatkala Allah membangkitkannya dengan risalah Islam, beliau menyeru umat manusia kepada akidah Islam. Ini tidak lain berarti menyeru kepada suatu pemikiran. Tatkala penduduk kota Madinah dari kalangan kabilah Aus dan Khadzraj dapat dipersatukan dengan akidah Islam—yaitu dengan suatu pemikiran, maka jadilah mereka memiliki arah yang menuntun kehidupan mereka. Kemudian pemerintahan Madinah pun diambil alih dan didirikan di atas dasar akidah Islam.

Baca juga:  Peran Gerakan Muslimah dalam Kebangkitan Umat

Demikianlah Rasulullah saw. bersabda,

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sampai mereka mengatakan ‘laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah’, apabila mereka mengucapkannya, maka terpeliharalah darahnya, hartanya, kecuali—ditumpahkan dan diambil—dengan cara yang hak.”

Hadis ini menyeru pada suatu pemikiran. Maka, kebangkitan pun dapat diraih di Kota Madinah, menjalar ke kawasan Arab, lalu melebar kepada bangsa-bangsa yang memeluk Islam—meyakini pemikiran tersebut, serta para penguasanya mengatur dan mengurus urusan rakyat dengan berpijak pada pemikiran tersebut.

Tidak diragukan lagi, umat Islam di seluruh pelosok negeri saat ini mengalami kemerosotan. Umat sudah berusaha bangkit sejak lebih dari 100 tahun lalu, tetapi kebangkitan tidak juga kunjung berhasil hingga saat ini.

Sebabnya adalah, pemerintahan yang ada berdiri di atas dasar peraturan dan perundang-undangan. Pemerintahan itu—baik yang berdiri di atas landasan peraturan dan perundang-undangan selain Islam (peraturan kufur) seperti yang terjadi pada kebanyakan negara muslim saat ini, atau berdiri di atas landasan peraturan dan perundang-undangan Islam dan hukum-hukum syarak, seperti yang dilakukan di sedikit negeri muslim seperti Yaman sebelum revolusi Salal—semuanya mengalami kemunduran. Tidak mampu bangkit. Karena memang pemerintahannya dibangun di atas peraturan, tidak dibangun di atas suatu pemikiran.

Baca juga:  Optimisme Islam di Tahun 2020: Perubahan Menuju Kebangkitan Umat

Meskipun pemerintahan itu dibangun di atas landasan peraturan Islam maupun hukum-hukum syarak, tetap tidak akan mampu bangkit. Yang mampu membangkitkannya hanyalah jika pemerintahan itu dibangun di atas landasan pemikiran Islam, yaitu akidah Islam.

Negara yang dibangun di atas landasan laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah, negara seperti itulah yang mampu bangkit. Jika suatu negara dibangun berlandaskan pada mazhab Abu Hanifah, atau bersandar pada buku karangan Thahthawi, atau berdasarkan pada hukum-hukum syarak, maka negara tersebut sama sekali tidak akan mampu bangkit. Karena sandaran-sandaran tersebut layaknya peraturan dan perundang-undangan yang tidak mendatangkan kebangkitan sedikit pun.

Jadi, negara harus berdiri di atas landasan laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah. Setelah itu barulah mengambil hukum-hukum syarak dengan anggapan hal itu adalah perintah Allah, lalu diterapkan. Itu pun karena mengikuti perintah dan larangan Allah. Jadi, bukan karena adanya kelayakan, bermanfaat, atau ada maslahat, atau alasan-alasan lainnya. Semua itu harus dianggap sebagai sesuatu yang datang dan berasal dari wahyu Allah dan diambil dari makna Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah.

Jika demikian halnya, kebangkitan dapat diraih. Umat Islam saat ini, jika mereka menghendaki kebangkitan, mau tidak mau harus menjadikan akidah Islam sebagai asas yang menjadi arahan kehidupan mereka.

Baca juga:  Bagaimana (Upaya) Membangkitkan Umat Islam Saat Ini (Bagian 1/2)

Di atasnya dibangun pemerintahan dan kekuasaan. Kemudian menyelesaikan seluruh problematik keseharian mereka dengan hukum-hukum yang terpancar dari akidah tadi. Yaitu dengan hukum-hukum syarak, sebagai bagian dari perintah dan larangan Allah. Bukan dengan anggapan lainnya.

Jika ini yang dijalankan, kebangkitan pasti akan muncul. Bahkan kebangkitan yang sahih, bukan sekadar bangkit. Umat Islam pun mampu menggapai puncak kegemilangannya lagi, meraih kembali kepemimpinan internasional untuk yang kedua kalinya.

Demikianlah tata cara membangkitkan umat Islam saat ini dengan kebangkitan yang sahih. Wahai kaum muslimin, dari sinilah kita mulai. [MNews/Rgl]

Sambungan dari Bagian 1/2: https://www.muslimahnews.com/2021/07/30/bagaimana-upaya-membangkitkan-umat-islam-saat-ini-bagian-1-2/

Sumber: Haditsu al-Shiyam

Tinggalkan Balasan