[Tarikh Khulafa] Sikap Amirulmukminin Kala Musibah Kelaparan Menimpa Rakyat


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, TARIKH KHULAFA – Pada masa Kekhalifahan Umar bin Khaththab ra. pada 18 H, kaum muslimin pernah mengalami kelaparan, kekeringan, dan paceklik. Tahun itu disebut tahun Ramadah, karena angin panas menerpa debu hingga beterbangan seperti abu. Pada tahun ini terjadi kelaparan hebat hingga binatang buas berubah menjadi jinak.

Menurut Ibnu Katsir, pada tahun Ramadah terjadi kekeringan yang melanda seluruh wilayah Hijaz, hingga kelaparan hebat melanda umat Islam. Ini menyebabkan banyaknya rakyat yang eksodus ke Madinah. Tak tersisa perbekalan sedikit pun pada penduduk.

Khalifah Berempati dan Mendahulukan Rakyatnya

Kaum muslimin menghadap Amirulmukminin, Umar bin Khaththab ra.. Khalifah memberi mereka makanan, harta, dan sebagainya dari Baitulmal.

Suatu hari Umar ra. menyuruh menyembelih unta dan membagi-bagikan dagingnya kepada penduduk secara merata. Untuk menghormati Khalifah, para petugas menyisakan bagian sembelihan yang terbaik berupa punuk unta dan hatinya untuk Amirulmukminin.

Pada saat hendak makan, Umar ra. melihat ada makanan yang tersedia untuknya. Penuh keheranan Amirulmukminin bertanya kepada pelayannya, “Wahai Aslam, dari manakah makanan ini?” Pembantunya menjawab, “Ini adalah daging unta yang baru saja disembelih hari ini.” Umar bin Khaththab ra. bersegera mengemasi makanan tersebut, sambil berkata, “Wah, hebat sekali Umar! Dia dapat memakan daging yang enak rasanya, sementara di luar sana rakyatnya yang kelaparan hanya mendapatkan tulang-tulangnya.”

Baca juga:  [Tarikh Khilafah] Khalifah Umar bin Khaththab Menetapkan Penanggalan Hijriah

Umar bin Khaththab ra. memanggil pelayannya dan berkata, “Wahai Aslam, singkirkan makanan ini! Ambilkan untukku minyak wijen dan roti seperti biasanya.”

Khalifah Umar bin Khaththab ra. sangat berempati dengan kondisi rakyatnya yang ditimpa kelaparan. Beliau ra. memutuskan tidak akan makan mentega dan daging sampai musibah itu benar-benar hilang.

Di saat tanah Hijaz subur, ia dikirimi roti, susu, dan daging. Namun pada tahun Ramadah, mereka hanya diberi minyak dan cuka. Sebagai kepala negara, Umar ra. sudah merasakan makanan yang dicampur minyak yang sebenarnya tidak membuatnya kenyang, hingga kulitnya kemudian menjadi hitam dan postur tubuhnya berubah.

Di saat perutnya terasa lapar, Amirulmukminin memegang perutnya sambil berkata, “Wahai perut, terbiasalah engkau makan minyak wijen, ingat minyak samin sedang mahal.”

Umar bin Khaththab ra. berpegang teguh pada prinsip, “Biarlah aku yang pertama kali merasakan lapar, dan menjadi orang terakhir yang merasakan kenyang.

Bukan pencitraan atau ucapan di bibir saja, namun pada kenyataannya rakyat menyaksikan sendiri apa yang disampaikan kepala negara mereka ini.

Amirulmukminin Turun Lapang dan Bersegera Memberi Solusi

Imam Ibnu Katsir menyebutkan, kami telah meriwayatkan bahwa suatu malam, Amirulmukminin Umar bin Khaththab ra. melakukan ronda ke sekeliling Madinah pada tahun Ramadah. Khalifah tidak mendapati seorang pun dari rakyatnya yang tertawa. Beliau ra. juga tidak mendengar ada orang yang berbincang-bincang di dalam rumahnya seperti biasanya terjadi. Umar bin Khaththab ra. juga tidak menemui adanya seorang pengemis pun.

Baca juga:  Khilafah Antikritik?

Umar bin Khaththab ra. heran dan menanyakan sebabnya. Dijawab oleh salah seorang, “Wahai Amirulmukminin, para pengemis meminta-minta, namun mereka tidak ada yang memberi. Para pengemis akhirnya memutuskan untuk tidak meminta lagi. Semua manusia berada dalam kegelisahan dan kesempitan hidup. Mereka tidak berbicara dan juga tidak tertawa.”

Umar bin Khaththab ra. lalu menulis surat kepada Abu Musa al Asy’ari di Bashrah agar menolong kaum muslimin di Madinah. Saif Ibnu Umar meriwayatkan dari para gurunya bahwa Abu Ubaidah datang ke Madinah dengan membawa empat ribu hewan yang membawa makanan. Khalifah Umar ra. kemudian memerintahkan agar makanan tersebut dibagikan kepada penduduk di sekitar Madinah.

Doa Pemimpin yang Bertakwa Mustajab

Dalam Shahih Bukhari dari jalur Tsumamah bin Abdillah bin Anas dan Anas bin Malik bahwa saat penduduk mengalami paceklik, Umar bin Khaththab meminta hujan dengan perantara Abbas bin Abdul Muthalib ra..

Umar ra berkata, “Ya Allah, sesungguhnya kami dulu memohon kepada-Mu dengan perantara Nabi kami, lalu Engkau menurunkan hujan atas kami. Sesungguhnya kami sekarang memohon kepada-Mu dengan perantara Paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan bagi kami.” Anas bin Malik mengatakan, “Lalu hujan turun pada mereka.” (HR Bukhari)

Baca juga:  Meneladani Umar bin Khaththab sang Negarawan Sejati

Menurut Ibnu Hajar, Zubair bin Bakkar telah menjelaskan dalam Bab “Ansab” tentang doa Abbas bin Abdul Muthalib ra. dalam peristiwa ini, serta kapan peristiwa ini terjadi.

Ia meriwayatkan dengan sanadnya bahwa ketika Umar bin Khaththab ra. meminta hujan melalui perantaraannya, Abbas ra. berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya musibah tidak menimpa kami kecuali disebabkan dosa kami. Musibah itu pun tidak akan terangkat kecuali dengan tobat. Sesungguhnya mereka memohon kepada-Mu melalui perantara diriku sebab kedudukanku disisi Nabi-Mu, dan inilah tanganku terpanjat kepada-Mu dengan dosa-dosa. Perlindungan kami adalah dengan bertobat. Karena itu turunkanlah hujan bagi kami.”

Kemudian tak berapa lama langit berawan seperti gunung, air hujan turun membasahi bumi yang kering, dan hujan berjalan normal kembali. [MNews/Rgl]

Sumber :

  1. Tarikh Khulafa, Prof. Dr. Ibrahim al Quraibi, Qisthi Press
  2. Hikayah Empat Khalifah, Budi Yuwono, Penerbit Khairul Bayaan

Tinggalkan Balasan