Fasilitas Isoman Mewah DPR di Tengah Pandemi, Potret Ketakpekaan Pejabat Publik Sistem Kapitalisme


Penulis: Ummu Naira Asfa (Forum Muslimah Indonesia ForMInd)


MuslimahNews.com, OPINI — Rumah sakit-rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Indonesia saat ini masih penuh oleh para pasien Covid-19. Di tengah kondisi ekonomi saat ini yang masih terasa sulit bagi rakyat karena penerapan PPKM, terbit fasilitas isoman di hotel berbintang untuk anggota DPR, para staf dan tenaga ahli yang terpapar Covid-19 dengan gejala ringan maupun yang tidak bergejala.

Hal itu tertuang dalam Surat Sekretariat Jenderal DPR RI Nomor SJ/09596/SETJEN DPR RI/DA/07/2021 tertanggal 26 Juli 2021. Hotel yang dimaksud adalah hotel Oasis di Senen dan Ibis di Jalan Latumenten (Raya), Jakarta.

Penyediaan hotel buat isolasi mendiri bagi anggota DPR dialasi oleh Surat Edaran (SE) Dirjen Perbendaharaan Negara No. 308/2020 dan SE Dirjen Perbendaharaan Negara No. 369/2020 (liputan6.com, 28/07/2021). Biaya penyediaan fasilitas hotel untuk isoman tersebut diambil dari anggaran perjalanan dinas anggota DPR ke luar negeri. (liputan6.com, 27/07/2021)

Kebijakan tersebut menuai protes Ketua Jaringan Aktivis ’98, Imanuel Ebenezer atau Noel yang menurutnya para anggota DPR harusnya memikirkan rakyat. DPR harusnya menjadi lini terdepan dalam memberikan bantuan untuk masyarakat yang terpapar Covid-19. Bukan justru menikmati fasilitas eksklusif ini.

Ketakpekaan Pemimpin di Sistem Kapitalisme

Kondisi pandemi Covid-19 yang dampaknya dirasakan oleh semua kalangan di Indonesia telah menggugah empati warga untuk saling berbagi dengan sesama. Para filantropis berbondong-bondong menggali dana swadaya dari rakyat dan individu untuk membantu warga lain yang sedang isoman atau terdampak kebijakan PPKM.

Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Bersama Untuk Warga yang membagikan bantuan berupa makanan, sembako, dan alat kesehatan bagi masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 (sindonews.com, 08/07/2021), Universitas Budi Luhur yang memberikan paket isoman gratis selama masa PPKM, dan masih banyak lagi.

Seharusnya dalam kondisi seperti ini, pemerintah dan DPR bisa bersikap lebih bijaksana dan meningkatkan empatinya kepada rakyat yang terdampak Covid-19. Kritikan atau protes yang disampaikan oleh Ketua Jaringan Aktivis ’98 sebagaimana tersebut di atas ada benarnya. Paket eksklusif isoman yang disediakan kepada anggota DPR dapat diberikan kepada rakyat untuk menambah paket bantuan sembako atau kebutuhan pokok rakyat yang nyata-nyata mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya selama masa PPKM ini. Dikhawatirkan, kebijakan tersebut semakin menambah ketakpercayaan rakyat (distrust) kepada para pejabat dan penguasa di negeri ini, karena ketakpekaan para pemimpin.

Pemimpin dalam Islam Sangat Amanah dan Peka terhadap Rakyat

Sistem Islam kafah menghasilkan pemimpin yang amanah dan peka terhadap kondisi rakyatnya. Para pemimpin menjalankan tugasnya dengan penuh kesungguhan karena dilandasi keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Para pemimpin Islam (harus) menyadari bahwa pelaksanaan semua tugasnya akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Swt di akhirat.

Abdullah bin Umar mengatakan, Rasulullah saw. berkata,

“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka.”

“Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka, seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka.”

“Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Maka setiap dari kalian adalah adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Abu Dawud)

Jamak kita ketahui gambaran pemimpin dalam sistem pemerintahan Islam yang sangat peka terhadap rakyatnya adalah Khalifah Umar bin Khaththab ra.. Beliau sigap mengecek kondisi semua warganya jangan sampai ada yang kelaparan.

Hingga suatu malam, beliau mendengar suara tangisan anak kecil dari sebuah rumah warganya. Setelah didatangi, ternyata warganya tersebut kelaparan. Langsung saja Khalifah Umar ra, mengambil bahan makanan langsung ke gudang milik negara dan memanggul serta mengantarkannya sendiri kepada warganya yang kelaparan tersebut.

Juga saat kondisi paceklik, Khalifah Umar ra. rela makan dengan menu roti dan tidak mau memakan daging karena kondisi rakyatnya sedang prihatin.

Kepekaan Pemimpin dalam Sistem Islam Mempercepat Upaya Penyelesaian Wabah

Kepedulian seorang pemimpin yang luar biasa ini didukung oleh penerapan sistem kehidupan dan pemerintahan yang juga islami. Suasana keimanan menyelimuti kesadaran para pemimpinnya. Rakyat juga terkondisikan dengan suasana kepedulian terhadap sesama, saling menolong dan tidak individualis. Semua berjalan seiring sejalan.

Rakyat sangat menghargai dan menghormati pemimpin, sebaliknya pemimpin empati terhadap rakyat. Bagaimanapun semua ini tidak akan kita dapati dalam sistem kapitalisme sekarang yang cenderung membentuk individu dan pemimpin yang individualistis.

Kondisi pandemi yang sulit saat ini butuh kepekaan pemimpinnya. Butuh pemimpin yang empati terhadap rakyat, mau “puasa” demi rakyat, tidak berfoya-foya di atas penderitaan rakyatnya. Semua pihak bahu-membahu demi suksesnya segala upaya memutus penularan Covid-19 dan untuk mempercepat upaya penyelesaian pandemi.

Dalam konsep sistem Islam kafah, sumber daya dan dana yang dimiliki negara dialokasikan secara khusus untuk penanganan wabah ini. Disalurkan kepada rakyat dengan tepat, amanah, tidak dikorupsi sepeser pun. Semua dilandasi pentingnya menjaga nyawa manusia dana berharganya nyawa warga negara, apalagi nyawa seorang muslim.

Allah Swt. berfirman, “Barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS Al-Maidah: 32 [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan