Mewujudkan Perdamaian Global Hakiki


Penulis: Wiwing Noeraini


MuslimahNews.com, FOKUS — Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menawarkan strategi perdamaian global model NU di International Religious Freedom (IRF) Summit di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (15/7).

Menurut Gus yahya, dinamika internasional hari ini telah mengarah pada perwujudan satu peradaban global yang tunggal dan saling berbaur, yang akan memicu permusuhan dan kekerasan.  Oleh karena itu, ia mendorong berbagai elemen di dunia menemukan cara untuk mengelolanya sebelum telanjur meletus konflik global yang kian parah.

Untuk mengatasi hal itu, ia menawarkan strategi dan model perdamaian dunia sebagaimana yang selama ini telah dipraktikkan oleh kalangan NU.  Terlebih dulu harus diidentifikasi lebih dahulu nilai-nilai apa yang selama ini telah menjadi kesepakatan bersama.  “Saya bisa sebut nilai-nilai kejujuran, kasih-sayang dan keadilan, adalah nilai-nilai yang pasti kita sepakati secara universal,” ujarnya.

Selanjutnya, jelas Gus Yahya, dunia harus membangun konsensus atas nilai-nilai yang perlu disepakati agar semua pihak yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan secara damai. Bahkan bila diperlukan, nilai-nilai tradisional yang menghambat koeksistensi damai pun layak untuk diubah.  https://www.antaranews.com/berita/2272978/gus-yahya-tawarkan-strategi-perdamaian-global-model-nu-di-irf-summit

Jika peradaban tunggal  yang dimaksud Gus Yahya  adalah peradaban Islam dengan Khilafah sebagai institusi yang melahirkannya, maka sungguh ini sangat disayangkan. Kenapa masih  ada di antara umat muslim  yang khawatir tegaknya Khilafah akan memunculkan konflik dan permusuhan.  Hal ini menyalahi realita sejarah.

Daulah Khilafah Bukan Ancaman

Sejarah telah mencatat bahwa peradaban Islam  pernah mencapai masa  keemasan  di masa kekhilafahan Islam  selama berabad abad  lamanya. Daulah Khilafah adalah negara yang tidak menebarkan permusuhan dan kekerasan. Di dalam daulah ini, toleransi sesuai syariat Islam yang diterapkan mampu menjadikan pemeluk agama  islam dan agama lainnya bisa hidup berdampingan secara damai. Hal tersebut diakui  oleh dunia.

T.W. Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam”,  menyebutkan tentang perlakuan yang baik-toleran diterima oleh non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah. Dia menyatakan, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen”.

Selanjutnya Arnold menjelaskan; “Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman –selama kurang lebih dua abad setelah penaklukkanYunani- telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.

Peradaban tersebut lahir dari penerapan syariat islam dalam segala aspek kehidupan yang dilakukan oleh negara Khilafah. Karenanya,  Khilafah jelas bukan ancaman, ia telah mewujudkan sebuah peradaban unggul  yang  menciptakan perdamaian global yang dicita-citakan oleh setiap umat manusia dari agama manapun.

Baca juga:  Meraih Kemerdekaan Hakiki

Perdamaian, Mungkinkah Dengan Kesepakatan?

Perdamaian dunia adalah cita cita bersama semua bangsa. Tak ada bangsa yang tak ingin hidup berdampingan secara damai dengan bangsa lainnya. Maka wajar  jika perdamaian menjadi salah satu topik yang  banyak dibincangkan di berbagai forum internasional. Tapi bagaimana mewujudkan perdamaian yang hakiki? Mungkinkah perdamaian itu terwujud hanya dengan sepakatnya berbagai bangsa dan negara terhadap nilai nilai universal?

Mari kita lihat realitanya, apakah mungkin berbagai konflik di dunia hari ini diselesaikan hanya dengan kesepakatan.   Lihatlah Konflik Palestina-Israel, mungkinkah selesai hanya dengan kata sepakat?  Nyatanya tidak. Jangankan sepakat terhadap nilai nilai universal, bahkan setiap perjanjian  dibuat, tak lama kemudian Israel mengkhianatinya.

Kemudian berbagai konflik berujung penderitaan yang dialami umat muslim di Uighur, Rohingya dan India,  mungkinkah selesai  dengan  kesepakatan akan nilai nilai universal? Jelas tidak. Selama penguasa (rezim) dan mayoritas penduduk di sana sebagai pihak yang kuat masih menindas pihak yang lemah (dalam hal ini adalah umat muslim) , dan selama penindasan itu menjadi pemikiran yang diadopsi oleh pihak yang kuat, maka tak akan pernah ada kesepakatan.

Selama ada penderitaan yang dialami satu umat manusia akibat umat manusia lainnya, tak akan pernah terwujud perdamaian dunia yang hakiki.  Yang ada adalah perdamaian semu, di mana pihak yang lemah dipaksa untuk berdamai oleh pihak yang kuat.  Perdamaian seperti ini tak akan bertahan lama. Pihak yang lemah secara alami pasti akan berusaha menghilangkan  penindasan yang dialaminya, karenanya wajar jika konflik konflik akan terus terjadi.

Maka mewujudkan perdamaian dunia  tak cukup hanya dengan kesepakatan, tapi harus dengan menghentikan penindasan dan ketidak adilan yang menyebabkan penderitaan umat manusia di dunia hari ini.

Sebab Penderitaan Dunia

Di dalam Kitabnya  Mafaahim Siyasiyah  Li Hizbit At-Tahriir, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani  menjelaskan  bahwa  ada tiga sebab penderitaan dunia hari ini yang menyebabkan  dunia terus dilanda konflik berkepanjangan yaitu karena khurafat keluarga internasional, cengkeraman dan dominasi negara negara adidaya,  dan adanya imperialisme (penjajahan) dan monopoli.

Dari ketiga sebab tersebut, yang paling mudah untuk bisa  kita perhatikan adalah sebab ke tiga, yaitu imperialisme (penjajahan).  Tak akan pernah terwujud perdamaian dunia selama  masih ada  penjajahan (imperialisme) atau perampasan kekayaan bangsa bangsa dan penghinaan bangsa bangsa dalam berbagai bentuk dan cara.

Baca juga:  [Editorial] Merdeka dari Kotak Kejumudan

Di dalam Kitab Ini juga dijelaskan bahwa negara negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin, sekalipun mereka secara fisik sudah dimerdekakan,  tapi sebenarnya mereka masih  dijajah oleh negara negara adidaya (seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan sebagainya-pen).  Mereka telah dijajah dengan penjajahan gaya baru (neoimperialisme), yang tidak lagi bertumpu pada dominasi militer (sebagaimana yang terjadi pada ‘penjajahan gaya lama’), melainkan bertumpu pada aspek aspek lainnya.

Yang demkian itu di antaranya adalah aspek ekonomi, dengan melalui jerat hutang luar negeri , berbagai perjanjian ekonomi dan perdagangan, dan apa yang dinamakan dengan “rencana pembangunan”   dan lain lain disamping tekanan politik dan embargo embargo.  Negara negara adidaya melakukannya karena meyakini imperialsme sebagai pemikirannya dan menggunakan kekuatan untuk mewujudkannya.

Karena itu, harus ada upaya menghilangkan imperialisme, dengan cara itulah perdamaian dunia bisa terwujud.  Dan karena  imperialisme adalah bagian yang tak terpisahkan dari ideologi kapitalisme, maka menghancurkan imperialsme hanya bisa dilakukan dengan menghancurkan kapitalisme.

Islam adalah satu satunya solusi untuk menghapuskan imperialisme dan menghancurkan kapitalisme. Solusi Islam ini bertumpu pada upaya menawarkan pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup ke kancah perdebatan dunia.  Perdebatan dunia tentang pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup inilah yang akan mengubah dan  menghilangkan konsep-konsep yang keliru termasuk imperialisme. Imperialisme tidak akan bisa dihancurkan kecuali dengan mengubah konsep hidupnya. Inilah satu-satunya solusi yang efektif terhadap imperialisme.

Tetapi solusi ini tidak mungkin dapat diterapkan secara praktis kecuali dengan adanya Daulah Islam yang kuat di panggung internasional. Daulah islam akan membangun opini yang benar tentang buruknya imperialisme sehingga harus ditolak dan ditentang oleh semua bangsa. Imperialisme yang telah mencengkeram dunia selama berabad-abad itu haruslah dibatasi. Harus pula diwujudkan sebuah negara yang mampu membatasinya , yaitu negara Khilafah Islamiyah. (Kitab Mafaahim Siyasiyah li Hizbi At-Tahriiri).

Khilafah  Mewujudkan Perdamaian Dunia

Negara Khilafah mampu mewujudkan perdamaian dunia melalui kebijakan   politik luar negerinya, di mana dakwah Islam  menjadi asas negara Khilafah dalam membangun hubungannya dengan negara-negara lain.  Prinsip ini didasarkan pada firman Allah Swt:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

Baca juga:  Merdeka Seharga 75 Ribu?

“Kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita dan pemberi peringatan.” (TQS Saba’ [34]: 28).

Inilah yang menunjukkan bahwa politik luar negeri  Negara Khilafah adalah mengemban dakwah Islam sehingga Islam tersebar luas ke seluruh dunia.

Dengan prinsip inilah maka daulah Khilafah melakukan penaklukan (futuhat) untuk menyebarkan rahmat, bukan untuk menjajah dan menindas. Maka kita bisa lihat dalam catatan sejarah betapa penaklukan Islam membawa kemakmuran dan kesejahteraan di wilayah-wilayah yang ditaklukkannya. Penerapan aturan Islam pada masyarakat yang ditaklukkan membuat mereka tidak pernah merasa berbeda dengan yang menaklukkan mereka.

Daulah islam memberikan jaminan kebutuhan pokok individual seperti sandang pangan dan papan serta kebutuhan pokok kolektif seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan, sama bagi seluruh warganya, tanpa melihat apakah ia muslim maupun nonmuslim.

Diantara pengakuan keadilan dan kesejahteraan yang dirasakan nonmuslim dalam naungan Daulah islam adalah surat yang dikirim oleh kaum Nasrani di Syam, kepada sahabat Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah ra pada tahun 13 H. “Wahai kaum muslimin, kalian lebih kami cintai daripada bangsa Romawi meskipun mereka seagama dengan kami. Kalian lebih menepati janji, lebih berbelas kasih terhadap kami, lebih bersikap adil terhadap kami, dan lebih baik dalam memerintah kami.” (al Baladzuri, Futuh al-Buldan, hlm 139).

Ketika Daulah Khilafah berhasil menjadi sebuah negara adidaya,  Khilafah tidak melakukan hegemoni buruk dan tindakan unilateral yang merugikan. Justru Khilafah menjadi tempat bernaung negara-negara yang lemah dan dizalimi negara musuhnya.

Misalnya, saat di Amerika berkecamuk perang antara Pemerintah Federal Amerika yang baru berdiri dengan Inggris pada abad ke-18, Khilafah Islam memberikan bantuan pangan terhadap rakyat Amerika Serikat yang dilanda kelaparan pascaperang. Surat ucapan terima kasih resmi pemerintah AS tersimpan rapi di Museum Aya Sofia Turki.  Tak hanya itu,  masih banyak catatan sejarah lainnya yang menjadi bukti  bagaimana Daulah Khilafah berupaya mewujudkan perdamaian dunia selama berabad abad lamanya.

Khatimah

Maka jelaslah, tawaran perdamaian global dengan membangun kesepakatan  terhadap nilai – nilai universal  bukanlah solusi.   Perdamaian dunia akan terwujud hanya ketika biang penderitaan umat manusia yaitu imperialisme dengan induknya yaitu kapitalisme dihancurkan. Kemudian hukum hukum Islam diterapkan secara sempurna oleh Daulah Khilafah,  dan Islam disebarkan  ke seluruh pelosok dunia sebagai  rahmatan lil’aalamiin, rahmat bagi seluruh umat manusia. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews]

Tinggalkan Balasan