[Mafahim Islamiyah] Cara Mengubah Mujtama’, Tahap Ketiga: Penegakan Daulah dan Pemberlakuan Hukum


Penulis: Muhammad Husain Abdullah


MuslimahNews.com, MAFAHIM ISLAMIYAH — Rasulullah saw. masih berinteraksi dengan kaum Quraisy dengan interaksi yang sifatnya politis, membuka kebatilan atas apa yang mereka peluk dan keburukan aktivitasnya, serta menerangkan kebenaran yang diturunkan Allah berupa Al-Qur’an sebagai mukjizat.

Kebenaran Islam ini tidak begitu saja diterima oleh mereka, karena masyarakat Makkah sudah terlalu kental dengan pemikiran kufur, juga dikarenakan keras kepalanya pemimpin-pemimpin mereka dan kesombongannya.

Maka, Rasul meminta pertolongan (thalabun nushrah) untuk melindungi dakwah dan rencana pendirian daulah kepada kabilah-kabilah lain yang ada di Makkah dan orang yang pergi ke Makkah pada musim haji, sampai Allah menyiapkan tempat dakwah ini di Madinah Al-Munawarah, yang penduduknya menerima Islam dan memberikan pertolongan kepada Rasul saw. pada Baiat ‘Aqabah Kedua. Kemudian Rasul dan Sahabatnya hijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islamiah.

Tiga tahapan ini berlaku untuk dakwah islamiah di dalam menciptakan masyarakat Islam modern, hal ini adalah thariqah syar’iyah dalam memulai kehidupan yang Islami, tidak boleh ditinggalkannya. Maka, seorang pengemban dakwah yang ingin mengubah masyarakat berdasar asas Islam, wajib baginya paham dengan baik.

Rasul adalah seorang individu di dalam masyarakat Makkah, oleh Allah diberikan kepadanya penghayatan totalitas terhadap Islam, dengan kata lain Islam telah menjasad dalam dirinya baik fikrah maupun thariqah-nya, maka jadilah beliau seorang yang mempunyai jenis pemikiran yang bersih dan suci dan tampaklah thariqah-nya jelas dan lurus.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Hubungan Unsur-Unsur Pembentuk Mujtama’

Sehingga, seseorang yang mempunyai syakhsiyah modern ini, tidak akan tinggal diam untuk selalu bergerak dan memengaruhi bagian-bagian lain dari apa yang ada di sekitarnya dari masyarakat, yakni pemilik syakhsiyah modern ini bergerak untuk menciptakan masyarakat tersebut memiliki syakhsiyah modern. Maka, haruslah terbentuk di dalam kelompoknya sebuah kutlah (grup) yang tersusun dari satu jaringan.

Penopang kutlah tersebut adalah manusia, fikrah, thariqah, yang akan bergerak dalam kutlah tersebut bila ada yang sakit, dan akan segera dideteksi rahasia penyakitnya, kemudian digunakan obat yang manjur yang telah diberikan Allah Tuhan Semesta Alam. Maka, kutlah tersebut akan menyuntikannya, kemudian akan terjadi reaksi internal dalam jaringan-jaringan dan sel-sel antara obat dan akar penyakit dengan terus berjalannya obat yang manjur dan kuat akan melemahkan akar penyakit. Kemudian akan lenyaplah penyakit itu.

Hal ini ibarat tubuh dengan obat yang akan mengalir dalam darah kehidupan, begitu juga akan terjadi di dalam kutlah sebuah keselarasan antara pengemban perubahan dengan peletak nizham mabda yang bersumber pada akidahnya pada saat pelaksanaannya, yang akan bisa menjadikan masyarakat modern yang bangkit, dan masyarakat berikutnya akan melakukan untuk memperoleh kesamaan ide antara peletak nizham dan masyarakat agar kekuatan masyarakat berpindah dengan bercampurnya kepada kutlah, dan dengan begitu akan meliputi kesehatan yang sebenarnya secara totalitas, sehingga tersingkaplah penyakit-penyakit yang ada dan berguguranlah akar-akar penyakitnya dalam aliran darah yang panas.

Baca juga:  Memahami Amal (Aktivitas) menurut Islam (Bagian 3/3)

Dan bagi pengemban di dalam kutlah hendaklah menentukan dan membedakan serta mendiagnosis penyakit-penyakit masyarakat pada tempat perubahan secara teliti. Hal itu dengan cara mengetahui setiap apa yang ada dalam afrad, afkar, masya’ir, dan nizham, serta apa-apa yang ada di dalam gerakan-gerakan intern dan pengaruh-pengaruh ekstern, kemudian mengkaji mabda yang akan digunakan untuk perubahan dengan studi luas dan dalam, lalu dilanjutkan dengan membangun apa yang seharusnya bagi mereka untuk perubahan seperti kutlah (kelompok), dan hendaklah menjauhkan diri membangun sesuatu yang tidak dibutuhkan di tengah berjalannya perubahan walaupun mereka menuntut hukum yang merupakan kelaziman hidup bagi manusia.

Pengemban perubahan hendaklah yakin dengan kebaikan thariqah dan fikrah-nya dengan keyakinan yang tidak akan terlintas padanya keraguan dan kebimbangan dan

hendaknya tidak berpengaruh dalam cita-citanya kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, dan haruslah sabar disebabkan lama dan panjangnya thariqah yang harus ditempuh, sehingga seperti apa yang difirmankan Allah,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan macam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah sangat dekat.” (QS Al-Baqarah: 214)

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Al-Mujtama' (Masyarakat)

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS Al-Ahzab: 23)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka khalifah di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itu orang-orang yang fasik.” (QS An-Nuur: 55) [MNews/Rgl]

Sumber: Mafahim Islamiyah, Muhammad Husain Abdullah

Tinggalkan Balasan