Dulu Ahmadiyah, Sekarang Baha’i, atas Nama Toleransi Semua Lestari


Penulis: Kanti Rahmillah, M.Si.


MuslimahNews.com, OPINI —

Tak ada angin dan tak ada hujan, video yang dibuat oleh Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas mendadak viral. Video tersebut berisiskan ucapan resmi Menag sebagai wakil pemerintah RI dalam rangka mengucapkan selamat hari raya Baha’i “New Ruz 178 EB” pada umat Baha’i. Menag Yaqut menyampaikan pesan persatuan seluruh elemen bangsa dan menekankan pentingnya moderasi beragama.

Video tersebut disorot oleh warga lantaran agama Baha’i telah dinyatakan sesat oleh MUI. Lalu mengapa Menag mengucapkan selamat hari raya? Selain itu, netizen pun dibuat bertanya-tanya, mengapa video yang diupload 26 Maret 2021 di kanal resmi Baha’i Indonesia ini mendadak viral di tanggal 27 Juli 2021?

Apalagi jika kita tengok keberadaan Baha’i di Indonesia yang sudah cukup lama, mengapa tahun kemarin Menag tidak mengucapkan selamat? Mengapa baru tahun ini? Wajar saja masyarakat berspekulasi, jangan-jangan ini adalah upaya pengalihan isu. Pasalnya, pemerintah tengah menjadi sorotan tajam atas kegagalannya dalam menanggulangi pandemi.

Moderasi Agama

Terlepas dari apakah video ucapan Menag merupakan pengalihan isu atau bukan. Namun realitasnya, persoalan pandemi memang semakin membelukar. Dan upaya moderasi beragama yang dianggap sebagai kunci terciptanya toleransi beragama, massif dilakukan.

Menag Yaqut mengatakan bahwa sikap moderat dalam beragama atau moderasi beragama diyakini dapat memupuk sikap toleransi dan kerukunan umat beragama. Oleh karenanya, Yaqut berharap kepada seluruh umat beragama untuk memiliki cara pandang, sikap dan praktik beragama dalam perspektif jalan tengah. Inilah yang akan melindungi martabat manusia. (tribunnews.com, 18/5/2021)

Sehingga ucapan selamat hari raya pada agama lain, termasuk berdoa lintas agama, merupakan wujud dari toleransi beragama itu sendiri. Toleransi seperti yang demikian, hanya akan lahir dari pemahaman agama yang moderat yaitu menganggap semua agama sama (pluralisme). Lalu berujung pada pencampuradukan ajaran agama-agama (sinkretisme). Benarkah moderasi Kunci dari Toleransi?

Baha’i Sesat dan Dipelihara

Seperti ingin mengikuti jejak pendahulunya, ucapan selamat hari raya menag yaqut pada pengikut Baha’i pun menuai kontroversi. Pasalnya, tahun 2014 silam, saat menag Lukman Hakim Saifuddin belum masuk penjara tersebab korupsi.

Menag Lukman meminta Kemendagri untuk memberikan pelayanan administrasi pada penganut Baha’i, karena mereka adalah warga negara yang hak beragamanya dijamin oleh konstitusi. Ini pula yang menjadi alasan kehadiran menag yaqut di acara komunitas Baha’i, semata untuk menjamin kehidupan warganya. Sontak keduanya mendapatkan sorotan masyarakat.

Karena MUI sendiri telah menyatakan agama Baha’i yang berasal dari Iran ini sebagai agama sesat yang menyeleweng dari koridor islam. Alasannya, Baha’i termasuk ke dalam 11 kriteria aliran sesat yang telah ditetapkan MUI. Salah satu kriteria aliran sesat yaitu adanya pengakuan nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW. (republika.co.id, 2014)

Sehingga Baha’i mirip dengan Ahmadiyah, termasuk sesat karena mengakui adanya nabi setelah nabi Muhammad. Karena telah jelas disebutkan oleh Allah Swt, bahwa tidak ada nabi setelah nabi Muhammad saw.

Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (TQS Al Ahzab; 40)

Begitupun Buya Hamka dalam buku Pelajaran Agama Islam (PAI) yang terbit pertama pada 1956 menulis bahwa Ahmadiyah dan Baha’i adalah dua aliran sesat. Lantas mengapa Ahmadiah dan juga Baha’i terus eksis dan seolah dilestarikan? Walau banyak ulama mengatakan bahwa kedua agama tersebut sesat?

Masih dalam buku PAI karya Buya Hamka yang terbit pertama kali di tahun 1956, Buya menjelaskan bahwa lahirnya nabi palsu pada zaman modern tidak lepas dari dukungan kolonial inggris untuk melemahkan perlawanan umat islam. Sehingga adanya agama sesat seperti Baha’i memang akan terus “dipelihara”.

Moderasi Beragama Lahirkan Islam Moderat

Istilah “moderat” atau “jalan tengah” bukanlah gagasan yang berasal dari islam. Paham ini mulai popular di abad pembaharuan atau sering kita sebut Renaisans. Pertarungan gerejawan yang menguasai pemerintahan versus para pemikir yang menginginkan adanya penghapusan peran agama dalam kehidupan, melahirkan paham sekulerisme.

Paham sekuler inilah yang menjadi ruh moderasi beragama, yang itu akan melahirkan pemahaman islam moderat. Islam moderat merupakan istilah politik untuk melawan islam. Maka kemunculannya tak bisa dilepaskan dari agenda war on terrorism yang digunakan AS pasca hancurnya WTC.

Adapun tujuan di balik moderasi islam, menurut Fathiy Syamsuddin Ramadlan An Nawiy setidaknya ada empat poin. Pertama deislamisasi, yakni merusak agama islam. Khususnya ajaran yang bertentangan dengan prinsip demokrasi-sekuler-liberal dan kepentingan Barat.

Misalnya khilafah, para sahabat tabi’un, tabi’ut tabi’in dan era imam-imam besar, tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiaban menerapkan islam secara kaffah. Namun hari ini, Khilafah dimonsterisasi atas nama moderasi.

Kedua, menguatkan islam ala barat. Sehingga umat muslim bisa menerima demokrasi-sekulerisme-liberalisme, HAM dan pandangan-pandangan menyimpang versi barat.

Ketiga, mengokohkan eksistensi kapitalisme barat. Islam politik yang ditinggalkan, menjadikan umat tak peduli SDA nya dicaplok asing. Negeri muslim pun tak kuasa melindungi kekayaannya sendiri akibat kebijakannya yang disetir korporasi. Padahal SDA melimpah adalah milik umat yang haram dikuasai swasta apalagi asing.

Keempat, moderasi islam juga diarahkan untuk menghalang-halangi dalam perjuangan penerapan syariat Islam. Lihatlah atas nama moderasi, dakwah Islam terkekang. Dakwah Islam seolah harus sesuai dengan keinginan penguasa. Sehingga kriminalitas terhadap ulama kerap terjadi di negeri para santri ini.

Sungguh malang nasib negeri gemah Ripah loh jinawi ini. Sudahlah kekayaannya dikeruk, aqidahnya pun terancam binasa. Maka dari itu, moderasi beragama justru hanya akan memperburuk kondisi umat. Mustahil akan tercipta kerukunan antar warga negara.

Toleransi dalam Islam

Dalam kacamata Islam, makna toleransi kepada sesama manusia adalah menghormati keyakinannya, karena Islam adalah agama rahmatan lil alamin, agama pembawa rahmat bagi seluruh dunia, tak terkecuali nonMuslim. Hal ini dicontohkan oleh Rosulullah SAW, beliau berjual beli dengan non Muslim, mengunjungi tetangga yang sedang sakit, walaupun tetangganya adalah kafir.

Contoh lain, toleransi pada masa Utsmani yang diakui kebenarannya oleh seorang orientalis Inggris, TW Arnold dalam bukunya, “The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, 1896, hlm. 134” menyatakan bahwa “Perlakuan terhadap warga kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani –selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani- telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa”.

Namun, toleransi Islam tidak bermakna menerima keyakinan yang bertentangan dengan islam. Imam as-syaukani dalam Fath al-Qodir berkata, Abd ibnu Humaid, Ibnu al-mundzir dan Ibnu Mardawaih mengeluarkan Riwayat dari Ibnu Abbas bahwa orang Quraisy pornah meminta kepada Rasul Saw, “Andai engkau menerima tuhan-tuhan kami, niscaya kami menyembah tuhanmu.” Menjawab itu, Allah Swt menurunkan firman-Nya, surat al-Kafirun, hingga ayat terakhir:

“Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku.” (TQS Al Kafirun:6)

Dengan demikian, toleransi yang lahir dari pemahaman islam moderat hanyalah ilusi. Sedangkan toleransi yang lahir dari sang pencipa adalah solusi atas kerukunan antar warga. Lebih dari sekedar rukun, sistem pemerintahan yang menerapkan Islam secara kafah akan mampu mensejahterakan umat. [MNews]

Tinggalkan Balasan