[Mafahim Islamiyah] Cara Mengubah Mujtama’, Tahap Kedua: Tafa’ul/Interaksi


Penulis: Muhammad Husain Abdullah


MuslimahNews.com, MAFAHIM ISLAMIYAH — Dari apa yang dijadikan thariqah Rasul dan thariqah para Sahabat yang memang lain dari kebiasaan masyarakat jahiliah pada waktu itu kemudian dikenal oleh masyarakat Makkah dengan agama baru, maka mulailah individu-individu dari masyarakat Makkah, baik laki-laki maupun perempuan, masuk Islam secara berbondong-bondong, hingga tersebar di Makkah, sehingga makin banyak orang-orang Makkah membicarakan agama ini lalu Allah menurunkan wahyu,

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS Al-Hijr: 94)

Dan Allah menurunkan ayat,

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS Asy-Syu’araa: 214—215)

Dan mulailah Rasulullah saw. berdakwah dengan terang-terangan serta memulai al-kifah al-siyasi (interaksi politik), dan menjelaskan kelemahan menyembah Tuhan-Tuhan orang Quraisy dan menunjukkan kebodohan pemikiran mereka, serta mengingatkan bahwa aktivitas mereka adalah jelek.

Maka, para pemimpin Quraisy mendatangi paman Rasul saw. Abu Thalib untuk mengadu, agar kemenakannya itu menghentikan dakwahnya. Ketika Abu Thalib mengemukakan pendapat dari pemimpin Quraisy kepada Rasul saw., beliau (saw.) menjawab,

”Wahai pamanku, demi Allah, jikalau mereka meletakkan matahari pada tangan kananku dan bulan pada tangan kiriku, untuk meninggalkan agama ini, saya tidak akan meninggalkannya, sampai Allah akan menunjukkan kemenangan agama ini atau menghancurkannya.”

Sikap yang teguh hati dan mantap ini menjadikan Abu Thalib berkata kepada Muhammad,

“Pergilah dan laksanakanlah hai anak saudaraku (Muhammad) dan katakanlah apa yang kamu senangi (berdakwahlah sekehendakmu), maka aku akan menjagamu dari gangguan sesuatu selama aku hidup.”

Orang Quraisy berusaha dengan beragam cara untuk menghentikan dakwah dari agama baru ini, maka mereka mencoba dengan metode politis. Walid bin Mughirah menyebarkan berita bahwa Muhammad itu penyihir, dan yang lebih parah lagi dengan cara memisahkan anak, saudara, istri, dan karib kerabat yang masuk Islam atau memasang jerat bagi orang muslim yang masuk ke daerah Makkah ketika Musim Haji.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Al-Mujtama’ Ghairu Mutamayyiz

Tetapi, dakwah Islam dengan pengemban dakwah yang tangguh dan pantang menyerah tetap menyebar ke daerah Arab, Bahkan Rasulullah (saw.) walaupun dilempari dengan berbagai macam kejelekan, seperti tukang sihir, orang gila, pembual, dan lainnya, beliau tidak pernah mundur.

Pada suatu saat, orang musyrikin bertanya kepada Nabi, “Apakah kamu yang mengatakan ini dan itu kepada sembahan kami dan agama kami?” Rasul menjawab, “Betul saya yang mengatakan itu.” Maka, dengan marah orang musyrik itu bergerak mau membunuh Nabi, dengan sigap Abu Bakar menghalanginya dan berkata, “Apakah kamu akan membunuh seseorang yang mengatakan Tuhanku adalah Allah?”

Cara lain juga digunakan untuk membujuk Nabi, disodorkan kepada Nabi kemuliaan, kerajaan, dan harta kekayaan, tetapi Rasul tidak memberi respons kepada iming-iming mereka. Juga Nabi diuji mereka dengan perintah agar Allah membuatkan sungai seperti Sungai Syam dan Irak dan menghidupkan nenek moyangnya yang telah mati, membuatkan sebuah istana agar Allah memberikan rezeki mereka harta emas dan perak yang diturunkan dari langit, maka jawab Rasul,

“Aku diutus bukan untuk urusan seperti yang kamu minta, akan tetapi aku diutus untuk menyampaikan risalah ini kepada kamu sekalian. Maka, jika kamu menerima ini, berarti inilah keuntunganmu di dunia dan di akhirat. Akan tetapi, jika kamu menolak, kita tunggu saja sampai Allah mengadili kita semua.”

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Al-Idrak (Pemikiran) Bagian 2/3

Kemudian mereka berusaha memalingkan manusia dari Islam dan dari Muhammad, serta dari membaca dan mendengar Al-Qur’an dengan cara menyuruh Nadhar bin Harits sebagai seorang pendongeng ulung untuk mendongengkan tentang cerita-cerita raja-raja Persia, akan tetapi semua tipu daya, semua kesulitan, dan semua gangguan dan teror tidak menggoyahkan hikmah Rasul saw..

Pada waktu kabilah-kabilah Makkah takut kepada Abu Thalib, Bani Hasyim, dan Bani Abdi Manaf, mereka tidak terlalu menyakiti Rasul, akan tetapi mereka menyakiti orang-orang muslim yang lemah yang ada pada kabilah mereka, dengan siksaan dan pukulan, tidak memberi mereka makan dan minum, untuk memalingkan mereka dari agamanya.

Dari pedihnya siksaan, ada di antara mereka yang tidak kuat sehingga berpaling, juga ada yang kuat dan teguh hingga akhirnya mati. Melihat kondisi seperti ini, Rasul berkata kepada mereka,

“Jikalau Anda sekalian masuk ke Bumi Habasyah, di sana ada raja yang tidak menzalimi seorang pun dan itulah bumi yang baik, hingga di sana Allah akan memberikan kepada Anda kegembiraan dan kelonggaran.” Maka, itulah hijrah pertama kaum muslimin.

Akan tetapi ternyata, hingga hijrah pun kaum musyrikin Makkah mendengar hal ini, karena hasad yang tidak pernah hilang untuk mematikan dakwah Islam. Mereka mengejar kaum muslimin dengan mendatangi rajanya, akan tetapi raja Najasy menolak dan menyelamatkan kaum muslimin.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Jenjang Qimah/Nilai

Melihat kondisi kaum muslimin yang aman di daerah Raja Najasi, dan banyak kaum dari kabilah mereka yang masuk Islam, ditambah dengan masuk Islamnya Umar bin Khaththab dan Hamzah—dua pendekar Quraisy yang gagah berani—, mereka bersepakat untuk melarang tiap orang dari kabilahnya menikah atau menikahkan dengan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, juga mengadakan embargo ekonomi dengan melarang jual beli dan aktivitas lain yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari. Itu semua diarahkan agar Rasul kosong dari perlindungan maupun pengikut.

Sesudah berusaha menentang sekuat tenaga seperti di atas tidak berhasil, mereka mengeluarkan ide kerja sama saling bergantian beribadah, maka turunlah ayat,

“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS Al-Kaafiruun: 1—6)

Rasulullah beserta para Sahabat tetap mengadakan interaksi siyasi (politik) untuk mengadakan perubahan, tanpa henti-hentinya menghadapi penipuan dan kesulitan, dan semua itu dianggap sebagai tantangan dakwah yang tidak menghilangkan ‘azzam-nya untuk tetap berjuang. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 3/3: Tahap Ketiga: Penegakan Daulah dan Pemberlakuan Hukum

Sumber: Mafahim Islamiyah, Muhammad Husain Abdullah

Tinggalkan Balasan