[Mafahim Islamiyah] Cara Mengubah Mujtama’, Tahap Pertama: Pembentukan Syakhsiyah dengan Durus dan Taklim

 


Penulis: Muhammad Husain Abdullah


MuslimahNews.com, MAFAHIM ISLAMIYAH — Sesungguhnya masyarakat yang tersusun dari empat unsur, menyamai seperti gelas tipis yang penuh berisi zat cair, al-afrad atau individu-individu yang ada pada masyarakat sebagai gelas kacanya, sedangkan afkar, masya’ir dan nizham sebagai zat cair. Gelas itu akan terlihat bagaimana warnanya sesuai dengan warna zat cair yang ada dalam gelas.

Perubahan masyarakat tidak dimaksudkan mengubah warna zat cair yang ada di dalam gelas dengan mencampurkan warna celupan tertentu ke dalam zat cair itu akan tetapi maksud perubahan adalah menumpahkan zat cair yang ada di dalam gelas seluruhnya, kemudian dituangkan zat cair baru yang dikehendaki ke dalam gelas tersebut.

Begitulah perubahan masyarakat dengan perubahan totalitas sampai akar-akarnya, maka berubahlah warna masyarakat, karena afkar dan masya’ir dan nizham bagi kelompok masyarakat itu adalah yang membatasi macam dari masyarakat dan warna masyarakat.

Maka jikalau kita menginginkan mengubah masyarakat yang tidak modern menuju masyarakat modern dan bangkit, prinsip pertama yang harus kita mulai adalah menumpahkan zat cair yang ada di dalam gelas dan itu maksudnya adalah dengan memberi keterangan yang bisa memuaskan dan memahamkan mereka tentang kelemahan, tidak benar, dan tidak ada maslahatnya afkar, masya’ir dan nizham yang ada atau yang mereka gunakan sekarang ini.

Lalu menumpahkan zat cair baru pada tempat di mana zat cair yang telah ditumpahkan tadi. Maksudnya memberikan kepuasan keterangan kepada individu-individu dengan afkar, masya’ir, dan nizham yang baru yang seperti kita kehendaki untuk diterapkan pada masyarakat.

Setiap mabda mempunyai thariqah untuk mengubah masyarakat, seperti kapitalis thariqah-nya adalah penjajahan, baik fisik, ekonomi, politik, dan lainnya. Sedangkan komunis thariqah-nya adalah menciptakan gap atau jurang kontradiksi (biasanya antara proletar dan borjuis), dan Islam thariqah-nya adalah jihad yakni mengemban akidah islamiah kepada manusia dalam bentuk pengupasan dan penghancuran pembatas-pembatas madiyah yang membelit mereka. Sabda Nabi saw.,

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Al-Idrak (Pemikiran) Bagian 2/3

“Saya diutus untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laailaahaillallah Muhammadurrasulullah, maka jika mereka telah mengucapkan kalimat itu berarti mereka telah saya lindungi dan haram darah dan hartanya dengan hak.” (Al-Hadis)

Dan thariqah-thariqah perubahan ini digunakan sebelum pemilik tiga mabda pada waktu adanya daulah sebagai mabda, dan ini tampak jelas ketika kemenangan Islam setelah pendirian daulah Islamiyah di Madinah, dan juga tampak ketika perang dunia I dan perang dunia II yang dinisbahkan perang mabda kapitalis dan mabda komunisme, di mana mereka mengadakan perjanjian dunia setelah peperangan dahsyat melawan daulah Utsmaniyah dan melawan Jerman serta Italia.

Adapun ketika hilangnya daulah yang diemban sebagai mabda, maka di sini mulai ada perbedaan thariqah untuk mendapatkan mabda lagi dalam kehidupan, dalam rangka eksistensi daulah, yakni bagaimana mewujudkan kembali mabda dalam kehidupan dan menciptakan masyarakat modern yang mengemban mabda.

Sesungguhnya mabda ditinjau dari aspek pembinaannya yaitu dari akidah aqliyah yang akan terpancar darinya nizham, di mana nizham yang terpancar dari akidah sebagai tumbuhnya batang dari biji. Dan mabda dari aspek pelaksanaannya haruslah adanya satu jenis fikrah dan thariqah.

Fikrah mencakup akidah dan bagian dari nizham, yaitu mu’alajah (problem solving). Thariqah adalah bagian lain dari nizham (sistem) dan mencakup cara mengemban mabda, dan cara memeliharanya serta cara pelaksanaan problem solving.

Barang siapa hendak mengubah suatu masyarakat menuju masyarakat modern berasaskan mabda tertentu agar bisa meletakkan thariqah pada ikatan yang tepat bilamana menghadapi kesulitan dan penipuan karena thariqah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari mabda.

Dan thariqah perubahan menurut Islam adalah dengan mencontoh Rasululah saw. Allah telah mengutus beliau mulai pertama kepada masyarakat Makkah jahiliah, maka Rasul melakukan thariqah seperti apa yang telah digariskan kepada beliau, dan thariqah ini telah berjalan dengan tiga tahapan:

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Asy-Syakhsiyatu Aqliyatun wa Nafsiyatun

Tahap Pertama: Tahap Pembentukan Syakhsiyah dengan Durus dan Taklim

Setelah Rasul menerima risalah dari Allah, beliau memulai bertablig menurut apa yang telah diwahyukan Allah kepadanya ditujukan kepada orang-orang terdekatnya, seperti istrinya Khadijah, Sahabatnya Abu Bakar, dan anak pamannya yaitu Ali bin Abi Thalib serta lainnya.

Rasul menjadikan mereka memiliki syakhsiyah islamiah, akidah islamiah sandaran tafkir dan muyul-nya, di mana awal diturunkan wahyu berisi pemikiran tentang akidah ini, seperti iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya, hari Akhir, dan pemilik akidah ini mengingatkan kejelekan terhadap penyembahan berhala, mempercayai dukun dan tukang sihir.

Hal ini terlihat jelas ketika Rasul ditanya pamannya Abu Thalib suatu hari, “Apakah ini sebuah agama yang menunjukkan kepada kamu sebagai suatu agama?” Berkata Rasul, “Wahai pamanku, ini adalah agama Allah, Malaikat dan rasul-rasul-Nya, serta agama moyang kita Ibrahim as., Allah menjadikan saya sebagai utusannya kepada hamba-hamba-Nya dan engkau wahai pamanku adalah yang lebih berhak untuk mengorbankan kepada agama ini dengan memberikan nasihat kepada orang lain, mendakwahkan agama ini kepada orang lain agar menerima petunjuk serta yang lebih berhak menerima agama ini dan menolong saya dalam menyebarkan agama ini.”

Maka, Abu Thalib menjawab, “Wahai Muhammad, saya tidak bisa memisahkan agama nenek moyang kita dan apa-apa yang ditinggalkannya, akan tetapi demi Allah saya tidak rela terhadap sesuatu yang itu kamu benci, datang kepadamu.”

Baca juga:  Memahami Amal (Aktivitas) menurut Islam (Bagian 2/3)

Maksud dari “agama” di sini adalah akidah saja, karena agama dalam hadis ini disandarkan kepada Malaikat, Rasul, dan Ibrahim, karena jelas syariat yang dahulu sebelum Rasulullah saw. bukanlah syariat Islamiyah, bila dinisbahkan kepada nizham maka maksud dengan agama pada hadis ini adalah akidah saja. Karena akidah yang dituntut untuk diimani pada hadis ini untuk seluruh agama-agama yang satu (maksudnya) dari Allah saja yaitu tidak terbilang yakni mengimani satu agama yang diturunkan oleh Allah Iman dengan realitas keimanan yang pasti dengan adanya dalil, maka otak tidak bisa berpikir bahwa sesuatu itu adalah sekaligus tidak ada dalam waktu bersamaan.

Rasul memulai dakwahnya dengan sembunyi-sembunyi, Rasul mengajak untuk membentuk dan mengajarkan kepada orang yang sudah beriman seperti Abu Bakar, Jafar, dan Abi Ubaidah, Umar bin Khaththab, Bilal bin Rabah, kepada Islam agar mempunyai syakhsiyah modern, untuk mengemban dakwah bersama Rasulullah, dan mereka itulah yang nantinya mengemban dakwah setelah berdirinya Daulah Islamiah.

Rasulullah yang memindahkan atau mengajarkan wahyu yang diterima dari Allah, dengan metode penyampaian dakwah menggunakan pendekatan pemikiran, yang nanti bisa memantapkan suluk-nya dan bisa memperkuat shilahbillah dan membuat mereka semakin mantap dengan agama yang baru. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/3

Tinggalkan Balasan