[Hadits Sulthaniyah] ke-41: Kerusakan karena Kroniisme

Hadis mengenai “Kepemimpinan yang Tidak Sah” (Hadis ke-40—45)


MuslimahNews.com, HADITS SULTHANIYAH — Hadis ke-41: “Barang siapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia membuat kerusakan. Dan barang siapa yang makin dekat dengan penguasa, maka makin bertambah jauh (jaraknya) dengan Allah.” (Musnad Ahmad No. 8481)

Penjelasan:

a. Dalam rangka membangun sebuah pemerintahan Islam yang kuat, pemimpin yang berkuasa harus senantiasa diawasi oleh umat. Pengawasan tersebut tidak akan dapat berjalan dengan efektif kecuali bila umat memiliki kedudukan yang independen di hadapan pemimpinnya, sehingga mereka tidak akan terpengaruh oleh berbagai kebaikan hati dan pemberian pemimpinnya. Kedudukan yang independen ini tidak akan dapat diwujudkan bila umat dan tokoh-tokohnya sering mencari muka atau menunjukkan sikap menjilat di hadapan pemimpinnya.

b. Hadis di atas memberikan sebuah peringatan tentang kerusakan yang bisa timbul secara alamiah akibat kekuasaan. Kepemimpinan adalah sebuah tanggung jawab yang amat besar, tidak saja bagi orang-orang yang mengembannya, tetapi juga bagi orang-orang yang berusaha berdekat-dekat dengan penguasa demi memperoleh sejumlah manfaat. Keadaan ini bisa disaksikan di sepanjang perjalanan sejarah ketika ada orang-orang yang memulai upayanya dengan tujuan mengoreksi penguasa, tetapi akhirnya justru memperkukuh kedudukannya.

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] ke-32 dan 33: Hidup di Bawah Seorang Pemimpin yang Adil, Lebih Baik daripada Beribadah Selama 60 Tahun

c. Umat Muhammad saw. ini mewarisi sebuah tradisi para ulama yang berusaha menjaga jarak dengan kekuasaan agar tetap bebas dari pengaruh penguasa, sehingga mereka tetap dapat mengoreksi penguasa secara independen dan bebas. Di antara para ulama itu adalah Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Nawawi, dan Syekh Ibnu Taimiyah.

d. Yang dimaksud dengan kedekatan pada riwayat di atas tidak sekadar bermakna jarak secara fisik, tetapi memberikan sebuah petunjuk bahwa orang-orang yang dekat dengan penguasa, lalu mereka tidak melakukan koreksi atas kesalahan penguasa, akan tetapi justru menyokong kedudukannya, maka mereka itu akan jauh dari Allah.

Para ulama besar di masa lalu banyak yang memegang jabatan sebagai kadi (qadhi) pada mahkamah negara, tetapi mereka tetap mampu menjaga jarak dengan penguasa, dalam arti bahwa mereka akan tetap mengoreksi kesalahan yang dilakukan penguasa, dan tidak membiarkan diri mereka terperosok jatuh dalam pusaran pengaruh kekuasaan. [MNews/Gz]


Sumber: Abu Lukman Fathullah, 60 Hadits Sulthaniyah (Hadits-Hadits tentang Penguasa), 2010


 

Tinggalkan Balasan