Balqis, Hijrahnya Sang Ratu Saba’


Penulis: Ruruh Anjar


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF – Al-Qur’an dalam surat an-Naml mengabadikan sebuah peristiwa di masa lalu ketika terdapat seorang ratu di negeri Saba’, Yaman, yang berkuasa, “Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar.” (QS An-Naml: 23)

Perempuan ini bernama Ba’alamah atau dikenal dengan nama Balqis binti Syarahil bin Dzijadan bin Al-Basyrakh bin Al-Harits bin Qathan.

Ibnu Katsir berujar, “Dikisahkan tentang kehidupan para raja Saba’ di negeri Yaman yang merupakan kerajaan besar dan mereka dinobatkan secara turun temurun. Pada zaman tersebut, kekuasaan dilimpahkan kepada seorang perempuan di antara mereka, yaitu putri dari raja mereka yang tidak memiliki keturunan selain dia, sehingga mereka menobatkannya sebagai raja mereka. Dia dianugerahi harta benda dunia yang dibutuhkan oleh seorang raja yang berkuasa serta singgasana tempatnya duduk. Singgasana itu sangat besar sera dihiasi dengan emas dan berbagai macam permata dan mutiara.”

Awalnya Ratu ini kufur kepada Allah. Ia dan kaumnya menyembah matahari. Kemudian ketika burung Hudhud memberitahukan perihal ini kepada Nabi Sulaiman as., Sulaiman langsung mengirimkan sepucuk surat kepadanya yang berisi seruan kepada mereka untuk menaati Allah dan Rasul-Nya, serta seruan untuk bertobat dan masuk Islam, yaitu berpindah dari penyembahan kepada makhluk, menuju hanya kepada Allah.

Sulaiman as. berkata yang disebutkan dalam Al-Qur’an,

“Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Naml: 31)

Ibnu Katsir menjelaskan yakni jangan berlaku sombong terhadap ketaatan kepadaku dan pelaksanaan segala perintahku dan datang dalam keadaan taat dan patuh tanpa perlawanan atau bujukan.

Begitulah yang terjadi, burung Hudhud membawa surat itu, datang ke istana Ratu Balqis dan memberikannya. Ratu Balqis mengumpulkan para puta mahkota, para menteri, dan para pembesar negerinya.

Al-Qur’an mencatatkan berkenaan firman-Nya,

“Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Naml: 29—31)

Selanjutnya ia meminta pendapat mereka berkaitan perkara yang sedang dihadapinya itu. Dengan sopan Ratu Balqis berbicara kepada mereka, sedangkan mereka mendengarkan.

“Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Berilah aku pertimbangan dalam perkaraku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelis(ku).” (QS An-Naml: 32)

Ratu Balqis bermusyawarah dan para pembesar dan menterinya menyampaikan bahwa mereka mendengarkan dan taat kepadanya dan mempercayakan kepadanya untuk memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya dan  mereka semua.

“Dia (Balqis) berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat. Dan sungguh, aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku) akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.” (QS An-Naml: 34—35)

Ibnu Abbas mengatakan maksudnya adalah apabila para raja memasuki suatu negeri secara paksa, maka mereka pasti membuat kerusakan di dalamnya.

Mereka akan menghancurkannya dan membidik para pembesar dan bala tentara yang ada di sana, mereka juga pasti membuat (orang-orang yang mulia itu) menjadi sangat terhina, bisa dengan membunuhnya atau menawannya.

Qatadah mengatakan semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya (Balqis). Dia benar-benar memahami tentang keislaman dan kemusyrikan. Dia mengetahui bahwa hadiah hanya akan berpengaruh kepada diri manusia biasa.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa dia (Balqis) berkata kepada kaumnya, “Jika dia (Sulaiman) menerima hadiah itu, berarti dia hanyalah seorang raja, maka perangilah dia. Namun jika dia tidak menerimanya, berarti dia adalah seorang nabi, maka ikutilah dia.

Allah berfirman,

“Maka ketika para (utusan itu) sampai kepada Sulaiman, dia (Sulaiman) berkata, “Apakah kamu akan memberi harta kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.” (QS An-Naml: 36)

Nabi Sulaiman menjawab tegas, padahal sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir, hadiah-hadiah itu berupa barang berharga. Sulaiman lalu berkata kepada utusannya dan orang-orang yang hadir di sana,

“Kembalilah kepada mereka! Sungguh, Kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya, dan akan kami usir mereka dari negeri itu (Saba’) secara terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina.” (QS An-Naml: 37)

Sesampainya berita tersebut, Ratu Balqis dan para pembesarnya bersegera memenuhi seruan Sulaiman tersebut dengan patuh dan taat.

Kemudian Sulaiman memerintahkan kepada salah seorang tentaranya, untuk menghadirkan singgasana Ratu Balqis kepadanya. Maka. tentaranya itu langsung menghadirkan dalam waktu singkat.

“Maka ketika dia (Balqis) datang, ditanyakanlah (kepadanya), “Serupa inikah singgasanamu?” Dia (Balqis) menjawab, “Seakan-akan itulah dia.” (Dan dia Balqis berkata), “Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS An-Naml: 42)

Perkataan Ratu Balqis menunjukkan kecerdasan dan pemahamannya karena dia menganggap mustahil jika itu adalah singgasananya sebab dia meninggalkan singgasana itu di istananya di Yaman dan dia tidak mengetahui ada yang mampu melakukan hal tersebut.

Kemudian Al-Qur’an menyebutkan tentang keislamannya di hadapan Nabi Sulaiman,

“Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS an-Naml: 44)

Ratu Balqis telah menunjukkan ketetapan hatinya untuk memeluk Islam saat hidayah datang kepadanya, Meski penguasa, dia tidak sombong dan tidak disibukkan dengan persoalan kerajaannya.

Justru mengakui telah berbuat zalim kepada dirinya, sehingga mau tunduk kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya. Bahkan selanjutnya ia menikah dengan Nabi Sulaiman dan berada dalam kekuasaan yang lebih baik, yaitu di bawah naungan Islam.

Kisah hijrahnya ini pun diabadikan dalam Al-Qur’an. Sebagai pelajaran kecerdasan, pemahaman, serta ketidaksombongan seorang pemilik singgasana untuk mau hidup dalam aturan Islam. Berserah diri kepada Allah, Sang Maha Pencipta dan Pengatur kehidupan. [MNews/Juan]

(Disarikan dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan