[Tapak Tilas] Damaskus, Tanah Harapan di Masa Lalu dan Masa Depan


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com TAPAK TILAS — Saat ini, tak banyak informasi yang bisa diakses melalui media massa Indonesia soal kondisi terakhir Kota Damaskus, Suriah. Yang ditemukan hanya berita tertanggal 9 Juli 2021 soal upaya serangan rudal Israel ke kota itu.

Serangan militer Israel ke ibu kota Suriah, Damaskus. Foto: The Economic Times.

Sejak lebih satu dekade terakhir, Suriah memang telah menjadi arena konflik yang besar dan berkepanjangan. Tak hanya konflik di kalangan internal, tapi juga melibatkan kekuatan dan kepentingan internasional.

Musim semi Arab (Arab Spring) yang diawali dengan krisis politik di Tunisia tahun 2011 memang berdampak besar bagi situasi politik di wilayah Arab lainnya. Misalnya di Lebanon, Aljazair, Mesir, dan juga Suriah.

Krisis politik ini membawa satu pesan utama, yakni penolakan rakyat terhadap otoritarianisme yang sudah berurat akar di kawasan Arab. Sekaligus memprotes perilaku korup dan berbagai kezaliman yang kerap dilakukan para penguasa mereka.

Namun tak perlu waktu lama, krisis di negeri-negeri Arab ini berhasil dibajak oleh kekuatan Barat. Hingga berujung pada diadopsinya sistem politik demokrasi yang sejatinya membuka jalan liberalisasi dan jalan mengukuhkan kepentingan Barat.

Terkecuali di Suriah. Krisis di kawasan ini ternyata justru menginspirasi masyarakat untuk melakukan perubahan politik ke arah Islam.

Maka, seruan tentang penegakan Khilafah pun begitu kencang, bahkan menjadi visi perjuangan milisi-milisi Islam yang berjuang dengan dukungan mayoritas rakyat untuk melawan rezim Syiah yang sejak lama memerintah dengan otoriter.

Fakta inilah yang menjadikan Barat ketakutan. Bergemanya Khilafah di Suriah seakan menjadi lonceng kematian bagi peradaban yang dengan susah payah mereka tegakkan. Sekaligus menjadi alarm bahaya bagi segala kepentingan yang mereka incar dan perebutkan di kawasan.

Tak heran jika Suriah akhirnya menjadi problem internasional. Apalagi ketika Amerika menciptakan monster Khilafah bernama 1S1S untuk meraih simpati dunia atas perjuangannya mempertahankan peradaban sekuler liberal.

Sejak itu, jadilah kawasan Suriah sebagai ajang perang kepentingan negara-negara besar yang berkelindan dengan isu Syiah, Khilafah, minyak, Israel, Iran, dan sebagainya.

Dampaknya, nyaris seluruh kawasan Suriah termasuk Damaskus ibu kotanya porak-poranda. Sementara hidup mayoritas rakyatnya jelas makin menderita dari sebelumnya.

Peta lokasi Kota Raqqa, Aleppo, dan Damaskus di Suriah. Foto: voaindonesia.com

Damaskus, Salah Satu Benteng Pertahanan Umat Islam

Damaskus sendiri adalah salah satu nama kota yang ada di Barat Daya wilayah Suriah atau Syam. Kota ini sudah dikenal sejak lama sebagai salah satu pusat peradaban dunia. Konon kota ini dibangun sekira 3000 tahun sebelum Masehi.

Kota ini dibuka oleh pasukan Islam pada 635 M sejalan dengan pembukaan kawasan Suriah yang saat itu merupakan bagian wilayah kekuasaan Romawi Timur atau Bizantium. Ekspedisi futuhat Islam di tempat ini dipimpin oleh Khalid bin Walid pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra..

Saat kota Damaskus itu jatuh ke tangan Islam, penduduknya mendapat jaminan keamanan, baik harta maupun nyawa dari kekuasaan Islam. Bahkan tempat-tempat ibadah agama mereka pun terpelihara dengan sebaik-baiknya.

Sebagai kompensasinya, mereka hanya diminta membayar jizyah yang jumlahnya tak seberapa dan hanya diwajibkan kepada penduduk laki-laki yang mampu saja sebagai bukti ketundukan mereka.

Namun beberapa saat kemudian, Damaskus sempat direbut kembali oleh Heraklius, penguasa Romawi. Hingga kaum muslimin pun sempat mundur dari kota ini.

Lalu pada tahun berikutnya (636 M) atas instruksi khalifah Umar, pasukan kaum Muslim berangkat ke Yarmuk. Maka melalui peperangan Yarmuk yang berat dan panjang inilah, kaum muslim berhasil menghancurkan kembali pasukan Romawi.

Bahkan akhirnya seluruh wilayah Suriah, termasuk Damaskus dan Yerusalem berhasil direbut kembali pada tahun 640 M. Dan kemudian, wilayah Damaskus menjadi salah satu benteng penting bagi pertahanan umat Islam.

Damaskus pada Masa Keemasan Islam Saat Kekuasaan Khilafah Bani Umayyah

Saat kekuasaan Islam beralih pada Dinasti Umayyah (mulai 661 M), Damaskus dijadikan sebagai ibu kota Khilafah pada 664 M.

Saat itu wilayah kekuasaan Khilafah tak hanya meliputi Jazirah Arab, tapi sudah melingkupi Pantai Samudera Atlantik hingga Sungai Hindus, serta dari Prancis Selatan, hingga Cina Barat.

Kota Damaskus, Suriah, pusat kekuasaan Dinasti Umayyah. Foto: republika.co.id

Untuk diketahui, kekuasaan Dinasti Umayyah ini berlangsung pada dua periode. Yakni antara tahun 661-750 M selanjutnya berpusat di Damaskus. Kemudian periode 756—1031 M, berpusat di Cordoba seiring menguatnya posisi politik muslim di Spanyol, Andalusia.

Masjid peninggalan Dinasti Umayyah di Damaskus, Suriah. Foto: © Dreamstime.

Di masa pertama kekuasaan Umayyah ini, Damaskus menjadi pusat kekuasaan dan politik, pusat ekonomi dan perdagangan, pusat ilmu pengetahuan dan riset, kota para ulama, pusat seni dan budaya, juga pusat berbagai fasilitas kesehatan.

Di masa pemerintahan Khalid bin Yazid misalnya, perpustakaan publik pertama berdiri di Damaskus pada 704 M. Di sinilah berbagai kegiatan intelektual berlangsung, mulai dari kajian-kajian bahasa Arab, ilmu hadis, fikih, kalam, dan sejarah.

Lalu di masa pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M) pembangunan pun tetap berjalan massif. Banyak rumah sakit dan masjid dibangun di Damaskus. Di antaranya Masjid Al-Amawi yang megah dan terkenal itu.

Adapun rumah sakit, mulai didirikan pada  707 M. Rumah sakit ini sekaligus menjadi pusat studi kedokteran pertama  di kota Damaskus. Menurut sejarawan Thomas Goldstein, hingga abad ke-13 sudah ada 30 rumah sakit di kota ini.

Selain pembangunan fasilitas umum, kekuasaan Kekhalifahan Umayyah di masa Al-Walid pun sudah meluas hingga ke Spanyol. Di masa inilah, tepatnya pada tahun 711 M Andalusia ditaklukkan. Hal ini menunjukkan kukuhnya kekuasaan politik dan militer Khilafah yang berpusat di Damaskus.

Damaskus pada Masa Keemasan Islam Saat Kekuasaan Khilafah Bani Abbasiyyah dan Mamlukiyah

Dinasti Abbasiyyah mulai berkuasa pada tahun 750. Periode kekuasaannya pun ada dua, yakni tahun 750—1258 M.

Sempat demisioner dua tahun karena serangan pasukan Mongol. Lalu dilanjut tahun 1261-1517 M di bawah kekuasaan para Mamluk.

Pada masa Kekhalifahan Abbasiyyah, ini ibu kota Khilafah dipindah ke Kota Baghdad, Irak. Namun, meski kalah pamor dari Baghdad, kota ini tetap menjadi kota penting bagi Khilafah Islam.

Saat Sultan Nuruddin Zanki berkuasa pada 1154 misalnya, makin banyak masjid, madrasah, perpustakaan, percetakan buku, dan pusat kesehatan publik dibangun di kota ini sehingga benar-benar menunjukkan pencapaian peradaban emas Islam.

Salah satu yang didirikannya di Kota Damaskus ini adalah Dar al-Hadits yang merupakan pusat studi hadis pertama di dunia. Lalu didirikan pula madrasah al-‘Adiliyyah pada 1171, yang kini dikenal sebagai Arab Academy.

Tak heran jika kota ini menjadi pabrik pencetak para ulama dan intelektual terkenal di dunia, yang berjasa meletakkan dasar-dasar keilmuan modern di berbagai bidang. Salah satunya, Ibnu Taymiyah dan Ibnu Al-Syatir.

Meski Ibnu Taymiyah (hidup tahun 1263—1328 M) lahir di Harrah Turki, namun beliau diketahui sejak usia 7 tahun beliau hijrah bersama keluarganya dan menuntut ilmu di kota ini. Beliau adalah seorang hafidz Qur’an, ulama fikih, hadis, tafsir, ilmu ushul.

Sementara Ibnu Al-Syatir (wafat 1375 M) adalah seorang astronom sekaligus pakar matematika muslim yang lahir di Damaskus dan sempat belajar di Mesir.

Beliau menciptakan berbagai teori di bidang astronomi, termasuk teori presisi dan pada 1337 M menciptakan alat pengukur jarak benda-benda langit yang disebut astrolabe.

Astrolabe (al-Usthurlâb), instrumen astronomi populer dalam peradaban Islam. Foto: museumastronomi.com
Foto: batasantariksa.com

Pada masa kekuasaan Sultan Salahuddin al-Ayyubi (wafat 1193 M), Damaskus mencapai puncak kejayaannya kembali. Damaskus kembali dikenal sebagai kota kosmopolitan, pusat ekonomi, industri, perdagangan, pendidikan, dan lain-lain. Bahkan didirikan cikal bakal Universitas yang jumlahnya di masa beliau mencapai 20 buah.Di masa-masa itu, Damaskus betul-betul dikenal seantero dunia sebagai pusat orientasi modernisasi. Sehingga negara-negara lain banyak yang menjadikannya sebagai mercusuar peradaban mereka.

Namun demikian, Damaskus juga tak hanya dikenal sebagai pusat peradaban material. Tapi sejarah mengenalnya sebagai kota yang sangat dermawan dan pemurah karena kemakmurannya.

Terbukti saat kekuatan Kristen menguasai Andalusia pada abad 12 M, penduduknya banyak yang lari ke Damaskus dan diterima sebagai saudara.

Lalu seabad kemudian, Damaskus juga menjadi tempat berlabuhnya warga Irak saat bangsa Mongol memorakporandakan tanah kelahiran mereka.

Damaskus pada Masa Khilafah Utsmaniyah dan Penjajahan Barat Hingga Sekarang

Kekuasaan Abbasiyah jatuh pada 1517 M, dilanjut oleh Dinasti Utsmaniyah yang berpusat di Istanbul Turki dan berkuasa hingga runtuh di tangan Mustafa Kemal pada 1924 M. Kondisi ini otomatis menjadikan wilayah Suriah termasuk kota Damaskus berada di bawah perintah Istanbul.

Namun di masa ini, tak banyak kisah yang menceritakan situasi Kota Damaskus, selain soal keberadaannya sebagai tanah harapan dan perlindungan bagi orang-orang yang teraniaya di negerinya.

Dikisahkan, pada abad ke-16, Damaskus menjadi tempat berlindung para pengungsi Spanyol baik Muslim maupun Yahudi yang mencari perlindungan dari kekejaman penguasa mereka. Begitu pun di abad 19, kota ini kembali menjadi tanah harapan bagi warga Kaukasus, Kurdi, dan Turki yang terancam tentara Rusia.

Saat terjadi perang Dunia I Khilafah terjebak terjun berperang bersama Jerman dan Italia melawan Inggris dan sekutu Baratnya. Qadarullah, pihak Jerman kalah. Hingga akhirnya wilayah kekuasaan Khilafah dikerta-kerat menjadi ganimah.

Maka jatuhlah Suriah dan kotanya ke tangan Perancis, lalu menjadi negara mandat hingga tahun 1946. Sejak saat itulah Suriah menjadi ajang perebutan pengaruh negara adidaya khususnya Inggris dan Amerika.

Sejak saat itu konflik demi konflik pun mewarnai kehidupan masyarakat Suriah. Mereka dipimpin oleh para boneka Barat, kalau tidak Inggris, ya boneka Amerika.

Potensi alam, potensi geografis dan geopolitiknya yang sedemikian besar rupanya menjadi alasan mengapa negara-negara adidaya begitu berambisi merebut kepemimpinan di negeri ini.

Hingga sekarang Suriah dalam kondisi tak aman. Terlebih saat umat pun harus berhadapan dengan rezim sekuler Syiah yang tak kalah otoriter dan kejam. Maka, alih-alih bisa mempertahankan posisinya sebagai salah satu mercusuar peradaban. Damaskus Suriah, kini kian kehilangan pamor. Tertutup debu-debu peperangan yang sewaktu-waktu bisa berulang.

Kehancuran Suriah akibat perang. Foto: jawapos.com

Memang kaum muslimin banyak yang percaya, bahwa kebangkitan umat Islam akan memancar di sana. Rasulullah saw. pernah bersabda,

“Ketika Allah telah mengutus Al-Masih Ibnu Maryam, maka turunlah ia di Menara Putih di sebelah Timur Damaskus dengan mengenakan dua buah pakaian yang dicelup dengan waras dan zafaran, dan kedua telapak tangannya diletakkannya di sayap dua Malaikat; bila ia menundukkan kepala maka menurunlah rambutnya, dan jika diangkatnya kelihatan landai seperti mutiara. Maka tidak ada orang kafir pun yang mencium nafasnya kecuali pasti meninggal dunia, padahal nafasnya itu sejauh mata memandang. Lalu Isa mencari Dajjal hingga menjumpainya di pintu Lud, lantas dibunuhnya Dajjal. Kemudian Isa datang kepada suatu kaum yang telah dilindungi Allah dari Dajal, lalu Isa mengusap wajah mereka dan memberi tahu mereka tentang derajat mereka di surga.” (HR Muslim, Kitab Al-Fitan wa Asyrathis Sa’ah, Bab “Dzikr Ad-Dajjal” 18:67—68)

Namun, bisyarah Rasul ini, masih jadi perkara gaib bagi kaum muslim. Sehingga, tugas umat hari ini adalah terus berjuang mengembalikan kemuliaan Islam, di mana pun mereka berada.

Insyaallah, Khilafah Rasyidah yang dijanjikan akan tegak, tak hanya akan menjadikan Suriah dan ibu kotanya Damaskus kembali menjadi negeri yang berkah dan menjadi tanah harapan manusia di masa depan, tapi juga menjadikan seluruh negeri Islam sebagai pusat peradaban cemerlang. Wallaahu a’lam. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan