KeluargaRemaja

Cantik Itu Salihah


Penulis: Ummu Fairuzah


MuslimahNews.com, KELUARGA — Gak nyaman juga jika anak gadis terlalu akrab dengan gadget. Belajar daring “memaksa” kita untuk memfasilitasi mereka dengan kuota internet. Pekerjaan rumah yang bejibun dari sekolah pun jadi salah satu alasan turunnya izin pemakaian jaringan internet. “Kepepet!”

Meski sudah dibekali orang tua tentang mana situs yang boleh diakses, mana situs yang wajib dijauhi, tetap saja, “sales virtual” bisa nyelonong tanpa permisi. Mulai iklan game online, produk kesehatan, video porno, sampai iklan produk kecantikan semua ada. Hanya 3 sampai 5 detik saja setiap iklan silih berganti, lebih dari cukup untuk memengaruhi alam sadar seseorang.

Memang tidak selalu negatif, banyak juga iklan online yang positif menginspirasi. Seperti promo gamis milenial, jilbab pandemi, celamis sport, novel hijrah, dan lainnya. Di tengah perkembangan kehidupan manusia yang menuntut untuk lebih cepat dan praktis, jualan online bisa menjadi solusi di satu sisi. Terlebih masa pandemi, di mana aman dan sehat menjadi prioritas semua orang.

Remaja “Insecure” Krisis Identitas

Di sisi lain, setiap produk memanfaatkan brand ambassador dengan kriteria tertentu untuk menarik konsumen, minimal melirik produk meski tak selalu membeli. Untuk produk-produk kewanitaan  misalnya, hampir selalu memilih bintang iklan yang berparas cantik, menarik, rapi, dan ramah.; serta menguasai budaya 5S (senyum, sapa, salam, sopan, santun). Alhasil, gadis kita pun dibuatnya terkesima dengan dandanan fisik yang ditampilkan.

Remaja kita “mematung” di depan cermin mengamati warna kulitnya yang terlalu putih atau terlalu sawo matang. Sering berganti kerudung dan gamis demi padu padan dengan warna kulitnya, merasa tertekan dengan sebiji jerawat di ujung hidungnya, lama di depan rak sepatu mencari sandal idamannya. Bahkan, menolak disuruh ke warung membeli garam karena takut dan malu bertemu atau dilihat orang lain. Ia ingin sempurna sesuai persepsi dirinya.

Ini perkara yang sebenarnya naluriah bahkan wajar, tetapi bisa berubah menjadi masalah serius bagi remaja kita. Pada saat seperti itulah mereka membutuhkan bantuan orang dewasa di dekatnya untuk memahami jati diri mereka. Sehingga, kehadiran ibu dan ayah menjadi sangat penting dalam pendampingannya.

Allah Itu Maha Pengasih, Tak Pilih Kasih

Saatnya mengenal potensi kehidupan. Allah Swt. menciptakan manusia dengan naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’), naluri mengasihi sesama (gharizah nau’), dan naluri beragama (gharizah tadayyun). Masing-masing naluri memiliki kadar tertentu untuk digunakan dalam kehidupan.

Manusia juga diberi akal untuk memahami bagaimana menggunakan kadar naluri dalam menjalani kehidupan. Allah Swt. telah memberikan petunjuk syariat sebagai pedoman. Pilihan manusia memenuhi tuntutan semua gharizah itu yang akan dimintai pertanggungjawaban di Hari Akhir nanti.

Tidak perlu risau terhadap qadha’ yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Sebab, Allah tidak akan menghisab atas warna kulit, ukuran dan tinggi badan, bentuk rambut lurus atau ikal. Semuanya “gratis” tidak diminta untuk menggantinya. Sebaliknya, berusaha menggantinya untuk mengubah qadha’ justru tidak disukai Allah. Yang Rabb kita inginkan dari hamba-Nya hanyalah ketaatan.

Allah Swt. berfirman,

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (TQS al Hujarat: 13)

Bilal bin Rabbah dijamin masuk surga meski budak yang kulitnya hitam legam, karena Bilal beriman dan bertakwa. Sumayyah ibunda Ammar bin Yassir menjadi wanita pertama yang syahid dengan jaminan Jannah. Abdurrahman bin Auf sahabat yang sangat dicintai Rasulullah bukan karena kekayaan dan ketampanannya, namun karena kedermawanan dan kecintaannya terhadap dakwah Islam.

Yang Penting Salihah

Dari Anas bin Malik mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Pemuka wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulallah saw., Khadijah binti Khawailid, dan Asiyah istri Firaun.” (HR Muslim dan Hakim)

Mengkaji dan meneladani kepribadian para wanita penghulu surga tentu lebih utama daripada berandai-andai menjadi orang lain. Tidak perlu malu dipandang sesama manusia sebagai sosok yang tidak sempurna secara fisik. Malu itu dekat dengan keimanan. Malu itu hanya ketika hati tergerak untuk tidak mau taat syariat.

Rasulullah saw. bersabda,

“Iman mempunyai lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah Laa Ilaaha Illallaah. Sedangkan cabang paling rendah adalah membuang duri dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (Mutafaq ‘alaih)

Maka, Ayah Bunda, sampaikan kabar gembira kepada ananda, bahwa cantik itu salihah. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *