Rabbab binti Umru al-Qais, Istri Cucu Rasulullah ﷺ

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Di dalam Masjid Nabawi, berkumpullah dalam satu majelis para sahabat Nabi ﷺ yaitu Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, dan kedua putra Ali, Hasan dan Husain. Banyak juga para sahabat Nabi yang hadir dan para pemikir Islam lainnya. Mereka berbincang seputar kemenangan-kemenangan pasukan Islam di wilayah Syam.

Pada majelis yang mulia itu, hadirlah seorang yang asing bagi penduduk Madinah. Dari penampilannya tampak bahwa ia seorang yang memiliki kedudukan terhormat. Ia berjalan melewati orang-orang yang duduk hingga ia berdiri tegak di hadapan Umar, lalu mengucapkan salam. Umar bertanya kepadanya, “Siapakah engkau?”

Orang tersebut menjawab dengan sopan dan berwibawa, “Saya seorang Nasrani dengan panggilan Umru al-Qais bin Adiy al-Kalbi.” Saat itu Umar mengenalinya dan mengenal betul komunitasnya. Ia seorang pembesar Bani Kalb.

“Apa keperluanmu?” tanya Umar. Ia menjawab,”Saya menginginkan Islam, wahai Amirul Mukminin.” Umar menjelaskan kepadanya tentang Islam, hingga Allah membukakan hatinya lalu masuk Islam. Allah memuliakannya dengan Islam. Allah juga memuliakan Umar yang telah menjadi pengantar masuknya Umru al-Qais dalam barisan Islam.

Umar melihat tanda kebaikan pada diri Umru al-Qais. Ia terkesan dari raut muka dan penampilannya, hingga ia memberikan beberapa pasukan yang terpercaya. Saat itu, ia meminta sebatang tombak lalu mengikatkan bendera perang untuk menyebarluaskan Islam pada kabilah Qudhaah yang bermukim di Syam. Umru al-Qais pun berangkat bersama bendera yang berkibar di atas kepalanya. Ia keluar dari masjid bersama kemenangan Islam di hadapannya.

Umru al-Qais adalah salah seorang gubernur di masa pemerintahan khalifah Umar. Meski tak punya latar belakang keluarga yang kental dengan nilai Islam, Umar mengangkatnya sebagai gubernur. Terbukti, firasat dan kejelian khalifah Umar menilai seseorang tidak pernah salah.

Atas kewibawaan Umru al-Qais, Ali bin Abi Thalib pun menghampirinya,  meminta kedua anaknya, Hasan dan Husain berdiri, sambil mengucapkan salam kepadanya, lalu memegang bajunya dan berkata, “Wahai paman! Saya Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ . Ini kedua anakku dari putri beliau Fatimah Az Zahra, Hasan dan Husain.”

Orang ini terdiam sejenak karena terkejut. Kemudian secepat kilat, bilar kebahagiaan terbit di wajahnya. Ia menghampiri Ali bersama kedua anaknya seraya tersenyum kepada mereka..Lalu Ali berkata kepadanya, “Kami sangat terhormat menjadi menantumu. Maka nikahkanlah kami.”

Sejenak terdiam, Umru Umru al-Qais berusaha merangkum semua keutamaan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh besar yang berdiri di hadapannya. Mereka merepresentasikan keluarga besar Rasulullah ﷺ. Terlintas dalam lamunannya tentang ketiga putrinya; Muhayya, Salma dan Rabbab. Dengan kekuatan firasatnya ia mampu memilah dan memilih untuk siapa setiap putrinya itu.

Ia menoleh ke arah kedua cucu Rasul, Hasan dan Husein lalu berkata, “Wahai Hasan! Saya nikahkan untukmu Salma binti Umru al-Qais, dan saya nikahkan untukmu wahai Husain, Rabbab binti Umru al-Qais.”

Sejak peristiwa itu, kepopuleran Rabbab binti Umru al-Qais al-Kalbiyah mendulang tinggi di jagat wanita-wanita terhormat. Sebab, ia hidup bersama cucu kesayangan Rasulullah ﷺ . Ia berada dalam keluarga yang paling mulia. Sebab, keluarga itu telah mendapat kemuliaan adab-adab kenabian, yang bertambah lagi dengan kemuliaan dan keluhurannya.

Semua orang yang pernah mengenal Rabbab binti Umru al-Qais sepakat bahwa ia adalah wanita pilihan, seorang tabiin wanita terhormat yang memiliki keutamaan, kesetiaan, dan keikhlasan.

Rabbab adalah sosok gadis yang menyiratkan aura kecerdasan dan kekuatan akalnya. Dari lisannya mengalir untaian syair dan sastra yang menyentuh hati. Allah telah memberikan anugerah kepadanya berupa kecantikan dan kecemerlangan. Ia memadukan semua sisi keutamaan hingga memberikan kesan sangat dalam pada diri suaminya, Husain bin Ali.

Dari pernikahannya dengan Husain, ia melahirkan dua anak, putra dan putri. Yang putra bernama Abdullah sehingga Husain mendapat julukan Abu Abdullah. Seorang putrinya bernama Aminah yang dikenal dengan sebutan Sukainah.

Menjelang tragedi Karbala, Rabbab binti Umru al-Qais sedang bersama suaminya Husain. Saat itu juga ada wanita dari Bani Hasyim. Di antaranya Zainab binti Ali dan kedua putrinya (Sukainah dan Fatimah), serta wanita-wanita terhormat lainnya.

Husain memandangi mereka lalu berkata, “Wahai saudariku! Wahai Ummu Kultsum! Wahai Zainab! Dan wahai Sukainah, wahai Fatimah!” Kemudian ia berkata kepada istrinya, Rabbab, “Dan engkau, wahai Rabbab! Apabila saya terbunuh, janganlah salah seorang dari kalian merasa sulit dengan kematianku. Janganlah ada yang membuka wajah dan berkata-kata kasar.”

Mereka tertegun. Pada kesempatan itu ia memberikan wasiat pada Rabbab untuk merawat putrinya, Sukainah. Di atas tanah Karbala, Husein menemui syahidnya pada Muharam tahun 61 H, Rabbab memenuhi dunia dengan syair dukacita untuk suaminya. Di antara lantunan syair itu adalah:

Cahaya yang dahulu menerangi Karbala

Telah gugur tanpa dikubur

Cucu Nabi, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dari kami

Dan engkau jauhkan dari timbangan amal yang merugi

Dahulu engkau gunung terjal tempat aku berlindung

Dan engkau menyertai kami dengan kasih sayang dan agama,

Lalu, siapa lagi yang menjadi tumpuan bagi anak yatim, peminta-minta, serta orang-orang miskin?

Setelah berakhirnya tragedi memilukan di Karbala, Rabbab kembali ke Madinah bersama perempuan-perempuan Ahlul Bait (keluarga Rasulullah). Ia tinggal di sana dengan berteman kesedihan dan duka. Nyaris tak pernah hilang dalam ingatannya sedetik pun gambaran suaminya, pemuda surga, Husain.

Setelah masa idahnya berakhir, di Madinah, Rabbab dilamar oleh orang-orang bangsawan dan pembesar Quraisy, tetapi ia tidak menerima lamaran tersebut dan tidak menikah dengan siapa pun. Ia berkata, “Setelah Nabi ﷺ, aku tidak ingin memiliki mertua lagi.”

Begitulah Rabbab menjalani hidup sepeninggal suaminya Husain. Setahun kemudian, ia meninggal akibat perasaan sedih dan juga kesedihan karena kematian anaknya Abdullah yang terbunuh dalam usia yang masih kecil bersama sang ayah.

Dari rumah tangga Husain dan Rabab, kita bisa memetik hikmah. Rumah tangga yang dibangun atas dasar kecintaan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala serta kesetiaan pasangan, akan menjadikan rumah itu penuh berkah, saling menyayangi, dan saling mengasihi. Sebagaimana ungkapan “Baiti Jannati, rumahku surgaku.”

Husain sendiri mengungkapkan kebahagiaan rumah tangganya bersama Rabbab dalam kutipan syair berikut, “Sungguh aku cinta rumah. Tempat tinggal Sukainah dan Rabbab. Aku mencintai keduanya dan memberikan hartaku untuk mereka. Tiada celaan terhadap keduanya. Aku tak akan turuti celaan mereka, saat hidupku atau masuknya diriku ke dalam debu.” [MNews/Chs]

Tinggalkan Balasan