[News] Jatuhnya Kapitalisme dan Bangkit Kembalinya Islam, Satu Kesempatan

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — “Kapitalisme dianggap telah berhasil dengan baik sejak krisis keuangan pada 2007, tapi nyatanya selalu bergerak dari krisis ke krisis. Kapitalisme tidak pernah benar-benar bisa menyelesaikannya, tapi selalu mendeklarasikan kemenangan. Padahal faktanya, kondisi rakyat memburuk,” kritik Jamal Harwood, Konsultan dan Akuntan di United Kingdom.

Ia memaparkan, ideologi atau cara pandang apa pun harus menyediakan pemenuhan kebutuhan rakyat, seperti tempat bernaung, makanan, kesehatan, dan perawatan kesehatan. Ini adalah kebutuhan yang sangat mendasar.

Namun saat ini, kemiskinan di dunia, memburuknya perawatan kesehatan, dan ketimpangan kekayaan berada pada tingkat yang tinggi. Struktur masyarakat, sistem sosial, cara melihat satu sama lain, memperlakukan satu sama lain, dan interaksi juga terhambat.

Berbagai Kerusakan akibat Kapitalisme

Ia menyebutkan (dalam kapitalisme), sistem perawatan kesehatan yang paling dibanggakan dan paling mahal yang pernah ada dalam sejarah juga telah terkena virus. Virus yang sedikit berbeda dengan jenis lain yang pernah dihadapi dalam beberapa dekade terakhir, tetapi mereka masih mengekspor solusi perawatan kesehatan yang mahal dan dipertanyakan seluruh dunia. Meskipun banyak miliaran yang diinvestasikan, kematian tertinggi akibat virus ini tetap terjadi.

“Di lain pihak mereka menempatkan sebagian besar upaya mereka menjadi mahal dan vaksin Covid yang menguntungkan. Sedangkan penyakit dan infrastruktur kesehatan penting lainnya terabaikan. Penyakit jantung, kanker, tuberkulosis berada dalam daftar tunggu. Hasilnya rekor naik untuk perawatan rumah sakit. Belum lagi tujuan keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan farmasi,” tuturnya.

Ketika virus menyebar, lanjutnya, bank sentral menyuntikkan $9 ribu ke dalam ekonomi dunia. Tujuannya menjaga ekonomi dunia tetap bertahan tapi banyak dari stimulus itu masuk ke pasar keuangan dan menjadi kekayaan bersih bagi orang yang sangat kaya. Total kekayaan miliarder di seluruh dunia naik $5 triliun menjadi $13 triliun hanya dalam 12 bulan.

Ketaksetaraan makin memburuk, upah mandek, lebih banyak orang miskin, dan banyak yang memiliki utang besar. Menurutnya, ini tidak mengejutkan ketika politik didominasi dan dikendalikan oleh elite ekonomi dan sistem sosial sedang dihancurkan.

Bukan hanya ekonomi yang diserang kapitalisme, lanjutnya. Nilai-nilai tradisional, pernikahan, identitas laki-laki dan perempuan, orang tua, anak-anak diremehkan, diajarkan bisa menjadi laki-laki atau perempuan sesuai keinginan atau pikiran mereka.

Baca juga:  Indonesia Terjungkal Resesi Teknikal, Perempuan Jadi Korban

“Homoseksualitas pun dipromosikan secara aktif. Tidak mengherankan jika kita melihat penurunan tingkat kelahiran dan lebih banyak rumah tangga dengan orang tua tunggal,” cetusnya.

Namun ia mengingatkan, hal ini sering atau bahkan tidak dilihat sebagai masalah oleh masyarakat. Kebebasan kepemilikan yang penting bagi kapitalisme telah menyebabkan eksploitasi ekonomi sama halnya dengan kebebasan individu yang juga mengarah untuk eksploitasi sosial yang kuat.

“Yang berkuasa dan kuat menikmati “kemenangannya”, sementara yang lemah diabaikan dan dibiarkan berjuang,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, kapitalisme dirancang untuk tidak adil dan menciptakan lebih banyak kemiskinan daripada yang bisa dientaskannya. Semua perhatian dicurahkan untuk menjaga kekayaan agar tetap terkonsentrasi dan terakumulasi di tangan segelintir orang. Kehendak ini tidak mungkin berubah atau bahkan dicari solusinya terhadap persoalan yang diciptakan.

“Tampak dari adanya kebangkitan miliarder dalam dua dekade terakhir. Secara global terjadi peningkatan populasi miliarder lebih dari lima kali lipat. Hanya 1% yang menguasai 40% aset. Sebanyak 10% yang menguasai 85% aset. Terdapat $93 triliun dalam PDB global tapi sebagian besar adalah utang,” jelasnya.

Model bisnis secara utama adalah memperbudak orang-orang yang berhutang, mengendalikan hidup dan asetnya melalui riba. IMF dan Bank Dunia mengikuti model eksploitatif yang sama, membangun seluruh cara hidup di atas kebebasan kepemilikan. Ini menyebabkan yang kuat mengeksploitasi yang lemah, yang kaya mengeksploitasi yang miskin.

“Pada awalnya kegiatan ekonomi didorong, seperti pencetakan uang baru yang konstan, tapi hanya bersifat sementara. Orang kaya menguras modal dari ekonomi dan perdagangan makin terkonsentrasi di sedikit orang,” tukasnya.

“Akibatnya aktivitas ekonomi melemah. Jika negara-negara Barat masih relatif makmur, itu bukan akibat kekuatan ekonomi domestiknya, melainkan dari kebijakan imperialismenya yang telah memberi akses ke sumber daya dan kekayaan di seluruh dunia,” imbuhnya.

Islam Solusi Satu-Satunya bagi Umat Manusia

Islam adalah satu-satunya solusi bagi umat manusia, di Barat dan Timur. Dunia muslim juga didominasi kemiskinan absolut dan ketaksetaraan kekayaan. Sedikit elite memiliki hampir segalanya ketika orang-orang mendapati kurangnya kesempatan untuk berkembang. Kondisi ini bukan karena Islam, tetapi sisa-sisa kebijakan kolonial dan kapitalisme yang mendominasi, pascaruntuhnya Khilafah tahun 1924.

Baca juga:  Jurus Jitu Politik Ekonomi Islam Tangkal Resesi

Meski begitu, perubahan dan kebangkitan sedang terjadi. Kecintaan kepada Islam tidak pernah berkurang, pemahaman dan tuntutan untuk kembali kepada Islam di tengah masyarakat terus meningkat.

Begitu pula dalam aturan, sistem sosial, dan ekonomi. Banyak yang sudah menyerukan di berbagai penjuru dunia.

Pertama, menginginkan tempat bekerja dan bisnis yang mendapatkan perlindungan hukum yang memberikan ketenangan.

Kedua, mendapatkan perhatian kesehatan dan tidak didikte oleh perusahaan kesehatan yang menjadikan masyarakat sebagai produk.

Ketiga, memiliki kekayaan untuk berjual beli berupa uang berbasis emas dan perak asli. Bukan sekadar uang kertas artifisial dan uang digital yang terus memperbudak masyarakat.

Keempat, mendorong penuh pemanfaatan tanah dan kekayaan bukan dengan menimbunnya.

Kelima, memiliki pemerintahan yang bertanggung jawab yang akan membelanjakan pendapatannya untuk kemanfaatan di masyarakat. Bukan untuk kroni dan teman korporasinya yang “tak berwajah”.

Keenam, menghentikan selamanya kobaran perang yang lebih agresif kepada kaum muslimin, laki-laki dan perempuan. Satu-satunya kejahatan ketika mereka hidup di tanah yang Allah Swt. berkahi dengan kekayaan dan sumber daya yang besar, justru ingin mereka rampas dan kendalikan.

Ia menyampaikan, ketika kapitalisme mengonsentrasikan kekayaan di segelintir orang, Islam berfokus pada distribusi kekayaan yang adil dan meluas. Sebagaimana firman-Nya,

“… supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS al-Hasyr: 7)

Rasulullah saw. bersabda,

“Anak Adam berkata, ‘Inilah harta saya, inilah harta saya.’ Nabi bersabda, ‘Wahai, anak Adam! Engkau tidak memiliki dari hartamu kecuali apa yang engkau makan dan telah engkau habiskan, atau pakaian yang engkau pakai hingga lapuk, atau yang telah kamu sedekahkan sampai habis.'” (HR Muslim, 2958)

Jadi, fokusnya ada pada pengeluaran kekayaan, memberi hadiah, berinvestasi, dan mengedarkan kekayaan. Secara tegas Islam melarang menimbun kekayaan, melakukan riba—termasuk saham spekulatif dan manipulatif, pasar berjangka, derivatif uang kertas fiat, hubungan koruptif antara pembuat kebijakan, perusahaan, dan pemerintah, juga menimbun tanah pertanian.

“Ini adalah sistem ekonomi Islam, yang ketika diterapkan di negeri-negeri muslim akan menghasilkan kemakmuran tiada tara dan memperkaya semua. Bahkan, Barat berdagang di tanah muslim dengan aturan hukum yang jelas, tidak memihak, dan mata uang emas dan perak yang stabil,” katanya.

Baca juga:  Tersandera Utang, Ekonomi Nyungsep

Satu dari Hanya Dua Kali Kesempatan dalam Sejarah

Ia menegaskan, saat ini masyarakat global yang terpuruk membutuhkan umat Islam untuk sekali lagi melangkah maju dan melaksanakan aturan alternatif yang jelas tersebut. Sehingga, yang dibutuhkan adalah kepemimpinan.

Umat dibutuhkan untuk menjadi pemimpin. Bukan hanya menunggu Al-Mahdi atau menunggu dan membayangkan khalifah selanjutnya akan muncul untuk perubahan, tetapi harus bergerak bersama di garis depan untuk membawa perubahan itu.

Allah Swt. berfirman,

“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah Swt..” (QS Ali Imran: 110)

Juga firman-Nya,

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

“Dan itu semua tergantung pada diri kita untuk melakukannya, tidak sekadar meyakini Allah, tetapi harus menyambut dan menyerukan Islam serta melawan kemungkaran. Juga diperintahkan adanya kelompok atau kelompok politik yang melakukan hal tersebut. Ini diamanatkan kepada kita agar melakukannya bersama, menuju perubahan penting ini,” nasihatnya .

Ia mencontohkan Mushab bin Umair yang melakukannya dengan dakwah di Madinah. Kefasihan, kecerdasan, dan budi pekertinya yang halus, menjadikan opini yang kuat tentang Islam di Kota Yatsrib. Sehingga, tidak ada satu pun rumah tangga yang tidak membicarakan Islam baik pro maupun kontra. Akhirnya, hal itu menjadi jalan bagi nushrah dan hijrah Nabi Saw. ke Madinah.

Hingga ketika Mushab syahid di Perang Uhud, Rasulullah saw. mengutip firman Allah Swt.,

“Di antara orang-orang mukmin itu, ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (QS Al-Ahzab: 23)

Oleh karenanya, kesempatan ini adalah satu dari hanya dua kali (kesempatan) dalam sejarah umat Islam, untuk dapat bekerja memenuhi panggilan ini.

“Yaitu sebelum Khilafah berdiri dan berdirinya kembali,” pungkasnya. [MNews/Ruh-Gz]

Tinggalkan Balasan