Solusi Tuntas Stunting


Penulis: Arum Harjanti


MuslimahNews.com, FOKUS — Indonesia adalah negara keempat dengan angka stunting tertinggi di dunia, dan nomor dua se-Asia Tenggara. Studi Status Gizi Balita di Indonesia tahun 2019 yang terintegrasi Susenas Maret 2019 melaporkan angka stunting 27,67%.

Stunting menjadi persoalan prioritas pemerintah karena stunting merupakan cerminan masa depan Indonesia. Indonesia berkomitmen untuk menurunkan angka stunting menjadi 14% pada 2024. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara para pemangku kepentingan, antara instansi pemerintahan tingkat nasional dan daerah, juga dengan sektor swasta, masyarakat sipil, dan akademisi.

Untuk mempercepat penurunan stunting, Indonesia menunjuk BKKBN sebagai leading sector Pelaksana Percepatan Pencegahan Stunting. Belum lama ini BKKBN berkolaborasi dengan Asosiasi Professor Indonesia mengadakan “Seminar 100 Profesor Bicara Stunting” untuk memberikan pandangan ilmiah dari berbagai latar belakang disiplin ilmu dan dapat diaplikasi di tingkat lini lapangan.

Indonesia juga sudah bekerja sama dengan Jepang yang memiliki angka stunting 7%, serta mengadakan pelatihan internasional yang melibatkan para tokoh agama Islam yang terdapat di wilayah Asia Tenggara dan wilayah Asia Selatan untuk mencegah stunting.

Stunting jelas mendesak untuk diatasi karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia dan berhubungan dengan tingkat kesehatan, bahkan kematian anak, terlebih pencapaian Generasi Emas Indonesia 2045. Apalagi pengalaman dan bukti Internasional menunjukkan bahwa stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan produktivitas pasar kerja, sehingga mengakibatkan hilangnya 11% GDP (Gross Domestic Products) serta mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20%.

Selain itu, stunting juga dapat berkontribusi pada melebarnya kesenjangan, sehingga mengurangi 10% dari total pendapatan seumur hidup dan juga menyebabkan kemiskinan antargenerasi.[1]

Mampukah Indonesia mengatasi stunting secara tuntas, apalagi pandemi diperkirakan meningkatkan angka stunting menjadi 32%?

Stunting, Problem Global

Stunting telah terjadi di Indonesia sejak lama. Berdasarkan hasil Riskesdas, pada 2013, prevalensi stunting pada balita sebesar 37,2%, dan menjadi negara kelima dengan stunting terbesar di dunia.

Saat ini justru menjadi negara keempat di dunia meskipun terjadi penurunan sekitar 3,1% menjadi 27,7% bila dibandingkan dengan tahun 2018 yang berada pada angka 30,8%. Namun, angka ini tetap menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kondisi stunting yang kronis, karena berada di atas angka 20%, batas maksimal yang ditetapkan oleh WHO.[2]

Stunting di Indonesia terjadi karena berbagai faktor, di antaranya terkait dengan pola makan, pola asuh dan sanitasi, dan tentu saja erat kaitannya dengan kemiskinan yang masih cukup besar di Indonesia.

Stunting ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi problem serius dunia. Berdasarkan data the Joint Child Malnutrition Estimates 2021 Edition, di dunia terdapat 149 juta anak di bawah usia 5 tahun yang menderita stunting (terlalu pendek bila dibandingkan umurnya), 45 juta anak di bawah usia 5 tahun yang menderita wasting (terlalu kurus bila dibandingkan dengan tinggi badan), dan 39 juta anak di bawah usia 5 tahun overweight.

Meskipun angka stunting sudah mengalami penurunan sejak tahun 2000–yang mana satu dari tiga anak balita mengalami stunting—namun dunia masih jauh dari bebas stunting karena masih lebih dari satu dari lima anak di dunia menderita stunting.

Mirisnya, jumlah anak balita yang terkena kelebihan berat badan di seluruh dunia telah meningkat dari 33,3 juta pada tahun 2000 menjadi 38,9 juta pada 2020.[3] Adanya pandemi menyebabkan hampir 7 juta anak terancam menderita stunting.[4]

Indonesia sudah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka stunting, di antaranya bergabung dengan gerakan global “Scaling-Up Nutrition (SUN)” pada 2012, yang menyatakan semua penduduk berhak untuk memperoleh akses ke makanan yang cukup dan bergizi.

Tahun 2017, Indonesia menyerukan Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018—2024, yang didukung oleh Bank Dunia, dibangun berdasarkan pengalaman dan pelajaran global, terutama keberhasilan Peru memangkas setengah angka stunting hanya dalam tujuh tahun.

Angka stunting Indonesia memang menunjukkan adanya penurunan, rata-rata sebesar 1,6% per tahun bila dihitung sejak tahun 2013. Namun, penurunan ini sangatlah lambat. Apalagi dengan prediksi para pakar, stunting akan meningkat menjadi 32% karena pandemi, jelas mempersulit penurunan stunting.

Terkait itu, BKKBN sudah menyiapkan program unggulan untuk menurunkan angka stunting yaitu Perubahan Perilaku dan Pengelolaan Pengetahuan, juga Pendampingan Bidan Desa pada Keluarga Berisiko Stunting, termasuk remaja putri dan ibu hamil.

Sayangnya, Peraturan Presiden terkait upaya mempercepat penurunan angka stunting hingga kini belum juga ditandatangani.[5] Hal ini tentu saja menghambat program percepatan penurunan stunting.

Kapitalisme Penyebab Stunting

Tingginya stunting yang tidak hanya di Indonesia tapi juga di berbagai belahan dunia, menunjukkan ada yang salah dalam tata kelola dunia ini. Apalagi di tengah tingginya angka stunting ini, terdapat individu-individu yang memiliki kekayaan fantastis.

Oxfam, sebuah organisasi nirlaba Inggris, melaporkan jumlah miliarder dunia meningkat sebanyak dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. Sementara itu, harta milik 2.153 orang terkaya di dunia jika diakumulasikan, sepadan dengan uang yang dimiliki oleh 4,6 miliar orang termiskin di seluruh negara dunia pada 2019. Salah satu penyebab ketimpangan ini adalah ketergantungan yang tinggi dari kalangan bawah terhadap besaran upah yang mereka terima dari orang-orang kaya.[6]

Di tengah banyaknya stunting, jumlah orang dengan nilai kekayaan lebih dari 5 juta hingga dolar AS meningkat 1,3% di tahun 2020 menjadi 2,7 juta orang.[7] Bahkan orang terkaya di dunia, Jeff Bezos yang menghasilkan $2.500 per detik, bila diibaratkan negara, ia akan menjadi negara terkaya ke-54 di dunia.[8]

Begitu halnya di Indonesia. Tahun 2017, Oxfam menyebutkan harta total empat orang terkaya di Indonesia, yang tercatat sebesar 25 miliar dolar AS, setara dengan gabungan kekayaan 40% penduduk miskin, atau 100 juta orang termiskin.[9]

Tingginya kemiskinan di Indonesia sesungguhnya juga sangat mengherankan, mengingat Indonesia memiliki sumber kekayaan alam yang sangat melimpah. Yang membuat miris, stunting juga tinggi di daerah yang kaya sumber daya alamnya seperti NTT, yang bahkan menjadi propinsi dengan angka stunting tertinggi di Indonesia.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan dan kesenjangan kekayaan erat hubungannya dengan stunting, bahkan membuktikan stunting terjadi bukan karena kelangkaan. Oleh karena itu, berbagai program sosial tidak akan menyelesaikannya karena tidak mampu mengubah penyebab yang mendasari kemiskinan. Apalagi jika sekadar pendampingan dan perubahan perilaku yang digagas BKKBN, atau mengandalkan pemberdayaan masyarakat tanpa pengentasan kemiskinan.

Terlebih lagi, pandemi Covid-19 mengakibatkan bertambahnya kemiskinan yang membuat penghasilan berkurang bahkan hilang. Hal ini berpengaruh pada berkurangnya ketersediaan dan keterjangkauan makanan bergizi, serta terganggunya pelayanan kesehatan, gizi, dan perlindungan sosial pada anak.

Kondisi yang meningkatkan risiko terjadinya stunting ini jelas membutuhkan solusi nyata untuk meningkatkan daya beli dan ketercukupan pangan yang bergizi. Solusi ini jelas membutuhkan peran nyata negara sebagai pelindung rakyatnya, yang tidak mungkin terwujud dalam sistem kapitalisme.

Sayangnya, saat ini justru sistem kapitalismelah yang diterapkan oleh mayoritas negara di dunia. Sistem ekonomi kapitalisme—dengan pasar bebasnya—melegalisasi berlakunya hukum rimba dalam kehidupan. Yang kuat akan makin kaya, yang lemah makin terpinggirkan, sebagaimana fakta saat ini.

Negara bahkan abai dengan tanggung jawabnya sebagai pelindung dan penjamin rakyat. Kapitalisme membuat negara yang kaya sumber daya alam menjualnya ke swasta dan asing, dan memiskinkan rakyatnya sendiri. Kondisi ini jelas mengakibatkan kemiskinan terus terjadi. Karenanya, mustahil stunting bisa teratasi selama negara masih menerapkan kapitalisme.

Islam Solusi Tuntas Stunting

Islamlah satu-satunya harapan untuk memberantas stunting. Islam mewajibkan negara untuk menjamin kesejahteraan setiap individu rakyat, termasuk anak-anak.

Islam mengharuskan Khalifah sebagai kepala negara bertanggung jawab melayani kebutuhan rakyat, termasuk dalam mencegah adanya stunting. Khalifah akan memperhatikan kualitas generasi karena generasilah yang akan membangun peradaban masa yang akan datang.

Dengan penerapan sistem ekonomi Islam, negara akan mengatur kepemilikan negara dan mewajibkan pengelolaan kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, negara akan memiliki sumber pendapatan yang besar, sehingga rakyat individu per individu terpenuhi kebutuhan hidupnya dan terhindar dari kemiskinan.

Negara juga menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan sesuai dengan gizi seimbang secara berkualitas. Sumber pendapatan yang kuat ini juga membuat Khilafah mampu menghadapi pandemi, sehingga tidak terjadi kemiskinan dan stunting pun dapat dicegah.

Dengan dukungan sistem kesehatan dan sistem lainnya, negara Khilafah mampu memberantas stunting dengan tuntas, bahkan mampu mencegah terjadinya stunting pada keluarga yang berisiko stunting.

Keimanan dan ketakwaan Khalifah bersama seluruh jajarannya akan menjadikan mereka sungguh-sungguh mengurusi rakyatnya dengan penuh tanggung jawab, karena menyadari kepemimpinan mereka akan dimintai pertanggungjawaban Allah di akhirat kelak.

Dengan demikian, Khilafah akan mampu mewujudkan generasi yang berkualitas bebas dari stunting, yang siap mewujudkan peradaban yang mulia. [MNews/Gz]


Referensi:

[1] http://www.tnp2k.go.id/images/uploads/downloads/Buku%20Ringkasan%20Stunting.pdf

[2] https://stunting.go.id/pemerintah-daerah-harus-jadikan-pencegahan-stunting-prioritas-pembangunan/

[3] https://data.unicef.org/topic/nutrition/malnutrition/

[4] https://www.kompas.com/sains/read/2020/08/03/072300823/pbb–hampir-7-juta-anak-terancam-stunting-akibat-pandemi-covid-19?page=all

[5] https://mediaindonesia.com/humaniora/410262/program-pengentasan-stunting-masih-menunggu-perpres

[6] https://www.kompas.com/tren/read/2020/01/20/123448265/harta-2153-orang-terkaya-setara-dengan-uang-46-miliar-penduduk-termiskin-di?page=all

[7] https://money.kompas.com/read/2021/04/17/071559526/jumlah-orang-kaya-dunia-capai-27-juta-total-kekayaan-rp-388600-triliun?page=all

[8] https://medium.com/illumination/could-the-richest-man-in-the-world-end-world-hunger-d26271a4f7a8

[9] https://www.dw.com/id/di-indonesia-kekayaan-4-orang-terkaya-setara-kekayaan-100-juta-penduduk-termiskin/a-37688128

Tinggalkan Balasan