[News] Kontribusi Sains Bervisi Ideologis untuk Peradaban Islam

MuslimahNews.com, NASIONAL — “Sains memiliki kontribusi dalam peradaban Islam, dan ini semua berasal dari Islam sebagai jalan hidup dinamis dengan akidah yang menjadi dasar powerful intelektual,” demikian disampaikan Prof. Dr. Sharifuddin M. Zein dari University of Malaya pada International Conference of Islamic Civilization (ICIC) 2021, yang kemudian mengutip firman Allah Swt.,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS Ali Imran: 190—191)

Ia menjelaskan Islam menyerukan kepada manusia untuk merenungkan sifat alam semesta secara mendalam untuk membangun bukti yang nyata tentang keberadaan Sang Pencipta, dan untuk beribadah kepada-Nya. Kemudian menjadi landasan bagaimana peradaban Islam itu dibangun termasuk di bidang sains dan teknologi.

“Sejarah menunjukkan bahwa sebagian besar perkembangan ilmu pengetahuan oleh umat Islam dicapai di bawah naungan Islam, bukan ketika Islam secara paksa disingkirkan dari kehidupan kaum muslimin. Yang menjadi pertanyaan, mengapa dunia Islam mengalami kemunduran dalam sains? Maka, ini adalah persoalan yang harus dipikirkan, dan dicari penyebab di baliknya untuk memperoleh perubahan,” tegasnya.

Upaya Dunia Muslim, Tidak Mencari Solusi yang Tepat?

Ia memotret kondisi dunia muslim saat ini yang menghadapi kesenjangan pengetahuan karena kekurangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Dengan 57 negara anggota OKI yang mencakup hampir seperempat populasi dunia, kontribusi yang diberikan baru 2,4% total pengeluaran dunia untuk penelitian dan pengembangan.

“Selain itu, peneliti di negara-negara OKI hanya berjumlah 695.150 dari total global sekitar 6,7 juta atau hanya 10% dari total jumlah peneliti yang tercatat di dunia. Dan dari 1.900 universitas di negara-negara OKI, hanya University of Malaya yang masuk top 100 di dunia,” urainya.

Baca juga:  Penjajahan Berkedok Penelitian

Ia memaparkan, kontribusi para intelektual muslim dalam hal sains sepanjang sejarah peradaban Islam didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunah. Keduanya menempatkan nilai-nilai pendidikan dan menekankan pentingnya memperoleh pengetahuan, serta memainkan peran penting dalam memengaruhi muslim pada masa itu dalam pencarian mereka untuk pengetahuan dan pengembangan badan-badan ilmu.

“Ilmu eksakta, matematika, astronomi, dan optik, mungkin menjadi kebanggaan tersendiri bagi para cendekiawan muslim. Tetapi ilmu alam, khususnya kedokteran dan disiplin ilmu tambahannya, juga dikembangkan dengan tekun,” terangnya.

“Bahasa internasional di bidang sains juga adalah bahasa Arab yang dipakai selama 700 tahun. Dan masa keemasan Islam adalah periode perkembangan budaya, ekonomi, dan ilmiah dalam sejarah Islam, yang secara tradisional berasal dari abad ke-8 hingga abad ke-14. Di masa ini, Al-Quran dan Sunah menjadi framework dalam setiap hal termasuk sains,” lanjutnya.

Oleh sebab itu, perlu langkah strategis bagi intelektual muslim untuk mendapatkan kembali kejayaan bidang ilmu sains. Yang sebenarnya, dunia muslim mengetahui hal ini, dan bukannya tidak ada upaya untuk mengubah situasi ini. Ia menyebutkan beberapa contoh yang telah dilakukan:

Pertama, pembentukan The Islamic Educational Scientific and Cultural Organization (ISESCO) untuk meningkatkan koordinasi dan kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kedua, pembentukan ISESCO Centre for Promotion of Scientific Research (ICPSR) untuk menyubsidi promosi penelitian ilmiah, pengembangan teknologi, inovasi, dan penguatan fondasi penelitian ilmiah saintifik.

Ketiga, Islamic Development Bank (IDB) memberikan pinjaman untuk proyek-proyek produktif, membantu dalam promosi perdagangan antarnegara Islam, memberikan penghargaan untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, dan memberikan beasiswa bagi program sarjana, M.Sc., PH.D., dan pascadoktor.

Baca juga:  Islam dan Revolusi Industri 4.0

Keempat, setiap negara OKI memiliki upaya masing-masing dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penelitian dan pengembangan.

“Tetapi apakah perjalanan muslim masih panjang (untuk mendapatkan kejayaan) atau mungkin kita tidak mencari solusi yang tepat?” tanyanya retorik.

Kemajuan Sains dalam Peradaban Islam Berikatan Erat dengan Kehidupan Politiknya

Prof. Sharifuddin mengutip pernyataan Adam Smith, dalam The Wealth of Nations disebutkan,

“… the empire of the Caliphs seems to have been the first state under which the world enjoyed that degree of tranquillity which the cultivation of the sciences requires. It was under the protection of those generous and magnificent princes, that the ancient philosophy and astronomy of the Greeks were restored and established in the East; that tranquillity, which their mild, just and religious government diffused over their vast empire, revived the curiosity of mankind, to inquire into the connecting principles of nature.” (Adam Smith, History of Astronomy, The Essays of Adam Smith (London, 1869), p. 353)

“… Kekhilafahan tampaknya menjadi negara pertama di mana dunia menikmati tingkat ketenangan yang dibutuhkan oleh pengembangan ilmu pengetahuan. Di bawah perlindungan para Sultan yang dermawan dan agung itu, filsafat dan astronomi kuno Yunani dipulihkan dan didirikan di Timur; ketenangan itu, yang disebarkan oleh pemerintahan mereka yang lembut, adil dan religius di atas kerajaan mereka yang luas, menghidupkan kembali rasa ingin tahu umat manusia, untuk menyelidiki prinsip-prinsip penghubung alam.”

Prof. Sharifuddin menjelaskan, Adam Smith mengakui bahwa pengembangan sains dan teknologi di dunia Islam diikat erat dengan situasi politik kaum muslimin. Jadi, pengembangan sains dan teknologi ini tidak bersifat independen, melainkan tergantung dengan situasi politik dan visi ideologi. Suatu negara diakui maju ketika pembangunan sains dan teknologinya berjalan beriringan dengan visi ideologisnya.

Baca juga:  [Nafsiyah] Jangan Malas Berpikir Islami dan Ilmiah

“Namun sayangnya, ini tidak terjadi di lebih dari 50 negara-negara muslim saat ini. Masing-masing dalam kelemahannya bergerak dengan persepsi bahwa masing-masing memiliki kemampuan untuk mengatur diri sendiri,” tambahnya.

Ideologi negeri-negeri muslim saat ini, lanjutnya, adalah apa yang ditentukan Barat untuk mereka, pada akhirnya mengatur diri sendiri menjadi sekadar ilusi.

“Setiap usaha manusia yang layak dalam kerangka ekonomi nasional, didikte oleh cita-cita Barat. Saat ini, ideologi yang diterapkan adalah kapitalisme, dan Barat telah mengubah cara pandang dalam pengembangan sains dan teknologi ini,” jelasnya.

Membangun Sains dan Teknologi dengan Ideologi Islam

Maka, ia menegaskan, mata rantai nasionalisme dan kapitalisme harus diputus, dan ia berharap umat bergerak dengan ideologi Islam yang sebenarnya. Terkait hal ini, perlu strategi dua kali lipat, baik makro maupun mikro.

Dalam upaya makropolitik, perlu upaya yang terfokus dan terpadu untuk menegakkan kembali Islam di bawah negara ideologis. Juga harus ada upaya terus-menerus untuk melepaskan diri dari belenggu nasionalisme—khususnya dalam pengembangan sains dan teknologi—dengan selalu berpikir dan bertindak sebagai umat.

“Termasuk mendorong para pemimpin negara-negara muslim untuk fokus pada hubungan ilmiah dan teknologi yang serius satu sama lain atas nama persaudaraan Islam,” ungkapnya.

Sementara, strategi mikroindividu/kelompok harus dilakukan pada dakwah yang menegaskan bahwa Islam adalah jalan hidup tunggal dan tidak dikotomis.

Mereka yang terlibat dalam pendidikan harus berinovasi dalam proses teknologi untuk mencontohkan pendidikan sains sebagai bagian integral dari pendidikan Islam. Para peneliti harus bekerja untuk kolaborasi ilmiah/teknologi antarnegara muslim yang serius, kuat, dan gigih.

“Oleh sebab itu, harus membangun kembali ideologi ini agar kita mendapatkan kembali posisi mulia sebagai umat terbaik,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan