Ikhlas dalam Pengorbanan Tanpa Gangguan Kepentingan


Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq


MuslimahNews.com, OPINI — “Di tengah pandemi seperti saat ini, kita perlu kesediaan lebih banyak berkorban lagi, mengorbankan kepentingan pribadi, dan mendahulukan kepentingan masyarakat, serta sesama.” (Orang nomor 1 RI, Pidato peringatan Iduladha 1442 H (19/7/2021)).

Demikian kutipan pidato Presiden Jokowi. Sebagaimana diketahui, ini adalah kesempatan kedua kita merayakan Iduladha kala Corona masih melanda. Perayaannya pun tak semeriah biasanya karena bersamaan dengan adanya PPKM Darurat.

Apalagi di tengah duka yang mendalam, negeri ini menjadi episentrum persebaran Corona di dunia dengan tingkat kasus harian tertinggi (16/7/2021) sebanyak 54.000 dan kematian (18/7/2021) sebanyak 1.092 orang.

Maka, layaklah bila momen Iduladha ini dijadikan wasilah untuk memaknai sebuah pengorbanan. Setingkat pemimpin negara memang harus menjadi pionir rakyat dalam menghadapi wabah. Oleh karena itu, seharusnya kerja pemimpin bukan hanya “NATO” alias Not Action Talk Only, tetapi memberikan contoh yang terbaik bagi rakyatnya.

Mengajak Berkorban dan Mengesampingkan Kepentingan Pribadi

Pidato di atas tadi adalah satu contoh, yang mana Bapak Presiden mengajak kita semua untuk ikhlas dalam berkorban. Bahkan, kita diminta mengesampingkan kepentingan pribadi dan mendahulukan masyarakat. Ajakan yang baik, bukan? Oleh sebab itu, kita pun perlu merenungi, sudahkah kita semua memberikan pengorbanan terbaik?

Para Nabi, sahabat, dan penerus mereka, telah memberikan contoh bagaimana cara memberikan pengorbanan yang ikhlas. Nabi Ibrahim as. misalnya, merelakan dan melaksanakan titah Tuhan Semesta Alam, Allah Swt.. Beliau bersama anaknya, Ismail as., telah memberikan pengorbanan terbaiknya.

Baca juga:  Dicari, Pemimpin yang Dicintai Rakyatnya

Sang Ayah mengikhlaskan anaknya disembelih atas dasar perintah Sang Pencipta. Sedangkan sang anak merelakan dirinya jadi kurban demi ketaatannya pada Rabb Penguasa Jagat Raya.

Mus’ab bin Umair, sang delegasi Rasulullah saw., mengikhlaskan seluruh hartanya, kasih sayang orang tua, juga ketenaran demi keimanan pada dua kalimat syahadat. Bahkan ia segera berangkat ke Madinah untuk menjadi juru dakwah di sana atas perintah kekasih-Nya. Pengorbanan yang tak kalah besar ketika di Perang Uhud, demi mempertahankan panji Rasulullah saw., ia rela kehilangan dua tangannya hingga syahid di medan perang.

Saad bin Muadz, seorang Anshar yang mampu membuat Arsy-Nya bergetar atas kematiannya. Hal itu terjadi karena ia mampu mengorbankan kepentingannya. Pada waktu Mus’ab bin Umair datang menemuinya dan menyampaikan wahyu Allah Swt., seketika itu juga ia beriman, taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Padahal, ia belum pernah bertemu Rasulullah saw..

Demikian pula Umar bin Khaththab, amirulmukminin yang hanya memikirkan keperluan umat. Diceritakan, waktu malam Khalifah Umar dibagi menjadi tiga bagian: untuk keluarga, Allah, dan rakyatnya. Setiap hari, Umar melakukan sidak agar mengetahui kekurangan dan kondisi rakyatnya. Ketika terjadi bencana, beliau tidak akan makan sebelum memastikan semua rakyatnya tidak kelaparan.

Baca juga:  Jika Amal Beterbangan Bagai Debu

Itulah beberapa cuplikan sifat dan sikap yang harusnya dimiliki setiap orang, terutama seorang pemimpin. Hendaknya mereka menjadi panutan sekaligus pelindung warganya, memiliki sifat ikhlas dalam berkorban. Tanpa pandang bulu, tanpa kepentingan pribadi, serta atas dasar tuntunan wahyu Ilahi, bukan “wahyu” konstitusi.

Pengorbanan Terbesar adalah Menundukkan Hawa Nafsu

Manusia memiliki naluri eksistensi diri. Dengan ini mereka merasa menjadi terbaik dan segala yang dilakukan sudah benar. Padahal, sering dijumpai ternyata aktivitas yang dilakukan tak sesuai tuntunan syariat.

Maka, bagi seorang muslim, kondisi seperti ini perlu diperbaiki. Perilaku seorang muslim wajib senantiasa terikat dengan hukum syariat, baik ia rakyat atau pejabat. Semua perlu menundukkan hawa nafsunya di hadapan Penguasa Alam.

Seorang muslim pun wajib memiliki sikap sabar—dalam segala hal. Hal ini didasarkan pada hadis dari Ali bin Abi Thalib ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,

“Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam menjalankan ketaatan, dan sabar dalam menghindari kemaksiatan.

Siapa yang sabar dalam menghadapi musibah sehingga mampu menjalaninya dengan baik dengan segala kekuatan hatinya, Allah akan mencatat untuknya sebanyak 300 derajat yang antara satu derajat dengan derajat yang lain seperti jarak antara langit dengan bumi.

Siapa yang sabar dalam menjalankan ketaatan, Allah akan mencatat untuknya 600 derajat yang antara satu derajat dengan derajat yang lain seperti jarak antara batas dasar bumi hingga puncak ‘Arasy.

Siapa yang sabar dalam menghindari kemaksiatan, Allah akan mencatat untuknya 900 derajat yang antara satu derajat dengan derajat yang lain seperti jarak dua kali antara batas dasar bumi hingga puncak ‘Arasy.” (HR Ibnu Hibban, Ibnu Abid Dun-ya, dan Dailami)

Baca juga:  Kembalinya Khilafah Bukan Mimpi di Siang Bolong

Sabar dalam ketaatan adalah bentuk pengorbanan terbesar. Butuh keikhlasan dalam melaksanakannya. Butuh menundukkan hawa nafsu, terutama menundukkan naluri eksistensi diri. Taat bukan sekadar menjalankan salat, tapi melaksanakan seluruh syariat.

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)

Selain itu, juga sabar dalam menghindari maksiat. Bentuk kemaksiatan bukan hanya menenggak miras atau makan makanan haram, tapi kemaksiatan terbesar adalah jika dilakukan oleh pemimpin. Ketika tidak menerapkan aturan dan membuat kebijakan sesuai petunjuk Ilahi, itulah bentuk kemaksiatan yang besar. Sebab, rakyat akan mudah terpengaruh dan turut melakukan maksiat.

Jadi, jika kita ingin ikhlas berkorban, tidak mementingkan keperluan pribadi, dan hanya memikirkan kesejahteraan rakyat, semua itu akan terwujud kalau kita taat total dan meninggalkan segala kemaksiatan. Tidak peduli rakyat atau pejabat, semua harus kembali kepada syariat. Sebagaimana Nabi dan para sahabat, tanpa berkata tapi, senantiasa tunduk pada firman Ilahi. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan