[News] Filosofi dan Landasan Kebangkitan Harus Ditanamkan di Dunia Islam

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Prof. Dr. Muhammad Malkawi dari Capitol Technology University, United States pada International Conference of Islamic Civilization (ICIC) 2021 menyatakan sumbangan sains dan teknologi di dunia muslim hari ini hampir tidak ada, baik di negara kaya maupun negara miskin.

“Padahal di sejarah peradaban Islam, muslim menjadi perintis dan pendukung teknologi baru, ilmu baru, ide-ide baru, pemikiran baru, dan filosofi baru. Tetapi saat ini, hampir di setiap komunitas muslim dan negara tempat muslim berada, benar-benar masuk daftar belakang,” ujarnya.

Menurutnya, filosofi utama ketika melihat sains, teknologi, bahkan peradaban, hukum, keadilan, integritas, semuanya adalah hasil dari sesuatu yang disebut kebangkitan.

“Kebangkitan merupakan dasar penting perilaku manusia. Perilaku ini didasarkan pada struktur metodologi berpikir yang sangat baik, sehingga tidak bisa acak dan tidak bisa datang begitu saja. Harus ada fondasi tertentu,” ucapnya.

Kebangkitan Muslim Era Rasulullah dan Masyarakat Eropa Abad Pertengahan

Prof. Malkawi membandingkan dua contoh yaitu ketika Rasulullah saw. datang di tengah masyarakat jahiliah dan Eropa abad pertengahan. Pada masyarakat Arab Makkah sebelum datang Islam, mereka terikat secara emosional dengan kesukuannya. Landasan masyarakat dan individunya hanyalah naluri bertahan hidup, dan penyembahan berhala hanya karena dorongan naluri ibadah.

Ketika Rasulullah saw. datang, Rasulullah memperkenalkan Islam dengan metode berpikir. Untuk beribadah kepada Allah, harus berpikir dan meyakini Allah itu ada. Memahami Allah adalah Sang Pencipta, Muhammad adalah rasul, dan Al-Qur’an adalah bukti. Semua ini terstruktur secara fundamental.

Begitu pula masyarakat Eropa di abad pertengahan saat itu mirip dengan keadaan masyarakat Arab sebelum datang Islam. Mereka terikat dengan agama dan gereja berdasarkan intuisi dan naluri tertentu. Tidak memiliki basis ideologi yang dapat mengangkat kehidupan mereka. Hingga mereka memiliki filosofi yang masuk dari Italia, Inggris, dan Prancis.

Selama hampir 100 tahun mereka mendiskusikan dan membicarakan dasar-dasar filosofis dengan cara berpikir tentang bagaimana untuk hidup. Sampai mereka menyimpulkan harus bisa memisahkan antara gereja dan negara. Selanjutnya memperkenalkan kebebasan berbicara, kebebasan kepemilikan, kebebasan beragama dan seterusnya.

Atas dasar ini mereka mampu membangun dengan apa yang dikenal sebagai demokrasi dan kapitalisme. Yang secara fundamental didasarkan pada ide-ide tertentu mereka dalam mengendalikan nalurinya.

“Dan ideologi ini mampu membangkitkan Eropa yang tampak dari kemajuan besar melalui revolusi industri dan revolusi ilmiah. Sampai saat ini telah membawa kemajuan, termasuk perilakunya, setuju atau tidak, didasarkan pada landasan tertentu yaitu kebebasan berbicara,” jelasnya.

Dunia Muslim Saat Ini Kebanyakan Tidak Memahami Islam Sebagaimana Para Sahabat Rasulullah

Prof. Malkawi menunjukkan, hari ini di dunia Islam, umat Islam memiliki landasan ideologis yaitu percaya pada Islam. Namun, selama hampir 100 tahun keyakinan itu hanya melekat secara emosional pada kepercayaan sebelumnya.

Kebanyakan tidak memahami Islam dengan cara yang sama seperti yang dirasakan Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan sahabat Rasulullah lainnya yang menanamkan Islam di dalam pikiran dan akal mereka sebagai pendorong perilaku dan kehidupannya. Islam yang mampu menghidupkan dan membangkitkan masyarakat Arab dan mengangkatnya sebagai orang-orang pilihan.

“Bahkan dunia juga menyaksikannya sebagai yang paling beradab dan maju dalam sejarah manusia. Menggabungkan moralitas perilaku individu, masyarakat, hukum, ketertiban, keadilan, dan lainnya,” cetusnya.

Ia mengutip pernyataan Noah Feldman dalam The Fall and Rise of the Islamic State (2009) yang mengatakan negara dan peradaban (Islam) dikenal sebagai masyarakat atau negara dengan hukum, ketertiban, dan keadilannya adalah untuk semua orang di semua aspek.

“Tapi di dunia Islam saat ini terjadi kurangnya hukum, ketertiban, dan keadilan di tengah masyarakat. Bahkan teknologi dan pendidikannya serampangan. Kita telah menjadi laboratorium pengujian kurikulum dan sistem pendidikan untuk Inggris, Prancis, atau Amerika di masa depan,” kritiknya.

Ia melihat kondisi umat Islam saat ini adalah tidak menginternalisasikan landasan ideologi Islam dalam perilaku individu dan masyarakat, serta tidak diterapkan di semua aspek kehidupan seperti ekonomi, politik, sosial, dan seterusnya.

“Yang ada adalah ide campuran, sehingga terjadi banyak kontradiksi di dalam kehidupan dunia Islam,” ungkapnya prihatin.

Filosofi Dasar dan Landasan Kebangkitan Islam

Untuk itu, lanjutnya, filosofi dasar kebangkitan Islam adalah memastikan kita memiliki fondasi yang harus menjadi sumber semua ide dan pemikiran yang membangun kompleksitas masyarakat. Mengontrol hubungan di dalam masyarakat. Juga keterkaitan masyarakat Islam itu dengan Negara Islam (ketika sudah ada).

“Negara Islam yang disebut Khilafah ini adalah hasil dari kebangkitan. Khilafah akan bertanggung jawab memastikan proses kebangkitan terus berlanjut, serta menjadi pelopor dan pelindung kebangkitan itu,” terangnya.

Hari ini, tanpa adanya fondasi fundamental tersebut yang akan menghidupkan umat, negara (Islam) tidak akan ada dan kemajuan pun tidak akan terjadi.

“Untuk itu mesti ada kerinduan yang tinggi agar integritas moral, ketertiban, dan keadilan yang ada, sama ketika Rasulullah menjadikan akidah sebagai dasar keimanan dan keyakinan kepada Allah sebagai pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan. Hanya aturan-Nya yang mutlak, bebas bias, dengan pengetahuan yang komprehensif tentang sebelum, saat ini, dan setelah kehidupan, sehingga menjadikan umat konsisten dan produktif,” paparnya.

“Umat mesti memahami esensi bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan. Allah yang tahu apa yang sesuai untuk manusia sebagai manusia, baik secara internal maupun eksternal. Untuk berusaha di dunia ini dan mempertanggungjawabkannya tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Inilah akidah yang lengkap,” imbuhnya.

Ditekankannya, setelah akidah ini menjadi dasar memancarkan hukum dan sistem, menjadi satu-satunya pengendali dan pendorong perilaku baik terkait hubungannya dengan Allah, hubungannya dengan orang lain, maupun dengan dirinya sendiri, maka jalan kebangkitan itu telah dimiliki dan seseorang itu telah berada di dalamnya.

“Tapi jika tidak, dan justru terkadang memilih kapitalisme, terkadang demokrasi, atau juga sosialisme maka tidak akan bisa. Harus satu inspirasi dan satu fondasi yang menjadi penggerak dan pendorong. Itulah yang dibutuhkan saat ini. Kaum muslimin di seluruh dunia perlu menanamkan akidah dan menjadikannya fondasi kemajuan dan kembalinya kebangkitan Islam,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan