Keluarga Muslim, Belajarlah dari Keluarga Ibrahim as.


Penulis: Najmah Saiidah


MuslimahNews.com, KELUARGA – Setiap datang Iduladha atau hari raya kurban, kita semua akan selalu mengingat keluarga ini. Ya, keluarga Nabi Ibrahim as.. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh keluarga muslim dari keluarga Nabi Ibrahim. Ketaatannya kepada Allah, kesabarannya, kerelaan berkorban, serta bagaimana mendidik anak tidak diragukan lagi.

Kilas Balik Peristiwa Pengorbanan Keluarga Nabi Ibrahim as.

Setelah selamat dari upaya pembunuhan kaumnya dan terbebas dari kezaliman Raja Namrud, Ibrahim as. hijrah menuju Syam. Tepatnya ke Baitulmaqdis, Palestina (Lihat: Ash-Shaffat: 99). Ibrahim bersama keluarganya menetap sementara di Haran. Di kota ini Ibrahim as. menentang penyembahan mereka yang menyembah bintang, bulan, dan benda langit lainnya (Lihat: Al-an’am :75-83). Ibrahim as. dan keluarganya melanjutkan perjalanan ke Baitulmaqdis setelah sebelumnya mampir di Mesir.

Dari Mesir, Ibrahim as. mendapat banyak hadiah harta, binatang ternak, budak, dan pembantu bernama Hajar yang keturunan Qibti. Selama dua puluh tahun tinggal di Baitulmaqdis, Ibrahim as. tidak mendapatkan keturunan sehingga istrinya, Sarah, merasa kasihan dan memberikan budaknya pada Ibrahim. Setelah itu lahirlah Ismail, hingga akhirnya Ibrahim as. membawa pergi Hajar dan putranya.

Mereka berjalan kaki menyusuri gurun pasir yang ganas dari Syam (Syria) hingga sampai di suatu daerah, Gunung Faran di Makkah. Lelaki tua itu menempatkan istri dan anaknya di lembah yang tidak ditumbuhi satu pun tumbuhan. Sebuah lembah yang kering, gersang, dan asing, lalu beliau pergi meninggalkan mereka berdua.

Disebutkan dalam riwayat, ketika Ibrahim as. akan meninggalkan keduanya, Bunda Hajar dalam kondisi menyusui. Ketika Ibrahim meninggalkan keduanya dan memalingkan wajah, Hajar bangkit dan memegang baju Ibrahim, “Wahai Ibrahim, mau ke mana? Engkau akan meninggalkan kami di sini padahal tidak ada bekal apa pun yang mencukupi kami?” Ibrahim tidak menjawab. Hajar bertanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajar berkata, “Kalau begitu pergilah, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.”

Ibrahim meninggalkan putra dan istri yang dicintainya, demi menyambut seruan Allah (Lihat: QS Ibrahim: 37—40). Sebuah episode pengorbanan yang dalam dan sangat mengagumkan.

Lebih dari 80 tahun Ibrahim as. menantikan kehadiran keturunan, tapi ketika ia hadir di pangkuannya, ia harus meninggalkannya dan justru membawa anaknya ke lembah itu. Seakan-akan ia hanya datang menitipkan mereka kepada alam. Namun demikian, mereka tunduk pada perintah Allah dan meyakini kebenaran janji-Nya. Betapa agung kedudukan mereka di sisi Allah Swt..

Hajar seperti tak berdaya, di sekelilingnya hanya terhampar padang pasir yang tandus. Tanpa putus asa dia pun berjalan mencari tempat yang lebih tinggi untuk melihat-lihat, adakah mata air untuk melepas dahaga sang anak dan dirinya.

Dia pergi ke bukit Shafa, lalu turun dari Shafa, kemudian menuju bukit berikutnya, Marwa. Sesampai di puncak Marwa, ia tidak temukan apa pun, lalu segera turun dan berlari menuju Shafa, berulang-ulang sebanyak tujuh kali. Diawali di bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwa. Rasulullah saw. bersabda, “…karenanya orang-orang melakukan sai antara Shafa dan Marwa.

Putus sudah harapan Hajar kepada makhluk, hanya berharap kepada Allah seraya memanjatkan doa. Tiba-tiba dia mendengar suara, “Engkau telah panjatkan doa memohon pertolongan.” Seketika sesosok malaikat tepat berada dekat kaki sang bayi sambil memukul-mukulkan tumit ke tanah hingga air yang penuh berkah memancar. Hajar mengumpulkan air dan memagarinya dengan pasir hingga air menggenang setinggi betis. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya ketika Jibril menggerakkan (agar air menggenang), semoga Allah merahmati Hajar, kalau saja tidak menghimpunnya, hanya akan menjadi mata air biasa.”

Nabi Ibrahim as. memanjatkan doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an,

Baca juga:  [Persepsi Berbahaya] Dialog Antarperadaban (Bagian 3/3)

“Ya Tuhan Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim : 7)

Ismail tumbuh menjadi anak yang berbakti, sangat taat kepada Allah Swt.. Betapa senangnya Ibrahim as., apalagi Sang Putra menjelang remaja, sebagai tunas yang kelak menggantikan misi kenabian, keinginannya memiliki anak ia adukan kepada Allah agar kelak risalahnya tidak mati sepeninggalnya.

Akan tetapi, anak yang sangat dicintainya ini harus disembelih. Al-Qur’an mengisahkan secara dramatis dalam QS Ash-Shaffat: 102–109.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’

Dengan penuh iman dan ketaatan, ayah dan anak ini—Nabi Ibrahim as. dan Ismail as.—menunaikan perintah Yang Mahakuasa. Dikerjakanlah perintah Allah tersebut. Namun, Allah mengutus malaikat untuk menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba. Sungguh sebuah peristiwa yang luar biasa!

Pelajaran Berharga Bagi Keluarga Muslim

Masyaallah! Luar biasa puncak keimanan yang dimiliki oleh tiga anak manusia, Ibrahim as., Bunda Hajar, dan Ismail as.. Ketaatan dan ketundukannya kepada Allah mengalahkan segalanya, serta kesabaran, keikhlasan, dan pengorbanan yang luar biasa.

Pada awal kelahirannya, Sang Ayah harus berpisah dengan anak dan istri yang sangat dicintainya. Bunda Hajar, istri Nabi Ibrahim harus ikhlas ditinggalkan suaminya—hanya berdua—di tengah padang pasir bersama dengan anak masih bayi. Karena ia paham bahwa ini adalah perintah Allah, maka ia yakin Allah pasti akan menjaga dan melindungi.

Anak yang sangat diidam-idamkan, dalam penantian yang sangat panjang, dididik dan dibina dengan baik, tersirat harapan besar akan sang pelanjut misi suci kenabian. Akan tetapi, tiba-tiba Sang Khalik memerintahkannya untuk menyembelih putra tercintanya ini.

Sang Nabi dihadapkan pada dua pilihan sulit, apakah taat pada perintah Allah atau mengikuti rasa cintanya kepada sang putra? Bukan pilihan yang mudah bagi manusia pada umumnya. Namun, naluri iman membimbingnya untuk tunduk kepada titah Sang Khalik. Tanpa ragu sedikit pun, Ibrahim as. memenuhi perintah Allah Swt..

Baca juga:  [Persepsi Berbahaya] Dialog Antarperadaban (Bagian 3/3)

Demikian halnya Sang Putra tercinta, Ismail pun dengan lantang, tegar, penuh kepasrahan, dan keyakinan, bersedia untuk disembelih oleh tangan ayahnya sendiri. Yang dilakukannya semata-mata karena ketaatan dan ketundukannya kepada Allah Swt.. Ia yakin Allah akan memberinya yang terbaik, dan yang terbaik bagi dirinya adalah bersikap sabar dan ikhlas.

Keluarga Ibrahim as., Profil Keluarga Ideal

Keluarga Nabi Ibrahim merupakan salah satu profil keluarga ideal yang dikisahkan dalam Al-Qur’an. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kisah perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim as.

Pertama: Keteladanan Nabi Ibrahim sebagai suami dan ayah.

Dalam keluarganya, Nabi Ibrahim as. adalah kepala keluarga yang yang bertanggung jawab, berkepribadian luhur, cinta pada keluarga, dan berperilaku sesuai dengan tuntunan agama. Ia membina keluarganya sesuai dengan tuntunan Allah Swt..

Sebagai suami, Ibrahim berlaku adil kepada kedua istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar, taat kepada Nabi Ibrahim as. yang dilandasi ketaatan kepada Allah Swt. Ketaatan mereka tentu tidak terlepas dari kemuliaan pribadi Ibrahim sebagai pemimpin dalam rumah tangga dan ketaatannya kepada Allah Swt..

Sebagai suami, tampak jelas bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang kepala keluarga yang mampu menjalankan kewajibannya sebagai suami, memenuhi kebutuhan keluarganya, mampu mendidik istrinya dengan baik, menjadi istri yang penuh ketaatan kepada Allah dan kepada suaminya, mampu membina istri dan anak-anaknya, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk mengubah orang-orang yang dipimpinnya, termasuk istri dan anak-anaknya.

Sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim as. tampil sebagai ayah yang bertanggung jawab, pendidik yang penuh kasih sayang dan menjadi teladan.

Mari kita perhatikan dialog Nabi Ibrahim ketika menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!Ia menjawab,Duhai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ (QS Ash-Shaffat: 102)

Dalam dialog yang dikemukakan Al-Qur’an di atas, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya. Hal ini tergambar dari pilihan kata yang digunakannya ketika menyeru buah hatinya: yaa bunayya (hai anakku). Penggunakan kata “yaa bunayya” merupakan panggilan penuh kasih sayang.

Kemudian, kita bisa melihat bagaimana ketika Ibrahim meminta pendapat anaknya ketika diperintah untuk menyembelihnya. Jawaban yang cerdas dan penuh ketaatan, hasil didikan ayah dan ibu yang tidak diragukan lagi keimanannya.

Kedua, keteladanan ibunda Hajar, ibu yang tangguh.

Sesungguhnya, hanya perempuan pilihan sajalah yang bisa melewati apa yang dihadapi oleh bunda Hajar. Beliau berhasil lulus dari berbagai rintangan dan cobaan yang dihadapinya. Bunda Hajar memainkan perannya sebagai ibu yang penuh tanggung jawab dalam mendidik anaknya, ibu yang tangguh, pantang menyerah, dan tak kenal putus asa.

Ketika bayi Ismail meronta kehausan, Hajar berlari-lari mencari air. Dari Shafa ke Marwa, berulang-ulang untuk mencari air demi memenuhi kebutuhan anaknya. Peristiwa itu kemudian diabadikan dalam ibadah sai ketika haji dan umrah.

Baca juga:  [Persepsi Berbahaya] Dialog Antarperadaban (Bagian 3/3)

Bunda Hajar juga menyerang Iblis dengan lontaran batu ketika Iblis mencoba untuk merusak jiwa anaknya agar menolak keputusan Ibrahim menyembelih Ismail atas perintah Allah. Lontaran batu itu juga menjadi ibadah lontar jumrah dalam ibadah Haji. Hal ini menunjukkan bahwa bunda Hajar melindungi fisik dan jiwa anaknya.

Sebagai istri, bunda Hajar adalah sosok istri yang patuh pada suami dan taat kepada Allah. Meskipun terasa berat menerima keputusan Ibrahim untuk taat pada perintah Allah agar menyembelih putra semata wayangnya, tetapi demi kepatuhannya kepada sang suami dan ketaatannya pada Allah, bunda Hajar ikhlas tanpa bantahan sekecil apa pun. Inilah teladan seorang ibu dan istri salihah.

Ketiga, profil Ismail sebagai anak saleh dan tangguh.

Ismail adalah anak yang patuh, tidak pernah membantah perintah ayahnya. Semua ini dilakukan Ismail karena ketaatan dan keimanan yang tinggi kepada Allah Swt. Hal ini terbukti ketika Ismail diberitahu ayahnya bahwa ia diperintahkan untuk menyembelihnya.

Yang dilakukan Ismail adalah menerimanya dengan ikhlas, bahkan ia menguatkan hati ayahnya agar tabah menjalankan perintah tersebut. Ia berkata, “Duhai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kesalehan Ismail sudah seharusnya menjadi inspirasi dan teladan bagi generasi muda saat ini. Seorang pemuda harus siap berkorban apa saja untuk berbakti kepada Allah dan orang tua. Waktu, pikiran, tenaga, bahkan jiwanya sekalipun, ia korbankan demi baktinya pada Allah dan kedua orang tua.

Selain itu, bagaimana Ismail memberikan dukungan dan semangat yang luar biasa kepada ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah dan tetap konsisten menegakkan kebenaran, ditambah ketaatan dan kemuliaan pribadi sang anak akan memberi energi positif kepada orang tuanya.

Khatimah

Demikianlah sosok keluarga Ibrahim as., keluarga yang penuh dengan keimanan, ketaatan, pengorbanan, keikhlasan, dan kesabaran yang luar biasa. Keimanan yang kukuh dan ketaatan sepenuhnya kepada Allah inilah yang menjadi kunci dari keberhasilan keluarga Nabi Ibrahim as.. Karena itu, Allah menganugerahkan kebahagiaan pada keluarganya. Bahkan melalui istri pertama, bunda Sarah, akhirnya keluarga Ibrahim dikaruniai anak kedua—Ishaq—yang kelak juga menjadi nabi. Semua itu disyukuri oleh Nabi Ibrahim as. “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq.

Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari keluarga Nabi Ibrahim as.. Keimanan dan ketaatan yang tinggi, kesabaran dan keikhlasan seluas samudra, serta pengorbanan yang tinggi, meliputi seluruh jiwa anggota keluarga.

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk membina diri kita dengan Islam dan mendidik anak-anak kita sesuai Islam, sehingga lahir generasi yang cerdas sekaligus memiliki keimanan dan ketaatan yang tinggi, ikhlas, sabar, dan rela berkorban untuk Islam. Amin. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan