Imam Qatadah, Sang Imam Tunanetra

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF —  “Aku tidak menyangka Allah azza wajalla menciptakan manusia dengan kekuatan hafalan sepertimu,” tukas Sa’id bin Musayyib rahimahullah. Sampai sedemikian halnya kekaguman seorang penghulu ulama tabiin, Sa’id bin Musayyib terhadap hafalan muridnya ini.

Siapakah dia hingga begitu kagum dengan kapasitas hafalannya?

Beliau adalah Qatadah bin Di’amah bin Qatadah bin Aziz, namun dalam pendapat lain namanya adalah Qatadah bin Di’amah bin ‘Ukabah As Sadusi Al Bashri rahimahullah. Adapun As-Sadus berasal dari Bani Syaiban bin Dzuhl bin Tsa’lab bin Bakr bin Wail yang merupakan suku Arab bagian utara.

Adz Dzahabi rahimahullah menyebut beliau sebagai Hafizhul Ashr (penghafal di masanya) dan Qudwatul Mufassirin wal Muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadis). Ulama tabiin dengan banyak kelebihan ini dilahirkan pada tahun 60 H dan terlahir dalam keadaan kedua matanya buta.

Imam Qatadah sudah menjadi tunanetra sejak dilahirkan dari rahim ibunya. Namun, keterbatasan fisik tersebut tidak menjadi penghalang besar bagi beliau menuntut ilmu hingga mencatatkan diri sebagai ulama besar.

Imam Qatadah pernah menimba ilmu dari beberapa sahabat Nabi saw.. Seperti Anas bin Malik ra., Abdullah bin Sarjis ra., Handzalah Al Katib ra., Abu Thufail al-Kinani ra., Anas bin An-Nadhr ra., dan selainnya.

Setelah masa sahabat, Imam Qatadah belajar kepada ulama-ulama besar tabiin yang sezaman dengannya. Imam adz-Dzahabai mencatat bahwa guru Imam Qatadah saat itu terdiri dari 42 tabiin, di antaranya seperti Said bin al-Musayyib, Abul Aliyah, Zurarah bin Aufa, Atha’ bin Abi Rabah, Imam Muhammad bin Sirin, Abi Mulih bin Usamah, Imam Hasan al-Bashri dan yang lainnya.

Bahkan, menurut Imam adz-Dzahabi, Qatadah berguru kepada Imam Hasan al-Bashri selama dua belas tahun. Dengan bermodalkan semangat dan mengandalkan pikirannya, Qatadah mampu melahap semua ilmu yang diajarkan oleh guru-gurunya. Tidak hanya paham, ia menghafal semuanya.

Maka, tidak heran jika Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’ mengatakan bahwa ia sebagai Hafidzhul Ashr (penghafal di masanya) dan Qudwatul Mufassirin wal Muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadis).

Meskipun tunanetra, Qatadah dianugerahi hafalan yang kuat dan ingatan yang begitu kokoh. Mathar mengatakan, “Apabila Qatadah mendengar suatu hadis maka ia langsung bisa menghafalnya.”

Imam Ahmad rahimahullah pernah membicarakan tentang Qatadah secara panjang lebar dan memaparkan tentang keilmuan, kefakihan dan pengetahuannya tentang khilaf ulama dan ilmu tafsir. Imam Ahmad juga mengatakan bahwa Qatadah adalah orang yang kuat hafalannya dan orang ahli fikih.

Imam Ahmad berkata, “Teramat jarang Anda jumpai ada seorang yang bisa mengunggulinya. Namun kalau dikatakan ada yang seperti Qatadah, maka bisa saja terjadi. Ia adalah orang yang paling hafal dari kalangan penduduk Basrah. Tidaklah ia mendengar sesuatu melainkan langsung bisa menghafalnya.”

Ada satu nasihat Imam Qatadah yang berbunyi, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan senantiasa bersamanya. Dan siapa saja yang disertai Allah, maka dia bersama dengan golongan yang tidak terkalahkan, Penjaga yang tidak pernah tidur dan Pemberi hidayah yang tidak pernah tersesat.”

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah beliau. Keterbatasan fisik mestinya tidak menghalangi kita mereguk ilmu kepada para guru, hadir di majelis ilmu, dan senantiasa istikamah mempelajari dan mengamalkan ilmu yang kita peroleh.

Dibandingkan Imam Qatadah, bukankah kita memiliki fisik sempurna agar menyempurnakan ilmu kita? Beliau yang buta kedua matanya saja berhasil secara menakjubkan menggapai kesempurnaan di sisi Allah Swt.

Asalkan ada kemauan, komitmen, tekad kuat, dan keikhlasan yang tiada batas, tidak ada kata terlambat untuk terus belajar menuntut ilmu Allah yang sangat luas. [MNews/Chs-Juan]

*Disarikan dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan