[Editorial] Mencari Pemimpin Dunia Akhirat

“Hai orang banyak semuanya. Aku diangkat mengepalai kalian. Dan aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku membuat kebaikan, maka dukunglah aku. Jika aku membuat kejelekan, maka luruskanlah aku. Kebenaran itu suatu amanat. Dan kebohongan itu suatu khianat. Yang terlemah di antara kalian aku anggap yang terkuat sampai aku mengambil dan memulangkan haknya. Yang terkuat di antara kalian aku anggap yang terlemah sampai aku mengambil hak si lemah dari tangannya. Janganlah seorang pun di antara kalian meninggalkan jihad. Karena kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah. Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Bila aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya tidak ada kewajiban patuh kepadaku. Kini marilah kita melakukan salat. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada kalian.”

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Itulah isi pidato politik Sayidina Umar sesaat setelah beliau terpilih menjadi Khalifah. Beliau dipilih umat pascawafatnya Khalifah pertama, Sayidina Abu Bakar ra..

Pidato itu benar-benar menggetarkan. Karena selain menggambarkan kekuatan iman seorang Umar, juga menunjukkan karakter pemimpin muslim yang memiliki visi misi agung dan berjangka panjang.

Tak ada kesan jemawa. Apalagi kesan rakus terhadap kekuasaan. Yang ada adalah sikap tawaduk dan kesadaran, bahwa amanah kepemimpinan memiliki dimensi ruhiyah yang sangat kental. Yakni keyakinan bahwa semuanya akan dipertanggungjawabkan, di hari yang tak mengenal kesudahan.

Bahkan bagi Khalifah Umar, bukan hanya manusia yang menjadi tanggung jawabnya. Namun, seekor keledai pun adalah bagian yang harus diurusnya.

Sebagaimana perkataannya, “Seandainya seekor keledai terperosok karena jalanan berlubang di kota Baghdad, maka aku sangat khawatir Allah akan meminta pertanggungjawaban.”


Sayidina Umar bin Khaththab ra adalah satu satu dari sekian banyak role model kepemimpinan Islam. Beliau radhiyallahu ‘anhu dan banyak dari para pemimpin Islam setelahnya demikian menginspirasi dan layak menjadi teladan umat sepanjang zaman.

Kisah-kisah heroik kepemimpinan mereka tercatat dalam tinta emas sejarah peradaban Islam. Siapa pun tak akan mampu menghapusnya. Termasuk kekuatan musuh mana pun yang menghendaki keburukan atas Islam dan umat Islam.

Kesehariannya mereka benar-benar mencerminkan kesadaran ruhiyah yang luar biasa. Alih-alih sibuk dengan pencitraan dan obral janji, mereka justru tenggelam dalam rasa takut yang amat dalam.

Namun rasa takut itulah yang justru menuntun mereka agar tetap di jalan benar. Setiap kebijakan yang mereka tetapkan dipastikan tak keluar dari koridor syariat dan tak menzalimi rakyatnya.

Mereka pun serius bekerja berdasarkan tuntutan syariat. Melayani kepentingan setiap individu rakyat seperti halnya seorang penggembala.

Mereka, memastikan penggembalaannya terpenuhi seluruh kebutuhan dengan adil. Merawatnya agar selalu sehat, terhindar dari penyakit. Dan memastikan, tak ada serigala ataupun binatang lain yang akan memangsa penggembalaannya.

Adapun dalam soal kehidupan, mereka standarkan diri mereka setara dengan penduduk yang paling lemah, bahkan di bawahnya. Hingga seorang Umar misalnya, tak mau makan dengan makanan yang sedikit lebih baik dari rakyatnya.

Bahkan beliau radhiyallaahu ‘anhu diketahui tak memiliki pakaian selain apa yang dikenakan dan yang dicuci sebagai penggantinya. Begitu pun dengan keluarganya. Tak ada previlage khusus sebagai trah penguasa. Padahal kekuasaan Umar telah melintasi jazirah Arab dan negara Islam benar-benar ditakuti negara musuhnya.

Hasilnya, rakyat yang ada di bawah kepemimpinan mereka bisa merasakan hidup sejahtera dan mulia. Bahkan selama belasan abad, umat dan negaranya tampil sebagai umat terbaik dan adidaya. Menjadi pionir peradaban cemerlang di tengah-tengah entitas lainnya, sekaligus berhasil menebar rahmat bagi seluruh alam.


Model kepemimpinan seperti ini memang takkan pernah ditemukan dalam model kepemimpinan mana pun. Apalagi dalam sistem sekuler demokrasi yang minus dari dimensi ruhiyah. Di mana peran Allah Swt. disingkirkan dari pengaturan kehidupan mereka.

Sistem rusak seperti ini, bahkan terbukti hanya melahirkan pemimpin-pemimpin yang oportunis, pengkhianat, zalim, ingkar janji dan minus empati. Mereka abai terhadap kepentingan rakyat dan hanya peduli dengan kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri.

Fakta hari ini benar-benar mengonfirmasi hal ini. Kondisi masyarakat terus kian terpuruk, karena penguasa mereka tak menjalankan fungsi hakikinya sebagai pengurus dan penjaga. Bahkan para penguasa seakan sedang berniaga dengan rakyatnya.

Wabah pun terus merajalela, karena sejak awal kemunculannya, para penguasa terjangkit denial syndrome (sindrom penyangkalan) dan gagap dalam menentukan prioritas amal yang harus dilakukannya.

Namun mirisnya, saat hari ini wabah kian menjadi dan korban berjatuhan tanpa henti, para penguasa masih saja sibuk membela diri. Mereka terus bernarasi demi menutup kegagalan mengurus rakyatnya sendiri.

Bahkan sebagian besar mereka seakan sudah kehilangan hati nurani. Hingga ada pejabat tinggi yang sibuk menikmati dan membahas sinetron tak bermanfaat di TV. Padahal di saat sama, rakyat sedang berjibaku di tengah kebijakan zalim PPKM darurat yang efeknya nyata, khususnya untuk sektor ekonomi.

Sistem rusak demokrasi, juga telah terbukti melahirkan para pemimpin yang tunduk pada kepentingan korporasi, bahkan kepentingan asing. Karena kekuasaan dalam sistem politik ini memang tegak oleh kekuatan modal milik para kapitalis, baik lokal maupun global.

Tak heran jika meski wabah mengancam rakyatnya, proyek-proyek investasi asing tetap berjalan seperti biasa. Bahkan saat rakyat yang lapar dipaksa diam di rumah tanpa jaminan, pekerja asing dibiarkan melenggang masuk dengan dalih menjalankan prosedur ketat.


Semua kondisi ini berbeda jauh dengan Islam. Sistem Islam yakni Khilafah justru memiliki mekanisme yang membuat kepemimpinan tak menjadi sesuatu yang menggiurkan. Bahkan justru menakutkan.

Bagaimana tidak? Rasulullah saw. pernah bersabda,

Dia yang berkuasa atas lebih dari sepuluh orang akan membawa belenggu pada hari kiamat sampai keadilan melonggarkan rantainya atau tindakan tiraninya membawa dia kepada kehancuran.” (HR Tirmidzi)

Juga bersabda,

“Siapa pun yang mengepalai salah satu urusan kaum muslimin dan tetap menjauhkan diri dari mereka dan tidak membayar dengan perhatian pada kebutuhan dan kemiskinan mereka, Allah akan tetap jauh dari dirinya pada hari kiamat…” (Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim)

Serta sabdanya,

Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat.(HR Ath-Thabrani)

Hadis-hadis itu menunjukkan, bahwa tanggung jawab kepemimpinan dalam pandangan Islam sangatlah berat. Karena apa yang dilakukan seorang pemimpin dalam kepemimpinannya akan berimplikasi pada kehidupannya di akhirat kelak.

Kesadaran inilah yang mendorong para pemimpin dalam sistem Islam (Khilafah) senantiasa nampak bersungguh-sungguh sekaligus berhati-hati dalam menunaikan kewajiban yang juga merupakan hak rakyatnya. Tanpa melihat, apakah rakyat mengetahui akan haknya atau tidak. Dan tanpa menunggu, apakah mereka menuntut haknya atau tidak.

Mereka pun sangat berhati-hati menunaikan setiap petunjuk syar’i yang mengikat kepemimpinannya. Karena salah satu fungsi utama kepemimpinan dalam Islam adalah menerapkan hukum-hukum Allah Swt. secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.

Justru pelaksanaan fungsi utama inilah yang akan menolongnya mewujudkan fungsi pelayanan (pemimpin sebagai raa’in atau pengurus) umat dan fungsi penjagaan (pemimpin sebagai junnah atau perisai) atas dunia dan akhirat umat yang melekat pada dirinya.

Hingga kepemimpinan Islam terbukti mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan di tengah-tengah kehidupan masyarakat, baik muslim maupun nonmuslim hingga taraf yang mengagumkan. Bahkan mampu menghadirkan kehidupan yang bersih penuh berkah, karena masyarakat dan dunia tercegah dari segala bentuk kerusakan melalui penerapan syariat Islam.


Namun, sejalan dengan lepasnya umat dari sistem Islam, dan umat terjerumus dalam kubangan sistem sekuler demokrasi, kepemimpinan menjadi sesuatu yang jauh dari kata agung dan sakral. Kepemimpinan tak lagi berdimensi akhirat tapi justru kental dengan wajah rakus dan kejemawaan.

Makna kepemimpinan pun dipersempit menjadi semata urusan kekuasaan dan alat memuluskan kepentingan. Benar-benar sangat sekuler dan profan. Hingga jadilah kekuasaan dan kepemimpinan ini sebagai sesuatu yang diperebutkan.

Lalu rezim pun terus bergantian. Tapi semuanya tak sanggup mengantarkan umat pada kebaikan. Alih-alih di akhirat, di dunia pun tampak semua serba kacau.

Bahkan negara dan penguasa justru sering kali tampil sebagai sumber masalah dan kerusakan, dengan melegalkan berbagai aturan hukum yang bertentangan dengan Islam, dan melakukan berbagai tipu daya dan kecurangan, yang membuat kehidupan umat makin jauh dari kemuliaan dan kesejahteraan.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, “Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.(HR Ath-Thabrani)


Oleh karena itu, berharap muncul kepemimpinan yang baik dan menuai berkah dalam sistem sekuler demokrasi adalah seperti pungguk merindukan bulan. Karena sistem dan kepemimpinan adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.

Sistem yang baik akan melahirkan kepemimpinan yang baik. Sementara sistem yang buruk, dipastikan akan melahirkan kepemimpinan yang buruk. Dan kebaikan dimaksud standarnya tentu adalah hukum syariat. Karena baik dan berkah adalah dampak penerapan hukum syara’.

Betul bahwa ada fakta sejarah yang menunjukkan jika dalam sistem Islam pernah muncul pemimpin-pemimpin yang zalim terhadap rakyatnya. Namun kezaliman itu dipastikan bukan karena kesalahan sistem, melainkan karena problem human error yang diniscayakan dalam sistem Islam, karena pelaksananya adalah manusia yang tak luput dari khilaf dan kesalahan.

Terlebih faktanya, sistem Islam memiliki mekanisme yang mampu meminimalisir munculnya kezaliman penguasa ini. Di antaranya dengan adanya kewajiban muhasabah lil hukkam, yakni hak dan kewajiban rakyat untuk menyampaikan masukan dan kritik kepada penguasa, serta adanya institusi Mahkamah Madzalim yang berhak mengadili kezaliman yang dilakukan oleh penguasa, bahkan berhak memecat penguasa yang keluar dari koridor syariat.

Mekanisme itulah yang membuat sistem Islam bisa tegak selama belasan abad, dengan kasus kezaliman penguasa yang bisa dihitung dengan jari. Yang menonjol justru kisah-kisah kesuksesan kepemimpinan Islam dalam mewujudkan kebaikan bagi umat dan seluruh alam dari masa ke masa.

Sementara sistem di luar Islam justru sebaliknya. Kerusakan dan kezaliman justru menjadi ciri khas masyarakat dan peradaban mereka. Dikarenakan kerusakan memang ada pada sistemnya, bukan sekadar pada manusianya. Allaahu a’lam bi ash-shawwab. [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan