[News] Membangun Peradaban Islam melalui Kebangkitan dan Kontribusi Intelektual Muslim

MuslimahNews.com, NASIONAL — Cendekiawan muslim, Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar dalam International Conference of Islamic Civilization (ICIC) 2021 menyampaikan, peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun di atas akidah Islam, oleh masyarakat Islam, dengan tujuan sesuai tuntunan Islam.

“Masyarakat Islam sendiri merupakan sekelompok  orang yang berinteraksi terus-menerus karena memiliki sekumpulan pemikiran dan perasaan  yang diatur oleh aturan Islam. Tujuannya sebagaimana yang diperintahkan Islam, yaitu menjaga jiwa, keturunan, properti, pemikiran, dan agama. Termasuk keamanan, kehormatan, dan negara,” paparnya.

“Beberapa hal di peradaban ini ada yang bentuknya hard, seperti teknologi, pertanian, dan kota-kota. Ada pula yang soft, seperti infrastruktur pendidikan, kesehatan, birokrasi, dan lainnya,” lanjutnya.

Perlunya Peran Intelektual Muslim

Ia menyatakan, peradaban Islam tersebut harus dibangkitkan kembali dengan dua alasan, pertama, peradaban dunia saat ini sedang mengalami ancaman besar, seperti disorientasi kehidupan, pemanasan global, ketimpangan antara yang kaya dengan yang miskin, dan lain-lain.

“Sedangkan dunia Islam sendiri saat ini dalam keadaan rusak, jauh tertinggal, bahkan (jauh) dari sisi Islam. Adanya kehidupan sekuler kapitalisme menjadikan agama untuk menghasilkan uang, jika tidak ada [uang], maka agama ditinggalkan,” ujarnya.

Kedua, terlalu banyak fardu kifayah pada kaum muslimin yang tidak berjalan normal, atau bahkan tidak mungkin dilaksanakan.

Untuk itu, jelasnya, diperlukan peran intelektual muslim, yaitu kaum muslimin yang memiliki pendidikan di atas rata-rata populasi masyarakat, yang secara umum memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan peduli terhadap persoalan umat.

Diuraikannya, perkiraan jumlah populasi kaum muslimin saat ini lebih dari 1,7 miliar orang. Sebanyak 1,4 miliar orang di antaranya berada di negara anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC).

Dari jumlah ini, diperkirakan yang mencapai jenjang S3 adalah 6,8% atau sekitar 116 juta orang dengan berbagai disiplin ilmu dan tersebar di berbagai negara.

“Jika ada 10% dari angka ini yang peduli terhadap persoalan umat dan ingin mendapatkan solusi di dalam Islam, akan ada sekitar 9 juta orang yang siap untuk berjuang. Mereka inilah yang pantas disebut intelektual muslim, ulama yang peduli dengan nasib kaum muslimin dan ingin mencari solusi Islam,” cetusnya.

Baca juga:  Prof. Fahmi Amhar: Gerakan 212 Jangan [Hanya] Menjadi Gerakan Emosional dan Nostalgia

Menurutnya, intelektual muslim harus turut berkontribusi karena mereka adalah orang-orang yang diberikan Allah amanah akal dan amanah ilmu, sehingga memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

“Mereka adalah panutan bagi masyarakat, opinion makers di tengah masyarakat, bahkan pembuat kebijakan mengikuti pertimbangan mereka. Saat mengemban tanggung jawab ini, mereka telah berubah dari seorang akademisi menjadi intelektual,” katanya.

Ia menyampaikan, civitas akademik muslim yang merasa terpanggil untuk bertanggung jawab terhadap umat, kemudian mencoba memberikan solusi. Namun, kurangnya konteks dan paradigma membuat mereka terseret ke dalam perangkap “lingkaran setan”.

“(Untuk terlepas dari perangkap) dapat dimulai dari asumsi yang mendasari tentang apa akar masalahnya sebenarnya. Tapi tentu saja tidak menjadi masalah jika dia merasa hanya bisa menyumbangkan sesuatu yang berhubungan dengan kompetensinya,” terangnya.

Kontribusi Intelektual Muslim dalam Sejarah Peradaban Islam

Ada tiga kontribusi intelektual muslim dalam sejarah peradaban Islam, jelasnya, yaitu:

Pertama, sebagai inspirasi. Mereka dapat melihat persoalan-persoalan dengan kejernihan hati. Terkadang menemukan inspirasi dalam sebuah ayat atau hadis. Para inspirator ini akan menjadi guru masyarakat.

Kedua, sebagai penjaga metode ilmiah. Mereka menjaga agar opini yang dibawa ke masyarakat tetap benar.

Ketiga, sebagai penjaga agar aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diterapkan secara bertanggung jawab (syar’i). Juga menjadi pengingat ketika penguasa dan masyarakat mengabaikan sains.

Ia mengingatkan, dalam kajian kontribusi cendekiawan muslim sepanjang sejarah peradaban Islam, tidak boleh terjebak dalam nostalgia. Sebab, banyak umat Islam yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi modern saat ini hanyalah tiruan dari era keemasan Islam, yang kemudian para sejarawan bersekongkol untuk menyembunyikannya.

“Itu tentu prasangka naif dan tuduhan keji. Yang benar, jika kita menganggap sains dan teknologi saat ini memiliki 1.000 bagian, maka kontribusi ilmuwan dari zaman keemasan Islam adalah 100 bagian, sedangkan peradaban sebelumnya (Yunani, Mesir, Persia, India, Cina) memiliki 10 bagian, dan dari zaman prasejarah 1 bagian,” ungkapnya.

Di satu sisi, imbuhnya, hal ini menggambarkan rendahnya kontribusi dunia Islam terhadap ilmu pengetahuan modern. Dibandingkan masyarakat dunia lain, negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim, kontribusi dunia Islam memang sangat rendah.

Baca juga:  Intelektual Nasional Bahas Vaksin Covid-19, Sepakati Perlunya Perbaikan Sistem Politik Kesehatan

Jika dihitung dari jumlah peraih Nobel bidang sains (fisika, kimia, kedokteran), kontribusi umat Islam kurang dari 1%. Mayoritasnya adalah Kristen, Yahudi, atau bahkan ateis/agnostik.

Dunia Islam Saat ini Mirip Eropa di Era Kegelapannya

Ia menyayangkan dunia Islam saat ini cenderung mirip dengan Eropa di era kegelapannya. Kelompok “religius antisains” mengemuka. Mereka tidak hanya memusuhi hal-hal modern yang sebenarnya ilmiah, seperti konsep bumi bulat atau vaksinasi.

Di antara mereka pula, ada yang berkata bahwa nanti di akhirat yang ditanya oleh malaikat adalah perihal iman bukan sains. Bahkan, ada yang menilai ilmuwan muslim di masa lalu, yang mana kebanyakan—jika tidak semua—dicap sebagai “filsuf sesat”, menyimpang dari Al-Qur’an, menodai agama, ataupun kafir.

“Jika kita mengikuti cara berpikir kelompok ini, kebanggaan umat Islam atas berbagai prestasi di bidang ilmu di masa lalu hilang,” tukasnya.

“Bagi golongan ini, prestasi Khilafah diukur dari penyebaran tauhid semata, bukan prestasi futuhat, termasuk penaklukan Konstantinopel yang menjadi “ramalan” Nabi. Apalagi prestasi ilmu pengetahuan dan kemakmuran,” tambahnya prihatin.

Butuh Langkah Strategis

Prof. Fahmi Amhar mengamati keterpurukan umat Islam. Ada yang menganggap ini akibat kelemahan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mereka fokus pada penguasaan teknologi, membangun institusi untuk mencapai keunggulan teknologi, atau mengirimkan anak-anak muslim untuk belajar teknologi ke negara-negara maju.

“Apakah usaha ini berhasil? Berapa banyak cendekiawan muslim yang menguasai teknologi tinggi?” tanyanya retorik.

Ternyata, lanjutnya, sedikit yang memahami sejarah Nabi dalam rangka mencari ilham, bagaimana membangun umat secara fundamental.

“Akibatnya kita gagal melihat apa yang kurang dalam tubuh umat ini hingga mereka begitu terpuruk di kancah internasional? Padahal, masih merasa memiliki Tuhan yang sama, Nabi yang sama, kitab yang sama, dan kiblat yang sama,” paparnya.

Untuk itu, ia menekankan, butuh langkah strategis untuk membangkitkan dan membangun peradaban Islam. Pertama, memperkuat akidah mereka dengan menggunakan pemikiran kritis dan rasional.

Kedua, mengasah pengetahuan mereka agar mahir dalam menelusuri informasi. Ketiga, mengasah naluri kreatif untuk membaca alam, sehingga mampu menciptakan karya-karya berkualitas sebagai intelektual.

Baca juga:  Prof. Fahmi Amhar: Gerakan 212 Jangan [Hanya] Menjadi Gerakan Emosional dan Nostalgia

Keempat, memperluas jaringan untuk menimba hikmah dari mana saja, memperkuat kerja kolektif untuk mengasah, saling mencintai, dan peduli sesama.

Kelima, menguatkan rohani mereka untuk berani mengatakan kebenaran, sehingga berani menghadapi tantangan yang lebih besar.

Keenam, mengintensifkan kontak dengan pengambil kebijakan dan sekaligus memperluas upaya mendidik masyarakat.

Ketujuh, memengaruhi simpul-simpul kekuasaan untuk mengubah masyarakat Islam secara mendasar, baik dari pemikiran, perasaan, maupun peraturan yang diterapkan pada mereka dengan menegakkan hukum Islam di suatu negara.

“Sehingga, inilah saatnya intelektual muslim turut berkontribusi untuk membangkitkan kembali peradaban Islam,” tandasnya.

Ada beberapa hal. Pertama adalah memutus “lingkaran setan”. Lingkaran setan akan tetap menyesatkan manusia selama tidak ada yang memilih jalan takwa di atas jalan kemaksiatan.

Kedua, menyatukan visi dan misi dalam hidup. Visi hidupnya yang pertama sebelum menjadi seorang intelektual, adalah untuk selalu menjadi hamba Allah Swt., yang dihadirkan kepada dunia untuk menjadi yang terbaik, untuk menjadi berkah bagi seluruh dunia.

Ketiga, menyadari bahwa mereka adalah bagian dari umat yang terbaik, yang harus membawa ke dunia ini karya-karya terbaik, yang memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan/menasihati manusia, menyuruh yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan membuktikan keimanan kepada Allah.

Keempat, saatnya mereka duduk bersama untuk mengintegrasikan dan menyinergikan seluruh potensi yang dimiliki, untuk menyelesaikan permasalahan umat.

Bangkitnya Kembali Peradaban Islam

Dari sini, tegasnya, mereka (para intelektual muslim) akan menghasilkan karya-karya ilmiah atau kekayaan intelektual yang bersumber dari akidah Islam yang nyata bagi pemecahan masalah umat, baik teknis maupun politik/ekonomi/sosial/hukum.

Mereka pun akan membangun jaringan intelektual muslim dari berbagai kalangan yang peduli terhadap umat, melakukan kontak dengan tokoh pembentuk opini di masyarakat dan para pengambil keputusan, serta akan mendidik dan mengadvokasi umat sehingga mendapat dukungan luas di masyarakat.

“Hingga saatnya tiba, umat Islam akan berdiri di atas pemikiran dan perasaan kolektif yang sama, sebagaimana peraturan yang diberlakukan oleh negara. Dan pada masyarakat seperti itulah peradaban Islam akan bangkit kembali,” pungkasnya. [MNews/Ruh-Gz]

Tinggalkan Balasan