[Mafahim Islamiyah] Pembentukan Syakhsiyah Islamiyyah (Bagian 2/2)

Sambungan dari Bagian 1/2


Penulis: Muhammad Husain Abdullah


MuslimahNews.com, MAFAHIM ISLAMIYAH — Hal-hal yang Rasulullah saw. lakukan di dalam pembinaan syakhsiyah, terstruktur pada garis-garis sebagai berikut:

Pertama, mengarahkan pandangan para Sahabat kepada makhluk-makhluk yang menunjukkan adanya Allah dan kuasa-Nya, firman Allah,

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS Al-‘Alaq: 1-2)

“Demi fajar dan malam yang sepuluh. Dan yang genap dan yang ganjil. Dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” (QS Al-Fajr: 1—5)

“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang.” (QS AlBuruuj: 1)

“Bukankah kami telah memberikan padanya dua buah mata. Lidah dan dua buah bibir.” (QS Al-Balad: 8—9)

Kemudian, pandangan Al-Qur’an adalah kalamullah yang menunjukkan kenabian Muhammad saw., firman Allah,

“Qaaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia. Mereka (tidak menerima) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, ‘Ini adalah suatu yang amat ajaib.'” (QS Qaaf: 1—2)

“Haa miim. Diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.” (QS 41: 1—3)

“Sesungguhnya kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya.” (QS Az-Zukhruf: 3)

Dan tantangan kepada mereka yang meragukan Al-Qur’an, firman-Nya,

“Atau (patutkah) mereka mengatakan, ‘Muhammad membuat-buatnya.’ Katakanlah, ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.’” (QS Yunus: 38)

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Asy-Syakhsiyah Ghairu Mutamayyizah

Mula pertama konsentrasi Islam di dalam pembinaan syakhsiyah ini adalah pada akidah islamiah yang dasar pencariannya dari akal, maka berpindahlah ayat-ayat yang mulia kepada manusia dari pengindraan yang dia ketahui dari kaun (alam), manusia, dan kehidupan, kepada penegasan wujudnya Al-Khaliq dan penegasan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan Muhammad adalah Rasul-Nya.

Kedua, penjelasan hubungan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat, penjelasan ini banyak terdapat pada surah-surah Makkiyyah. Firman Allah,

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangannya (kebaikannya) maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangannya (kebaikannya) maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (yaitu) api yang sangat panas.” (QS Al-Qaari’ah: 6—11)

Firman Allah,

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kelebihan dunia. Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya . Maka surgalah tempat tinggal(nya). (Orang-orang) kafir bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit kapankah terjadinya?” (QS An-Naazi’aat: 37—42)

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka, benar-benar berada di dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.” (QS Al-Infithaar: 13—15)

“Sesungguhnya neraka jahanam itu padanya ada tempat pengintai. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.” (QS An-Naba’: 21—22)

“Sesungguhnya orang-orang bertakwa mendapat kemenangan (Yaitu) kebun-kebun dan buah anggur.” (QS An-Naba: 32—33 )

Inilah hubungan antara dunia dan akhirat dengan hasil final pahala bagi orang yang beriman dan beramal saleh dan hukuman karena dosa bagi yang kufur dan yang beramal jelek.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Pengambilan Keputusan yang Tajam

Syakhsiyah islamiah dijadikan sebagai pijakan berpikir sebelum suatu aktivitas dilaksanakan yang nantinya final dari aktivitas di dunia tergambar dari nikmat yang langgeng sebab azab yang pedih, akan merasakan kelezatan rahmat Allah dan surga-Nya, serta takut akan azab Allah dari nerakanya, dan selalu meminta keridaan Allah terhadap segala apa yang dikerjakannya dan akan menjauhi apa-apa yang bisa membuat Allah murka.

Ketiga, menuntut kaum muslimin untuk memecahkan problem hidupnya dengan menggunakan asas–asas Islam. Oleh sebab itu, mereka harus mengetahui hukum syarak sebelum melaksanakan aktivitas, jika tidak tahu haruslah bertanya kepada yang tahu.

Firman Allah Swt.,

“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS An-Nahl: 43)

Sehingga, para sahabat tidak akan melaksanakan suatu aktivitas sebelum bertanya kepada Rasulnya tentang hukum aktivitas itu, dan ini terjadi pada Khaulah binti Tsa’labah, yang menyebabkan turunnya ayat kepadanya,

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua, Allah Maha Mendengar Lagi Maha Melihat.” (QS Al-Mujaadilah: 1)

Khaulah binti Tsa’labah bertanya kepada Nabi saw. tentang hubungannya dengan suaminya (Aus bin Shamit) yang telah men-zihar-nya. Dan turunlah wahyu yang merupakan syakhsiyah islamiah bila dilaksanakan, seperti apa yang telah ditanyakan Khaulah binti Tsa’labah kepada Nabi tentang problem yang dihadapinya.

Contoh lain dari firman Allah Swt. tentang hal-hal yang ditanyakan Sahabat,

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, ‘Harta rampasan itu kepunyaan Allah dan Rasul.’” (QS Al-Anfal: 1)

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Syakhsiyah Mutamayyizah

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu supaya kamu berpikir.” (QS Al-Baqarah: 219)

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah kotoran.’ Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci.” (QS Al-Baqarah: 222)

“Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang wanita. Katakanlah, ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al-Qur’an.'” (QS An-Nisaa’: 127)

Rasul saw. menampakkan rasa cinta di antara para Sahabat, sehingga mereka bertanya kepada Nabi, maka Nabi menjawabnya dengan apa yang diwahyukan dari Allah untuk memberi pembekalan kepada mereka menuju kedalaman iman yang bisa menambah perasaan mereka dengan ketenangan karena shilah billah.

Rasul menjadikan para Sahabat cinta kepada Allah, sehingga seakan-akan Allah hadir dan mengatur di dalam suluk-nya. Maka, jadilah Islam di dalam diri mereka sebagai aqliyah dan nafsiyah-nya.

Salah satu contoh Sahabat adalah Mush’ab bin Umair, dengan syakhsiyah islamiah yang diajarkan oleh Rasulullah kepadanya ini. Ia mampu mempersiapkan masyarakat Madinah Munawarah sebagai masyarakat islami pertama yang dibentuk pada awal Daulah Islamiah.

Syakhsiyah islamiyyah samiyah yang didatangkan oleh Rasul saw. selalu sebagai penolong di dalam menjaga Daulah dalam mengemban dakwah selama hidupnya, sampai adanya Khilafah pengganti setelah wafatnya Rasul.

Adanya kontinuitas hubungan aktivitas dalam pembentukan syakhsiyah yang disampaikan Sahabat dengan berlandaskan asas Islam, menjadikan syakhsiyah mutamayyizah ini berlangsung tetap sepanjang situasi dan kondisi, di kota-kota, dan penjuru Daulah Khilafah. [MNews/Rgl]

Sumber: Mafahim Islamiyah, Muhammad Husain Abdullah

Tinggalkan Balasan