Hindun binti al-Muhallab, Istri Dermawan Sang Gubernur

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Nama lengkapnya Hindun binti al-Muhallab bin Abi Shafarah al-Azdiyah al-Bashriyah. Ia wanita mahir dan beretika.

Ayahnya gubernur, pahlawan, komandan pasukan, yaitu Muhallab bin Abi Shafarah. Muhallab dikenal dermawan dan pemberani, mulia dan cerdas. Ia wafat pada tahun 82 H.

Hindun dinikahi oleh Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi. Bersama dengannya banyak cerita dikisahkan. Sejak kecil Hindun dikenal cerdas dan fasih bertutur kata. Gaya bahasanya ramah. Adabnya mulia.

Selama hidupnya, ia meriwayatkan hadis dari ayahnya al-Muhallab, Hasan Bashri, dan ‘Asy-Sya’tsa Jabir bin Zaid. Beberapa orang meriwayatkan hadis Hindun.

Diantaranya dua keponakannya Hajjaj bin Uyainah, Ziyad bin Abdullah al-Quraisyi, dan Abu Salamah budak al-‘Atik.

Meski hidup dalam gelimang harta, Hindun tidak menjadikan harta sebagai nikmat dunia. Ia dermakan harta itu untuk diinfakkan.

Dalam hal kedermawanan, banyak cerita yang menunjukkan tentang kepribadiannya yang istimewa. Ia berpendapat bahwa tangan  yang baik nan dermawan pasti beruntung dimanapun berada.

Ummu Abdullah al-Atki berkata, “Saya datang kepada Hindun binti al-Muhallab sementara ia bertasbih dengan menggunakan permata. Ketika selesai bertasbih ia berikan tasbih itu kepadaku seraya berkata, ‘Bagi-bagikan ini pada wanita-wanita sekelilingmu.”

Cerita seperti ini tidaklah mengherankan bagi wanita yang telah terikat kuat dengan sifat kedermawanannya. Dalam Kitab al-Mahasin wa al-Mal, Imam Baihaqi menuturkan bahwa Hindun pernah dalam satu hari memerdekakan 40 budak.

Ia menganggap semua ini bagian dari nikmat Allah Swt. padanya. Ia pernah menasihatkan, “Jika kalian melihat nikmat telah datang mengguyur, maka lekaslah memanjatkan syukur sebelum ia menghilang dengan cepat.”

Ia juga mempunyai definisi tersendiri tentang ketaatan dan kedurhakaan. Definisi ini bersumber pada pemahaman dan akalnya yang mendalam.

Hindun mengatakan, “Ketaatan seorang hamba kepada Allah diiringi kecintaan. Orang yang taat adalah orang yang dicintai orang lain, meski rumahnya jauh dan terpencil. Sedangkan durhaka adalah kawan kebencian. Seorang pendurhaka pastilah dibenci, meski kita berhubungan akrab dan sering mendapat pertolongannya.”

Hindun binti al-Muhallab memiliki perhatian besar dalam bidang fikih. Meski ia istri seorang pemimpin besar, putri pemimpin besar, bergelimang harta dan kemewahan, semua itu tak menghalanginya untuk bekerja dengan tangannya sendiri.

Seperti diceritakan Ziyad bin Abdullah, salah satu muridnya, “Saya melihat tangannya ada bekas benang sulam. Lalu saya bertanya, apakah engkau menyulam padahal istri gubernur? Ia menjawab, saya mendengar ayah saya berkata, Rasulullah bersabda, ‘Seberat-beratnya kalian bekerja adalah sebesar-besarnya kalian berpahala. Itu mengusir setan dan menghilangkan prasangka buruk.”

Hindun mempunyai banyak cerita bersama Umar bin Abdul Aziz. Ibnu Asakir menuturkan, suatu hari Hindun menghadap Umar bin Abdul Aziz.

Waktu itu Umar telah memenjarakan Yazid bin al-Muhallab, saudara laki-laki Hindun. Hindun berkata, “Wahai Amirul Mukminin, atas dasar apa engkau menahan saudaraku?”

Ia menjawab, “Saya khawatir ia membuat masalah di tengah-tengah kaum Muslimin.” Hindun bertanya, “Hukuman itu sesudah melakukan atau sebelumnya?” Mendengar pertanyaan itu, Umar berpikir ulang.

Semoga kisah Hindun menjadi motivasi bagi kita. Sifat dermawan begitu mudah kita temukan dalam lembaran kisah para sahabat, tabiin, serta orang-orang yang mengikuti mereka.

Allah Swt. berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (TQS Ali Imran: 92). [MNews/Chs-Juan]

Tinggalkan Balasan