[Tapak Tilas] Mencari Jejak Islam di Armenia


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Sekitar tahun 638 M, pasukan jihad di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqash mulai mengarahkan futuhat-nya ke Armenia. Sebuah wilayah yang terletak di Benua Asia, namun kental dengan tradisi Eropa.

Pasukan ini adalah satu dari berbagai pasukan yang diutus oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra. untuk menyebarkan Islam ke wilayah-wilayah yang ada di timur jazirah Arab, khususnya ke kawasan Suriah, Mesir, Irak, Iran, hingga Asia dan Eropa.

Foto: Armenia, negeri Kristen yang dikelilingi negeri-negeri Islam. | Wall Street Journal

Melalui berbagai ekspedisi pasukan-pasukan ini, satu demi satu wilayah yang merupakan kawasan pengaruh imperium Sassanid dan Romawi itu berhasil dibebaskan. Bahkan pada masa itu, kekuasaan Sassanid yang musyrik dan gigih menghalang-halangi sampainya risalah Islam kepada manusia, benar-benar berhasil dihancurkan.

Armenia, Medan Pertempuran Dua Adidaya

Armenia sendiri merupakan wilayah yang dari masa ke masa dikuasai oleh Sassanid dan Romawi secara bergantian. Bahkan, wilayah ini disebut-sebut sebagai arena pertempuran utama di antara kedua negara adidaya, karena posisinya memang terjepit di antara wilayah kekuasaan keduanya.

Namun demikian, wilayah Armenia sebenarnya merupakan wilayah penyebaran agama Kristen paling awal di kawasan Eropa. Sehingga Armenia menjadi salah satu pusat Kristen Ortodoks di dunia.

Bahkan, Armenia dikenal juga sebagai negara seribu biara. Mereka memiliki gereja khusus yang disebut Gereja Apostolic Armenia. Di sana terdapat Gereja Armenia yang konon dibangun sejak abad pertama Masehi.

Beberapa waktu sebelum di-futuhat oleh Islam, Armenia berada dalam genggaman kekuasaan Sassanid. Namun sekira tahun 629 M Armenia kembali dikuasai imperium Romawi Timur. Sehingga, saat futuhat dilakukan, pasukan Islam praktis berhadapan dengan kekuatan imperium Romawi.

Alotnya Penaklukan Armenia

Berbeda dengan wilayah lainnya, tradisi Kristen yang kental di Armenia ini membuat proses pembebasan oleh Islam tak berjalan mudah.

Apalagi kondisi wilayah Armenia yang bergunung-gunung dan dipenuhi rawa serta sungai cukup menyulitkan pasukan muslim menembusnya. Ditambah, posisinya pun dikelilingi kawasan-kawasan yang dikendalikan oleh Romawi yang adidaya.

Tak heran jika penaklukan Armenia hingga membutuhkan beberapa kali ekspedisi penaklukan. Dimulai dari pasukan Sa’ad bin Abi Waqash dan diutusnya pasukan Iyad bin Ghanam al-Fihri (17 H/638 M) oleh Khalifah Umar.

Lalu dilanjutkan oleh pasukan Utsman bin Abi Ash ats-Tsaqifi (19 H) dan pasukan Habib bin Maslamah al-Fihri yang juga diutus Khalifah Umar. Hasilnya, ekspedisi-ekspedisi ini sedikit demi sedikit berhasil membuka wilayah Armenia.

Pada tahun 22 H, Khalifah Umar kembali mengerahkan pasukan untuk memperluas wilayah yang dibuka. Konon pasukan ini diikuti tokoh-tokoh besar, seperti Habib bin Maslamah, Suraqah bin Umar, Abdurrahman bin Rabi’ah al-Bahili, Bukair bin Abdullah, dan Hudzaifah bin Asid al-Ghiffari. Hasilnya, ekspedisi ini pun berhasil membuka wilayah pertahanan Armenia yang paling kuat, yakni kawasan Derbent.

Pada tahun ke-24 Hijriah, kepemimpinan Khilafah sudah berganti dari Sayyidina Umar (wafat tahun 23 H) kepada Sayidina Utsman. Khalifah baru ini pun melanjutkan misi futuhat Armenia yang sudah dilakukan Khalifah Umar.

Bahkan pada tahun 24 H, Khalifah Utsman sempat mengirimkan pasukan yang dipimpin Alwalid bin Aqabah. Misinya adalah menindak pemimpin Armenia yang telah mengkhianati perjanjian yang sudah dibuat di masa Khalifah Umar.

Lalu pada tahun 25 H (sekitar tahun 646 M), Khalifah Utsman melanjutkan misi penaklukan dengan mengirim pasukan gabungan terdiri dari pasukan Habib bin Maslamah, pasukan Iyad bin Ghanam dan pasukan Salman bin Rabiah.

Misi ini dikatakan sebagai misi penentu karena berhasil memperlemah bahkan melepaskan kendali imperium Romawi atas seluruh wilayah Armenia. Walhasil, melalui misi ini Armenia akhirnya benar-benar tunduk di bawah kekuasaan Islam.

Adapun opsi yang dipilih penduduknya adalah melakukan perjanjian damai dan siap tunduk di bawah kekuasaan Islam. Namun, mereka memilih tetap memeluk agama mereka dan membayar jizyah yang jumlahnya tak seberapa sebagai kompensasi perlindungan negara Islam atas mereka.

Dakwah Islam di Armenia

Demikianlah, sejak itu Armenia ada dalam genggaman kekuasaan Islam. Wilayahnya menjadi bagian wilayah negara Islam. Seluruh urusan warganya, yakni urusan kesejahteraan termasuk keamanan, diatur dan dijamin dengan baik oleh negara, sekalipun mereka tetap dalam agamanya.

Pada abad ke-8 M, telah banyak bangsa Arab, etnis Kurdi, dan Azerbaijan yang bermigrasi ke wilayah Armenia. Mereka tinggal di kota-kota utama dan bergaul dengan penduduk asli Armenia.

Situasi inilah yang menjadikan dakwah Islam berjalan secara alamiah. Sehingga, banyak di antara penduduk asli Armenia beralih menjadi muslim. Terlebih mereka melihat keindahan dan keadilan penerapan Islam secara praktis oleh negara.

Memang secara politik, sebagaimana wilayah Azerbaijan dan Georgia, Armenia sempat mengalami pergantian kekuasaan Islam mulai dari Dinasti Fatimiyah, Mongol, dan Syafawi yang Syiah. Kondisi ini sedikit banyak telah meninggalkan ragam jejak peradaban Islam di Armenia.

Namun disebutkan, dakwah cukup menggeliat ketika pada abad ke-11 M, Armenia dikuasai oleh Bani Seljuk. Di bawah Dinasti Seljuk inilah banyak warga Armenia memeluk agama Islam.

Hanya saja, tetap dikatakan bahwa penduduk muslim di Armenia tidak pernah menjadi mayoritas. Sebagian besar warganya tetap beragama Kristen Ortodoks. Termasuk ketika kekuasaan berganti pada Dinasti Turki Utsmani yang posisi pusat kekuasaannya lebih dekat ke Armenia.

Hal ini bisa jadi terkait tradisi yang sudah berurat akar dalam diri penduduk asli Armenia. Selain menjadi pusat penyebaran Kristen pertama. Juga posisinya menjadi salah satu wilayah yang dianggap suci oleh penganut Kristen di dunia.

Saat Armenia Jatuh ke dalam Cengkeraman Kafir Barat

Memang penerapan Islam di Armenia tak semulus penerapan Islam di wilayah-wilayah lainnya. Dualisme kekuasaan yang terjadi di masa Dinasti Syiah Safawi dan Turki Utsmani pada abad ke-18 M, membuat posisi Armenia menjadi terbelah. Sebagian dikuasai Syafawi dan sebagian lagi dikuasai Turki Utsmani.

Situasi ini lalu diperburuk dengan kebijakan kedua kekuasaan yang menarik penduduk Armenia dalam situasi konflik. Hal ini membuat mereka berpikir untuk memerdekakan diri dan mencari perlindungan pada kekuatan lain yang dianggap lebih besar.

Ndilalahnya, saat itu kekaisaran Rusia memang sedang mengincar. Dan selama berabad-abad, posisinya selalu memang bermusuhan dengan sistem politik Islam, baik kekuatan Safawi di Iran maupun Khilafah Utsmani di Turki.

Foto: Istana peninggalan Safawi di Armenia. | Republika.co.id

Maka, pada awal abad ke-19, jatuhlah Armenia ke pangkuan kekaisaran Rusia sebagian demi sebagian. Hingga akhirnya, wilayah Armenia menjadi salah satu provinsi bagi provinsi Kaukasus Rusia yang lebih besar, yang terdiri dari wilayah Georgia, Armenia, Azerbaijan, dan Kaukasia lainnya. Di mana wilayah rancangan Rusia ini berpusat di Tbilisi, Georgia.

Namun, ternyata waktu membuktikan, bergabungnya mereka dengan Rusia tak membuat keadaan mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sekalipun otoritas Rusia menjanjikan perlindungan, ternyata kebijakannya justru sangat represif dan mengerikan.

Di antaranya, otoritas Rusia memaksa penduduk Armenia melepas identitas asli mereka dengan mewajibkan penggunaan bahasa Rusia sebagai bahasa sehari-hari mereka. Lalu memimpin mereka dengan para militer. Sehingga semua ini akhirnya memicu protes dan penentangan orang-orang Armenia atas pendudukan Rusia.

Lalu, sejalan dengan melemahnya kekuasaan politik Khilafah Utsmaniyah pada abad ke-20, dan jatuhnya Turki dalam dominasi peradaban sekuler kapitalisme Barat, serta menguatnya posisi kekuatan kafir sekuler kapitalisme, Armenia yang berada di jantung Kaukasus pun akhirnya masuk dalam arena konflik berkepanjangan.

Saat terjadi Revolusi Bolsevik di Rusia, Armenia digabungkan dengan dengan wilayah Georgia dan Azerbaijan menjadi Republik Sosialis Federasi Soviet Transkaukasia yang masuk dalam Uni Soviet. Lalu pada tahun 1936 menjadi negara mandiri, namun tetap menjadi bagian dari Uni Soviet.

Armenia, Hidup dari Konflik ke Konflik

Hancurnya Uni Soviet pada tahun 1991 tak membuat kondisi Armenia lebih baik. Berbagai kebijakan yang dilakukan negara sosialis itu semasa eksisnya justru mewariskan persoalan besar berupa konflik perbatasan yang berkepanjangan.

Salah satu konflik panjang yang memperburuk kondisi Armenia pada abad ke-20 hingga sekarang adalah konflik wilayah dengan Azerbaijan. Konflik ini terpusat pada isu perebutan wilayah Nagorno-Karabakh.

Foto: Nagorno-Karabakh, Wilayah konflik berdarah Armenia-Azerbaijan | Pikiran Rakyat

Pihak Armenia mengklaim, wilayah ini menjadi bagian dari Azerbaijan akibat ulah Stalin yang memasukkan daerah tersebut sebagai bagian dari Soviet Azerbaijan.

Maka tahun 1988 muncullah konflik militer antara Armenia dan Azerbaijan dan memuncak saat kedua negara merdeka dari Uni Soviet tahun 1991.

Pada bulan Mei 1994, angkatan perang Armenia mengambil alih tidak saja Nagorno-Karabakh tetapi juga daerah-daerah lainnya yang disengketakan dengan Azerbaijan dan dinyatakan sebagai haknya. Konflik ini terus berlanjut hingga sekarang dan telah menimbulkan banyak korban.

Foto: Kehancuran akibat konflik di Nagorno Karabakh tahun 2020 | iNews

Tak hanya dengan Azerbaijan. Konflik pun terjadi antara Armenia dengan Turki dan Iran. Dengan Turki, isunya terkait wilayah Gunung Ararat (saat ini di Turki) yang oleh rakyat Armenia diyakini sebagai situs bahtera Nuh menurut Alkitab.

Diketahui, orang Armenia meyakini dirinya adalah keturunan Nabi Nuh. Karenanya mereka menganggap kawasan Ararat ini sebagai tanah airnya. Dan romantisme ini menjadi sumber ketegangan tersendiri antara Armenia dengan Ankara.

Muslim Armenia, Minoritas Tak Berdaya

Sejak Armenia merdeka pada 1991, muslim benar-benar menjadi minoritas. Dan dari minoritas ini, mayoritasnya adalah penduduk sementara dari Iran dan negeri muslim lainnya.

Hari ini penduduk Muslim di Armenia tercatat kurang dari 1%. Keadaan mereka sama sekali tak memiliki pengaruh dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Armenia. Bahkan cenderung ter-shibghah dengan kehidupan sekuler di sana.

Sisa kekuasaan Islam pada beberapa abad sebelumnya hanya berupa sebuah masjid yang hari ini fungsinya antara ada dan tiada. Masjid itu bernama Masjid Biru yang terletak di Mashtots Avenue nomor 12 di pusat Kota Yerean.

Foto: Masjid Biru Armenia | Antara.com

Masjid ini konon dibangun tahun 1765 atas perintah Hussein Ali Khan dari kekuasaan Iran yang kala itu menjadi Gubernur Yerevan. Meski pihak Azerbaijan juga mengklaim bahwa masjid ini adalah warisan sejarah bangsa mereka yang pernah memiliki komunitas besar di Armenia.

Mesjid ini merupakan satu dari tujuh mesjid yang ada sebelumnya. Namun keenam masjid lain tidak diketahui keberadaannya karena ditutup dan dialih fungsikan sewaktu pemerintah komunis Soviet berkuasa.

Alhasil, sejarah Islam di Armenia memang termasuk sejarah yang suram. Namun sejarah ini memberi pelajaran, bahwa penolakan mereka pada dakwah Islam, nyatanya hanya membuat keadaan mereka dikungkung keterpurukan.

Bahkan hari ini, Armenia hanya bisa mengais-ngais dukungan dari negara-negara kapitalis dunia. Semata-mata untuk mendapat dukungan dalam menyelesaikan konflik panjangnya dengan negara tetangga.

Padahal, apa yang dilakukan Armenia, sejatinya merupakan hal berbahaya. Karena selain sedang mengumpankan dirinya pada cengkeraman kapitalisme global, di saat yang sama Armenia sedang membuka lebar pintu masuk bagi negara-negara adidaya itu untuk lebih lama membangun pengaruhnya di kawasan Kaukasus yang kaya sumber alam. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan