Saat Anak Prabalig Mulai Menyukai Lawan Jenis


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, KELUARGA — Menyukai lawan jenis hingga naksir merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap manusia, apalagi remaja. Namun, derasnya arus informasi dan sosial media hari ini membuat virus merah jambu ini juga menyerang anak-anak prabalig.

Mereka terlalu gencar diterpa informasi yang tak sesuai dengan tahapan usianya, baik dari TV melalui tayangan sinetron, lagu cinta, maupun internet yang sangat mudah diakses oleh semua kalangan termasuk anak.

Anak usia sekolah dasar sudah bicara pacaran, cowok ganteng, imut, atau cewek cantik dan lain-lain. Akhirnya tidak sedikit orang tua yang merasa khawatir dengan perkembangan pergaulan anak-anak mereka di usia prabalig.

Sebagian psikolog memandang, ketertarikan anak pada lawan jenis merupakan hal yang alami dan tak perlu dicegah. Menurut mereka, orang tua hanya perlu mendampingi anak agar tetap bertingkah laku sesuai norma yang dianut keluarga.

Bangkitnya Naluri Menyenangi Lawan Jenis

Menyukai lawan jenis adalah bagian dari naluri nau’ (melestarikan keturunan) yang diciptakan Allah Swt. pada semua manusia.

Menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam bukunya An-Nizham Ijtimaiy fil Islam, ada tiga naluri pada diri manusia yakni naluri beribadah, naluri mempertahankan diri, dan naluri melestarikan keturunan.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Khasiyatul Insan (Potensi Manusia)

Naluri tidak akan bangkit kecuali ada fakta yang terindra dan persepsi yang terbentuk pada benak. Jika salah satu dari kedua faktor tersebut tidak ada, naluri tidak akan bergejolak.

Fakta yang dilihat, didengar, dan dirasakan adalah faktor luar yang kemudian dipikirkan, sehingga membuat naluri ini menuntut untuk dipuaskan.

Masalahnya, ini terjadi pada anak yang kondisi  mereka belum siap dengan konsekuensi dari penyaluran ini. Maka, penting bagi orang tua untuk mendeteksi realitas luar yang akan merangsang bangkitnya naluri ini pada anak.

Kemudian, orang tua bisa berlaku bijak terhadap anak dan mengantisipasi tontonan yang tidak layak hadir di hadapan anak. Di samping itu, sejak dini menanamkan pemahaman pergaulan menurut pandangan Islam kepada anak.

Pentingnya Pemahaman Pergaulan Menurut Islam

Sedari awal, harus dipahami bahwa Allah Swt. menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan. Pada keduanya, Allah juga menciptakan potensi yaitu akal untuk berpikir, kebutuhan jasmani, dan naluri. Ada naluri beribadah, naluri mempertahankan diri, dan naluri melestarikan keturunan.

Orang tua adalah yang pertama memiliki pemahaman ini, termasuk tentang mengapa naluri bisa bangkit dan bagaimana pengendalian atau penyalurannya.

Orang tua juga harus membekali diri dengan bagaimana Islam mengatur, sehingga naluri seksual tidak mudah bangkit apalagi pada anak.

Baca juga:  [Nafsiyah] Tiga Cinta dalam Hati Manusia

Pemahaman inilah yang harus ditransfer orang tua kepada anak. Dengan komunikasi yang mudah dipahami anak dan sikap yang dihadirkan orang tua di hadapan anak.

Anak akan melihat bahwa orang tuanya melaksanakan syariat Islam yang dinasihatkan kepadanya. Di dalam rumah, orang tua menjaga sikap dan penampilannya, memisahkan tempat tidur anak, menghindari menonton sinetron ataupun tayangan tidak berguna dan sebagainya.

Di luar rumah, orang tua pun menjaga interaksi dengan lawan jenis dengan menutup aurat, berpakaian sempurna, dan tidak berpenampilan atau bersikap yang membangkitkan naluri seksual lawan jenis.

Pemandangan ini menjadi pembelajaran tidak langsung bagi anak, bahwa orang tuanya pun melaksanakan syariat Islam dalam pergaulan.

Alihkan pada Kegiatan yang Positif

Sebagian kalangan berpandangan, melarang anak untuk meredam rasa sukanya tidaklah bijaksana. Melarang anak berpacaran dan menyuruhnya fokus ke pelajaran bukanlah sikap bijak orang tua dan malah membuat anak penasaran.

Namun, Islam telah menggariskan bahwa ketika naluri menyukai lawan jenis itu bangkit, pemenuhannya adalah dengan pernikahan. Ini tidak mungkin dipenuhi pada anak prabalig.

Maka, di samping transfer pemahaman Islam, orang tua juga perlu mempersiapkan program-program untuk melejitkan potensi positif anak dan mengalihkan perhatiannya dari memenuhi naluri menyenangi lawan jenis. Bukan sekadar menyuruh anak untuk suka membaca buku atau rajin membaca Al-Qur’an atau menghafalnya.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan antara Gharizah dan Kebutuhan Jasmani

Orang tualah yang mengajak dan membersamai anak melakukan hal-hal positif tersebut. Bertamasya bersama anak sambil mengagungkan Allah yang telah menciptakan alam ini dapat menjadi sarana menanamkan keimanan kepada anak.

Secara online pun, orang tua bersama anak bisa belajar mengagumi keteraturan alam yang Allah ciptakan dan sebagainya.

Harus ada perhatian orang tua dengan program yang dibuat untuk pendidikan anaknya. Agar optimal potensi pola pikir dan pola sikap anak. Tentu akidah Islam harus menjadi pondasi utama dalam membangun potensi anak.

Ini adalah bagian ikhtiar orang tua di tengah derasnya arus  liberalisasi yang menerpa anak-anak umat Islam hari ini.  Doa sudah tentu selalu dipanjatkan orang tua untuk anak-anaknya.

Yang penting juga adalah orang tua berjuang menghadirkan sistem Islam yang akan menerapkan Islam kafah di seluruh sendi kehidupan. Sebuah sistem kehidupan yang diridai Allah Swt. dan menjadi benteng hakiki bagi seluruh manusia termasuk anak. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan