[Nafsiyah] Meneropong Generasi Penggenggam Dunia


Penulis: M. A. Haniif


“Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu.” (Imam asy-Syafi’i)

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Sejatinya, nasihat di atas sangat tepat menjadi pengingat diri, terutama ketika kita hidup di tengah merajalelanya penyakit wahn. Yang mana, diri manusia dipenuhi rasa cinta dan tamak akan kenikmatan dunia, serta takut kehilangan dunia.

Hawa nafsu tampak jadi panglima, halal dan haram dicampakkan, bahkan segala yang berhubungan dengan akhirat dihindari untuk diperbincangkan.

Kini, Allah Swt. tunjukkan kuasa-Nya dengan menghadirkan pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Allah perlihatkan betapa dekatnya kita dengan kematian.

Ironisnya, masih banyak juga yang tak tergetar hatinya. Jangankan mendekat kepada Allah dengan memperbanyak amal saleh, justru mereka makin sibuk membangun istana rapuhnya dengan memakan hak-hak rakyat, menipu dan menzalimi mereka.

Sementara di sisi lain, ada orang yang begitu menjauhi dan menganggap hina kenikmatan dunia. Dia menepi dari hiruk pikuk manusia dan hidup penuh kekurangan.

Bagaimana Seharusnya Sikap Kita?

Sebaik-baik teladan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Begitu pun ketika berbicara mengenai cara terbaik menyikapi dunia beserta segala keindahannya.

Suatu ketika, Umar bin Khaththab ra. melihat alas tidur Baginda Rasul (saw.). Dengan prihatin Umar berkata, “Wahai Rasulullah (saw.), sebaiknya Anda memakai tikar yang lebih lembut dari tikar ini.”

Apa jawaban manusia terbaik itu? Rasulullah saw. menjawab, “Apa urusanku dengan dunia? Perumpamaan diriku dengan dunia itu tidak lain seperti orang yang berkendara di suatu hari di musim panas, lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya.” (HR Tirmidzi)

Baginda Rasul saw. mengajarkan pada kita, dunia ibarat tempat persinggahan yang akan segera ditinggalkan. Dengan posisi sebagai kepala negara, tak sedikit pun beliau saw. memanfaatkan untuk kesenangan dunia.

Begitu juga sikap para sahabat yang mulia, baik yang kaya ataupun yang tak punya. Mereka tak sedikit pun silau akan harta.

Sebagaimana Sayyidah Khadijah ra.. Ia seorang pengusaha wanita yang kaya raya, memiliki dunia di tangannya, tetapi tak sekalipun dunia menguasai hatinya. Sejak Baginda Rasul saw. diutus menjadi Nabi, ia curahkan semua hartanya untuk mendukung perjuangan dakwah beliau (saw.).

Lalu, siapa yang tak kenal Utsman bin Affan ra. dan Abdurrahman bin Auf ra.? Keduanya sosok yang menginspirasi para pengusaha muslim karena kesuksesannya dalam berniaga. Harta mereka juga berlimpah seakan tiada habisnya. Namun demikian, tak sedikit pun mereka larut dalam kemewahan. Seluruh kekayaan mereka justru dipersembahkan untuk meninggikan kalimat Allah, menebar dakwah Islam, dan berjihad fī sabīlillāh.

Ada sebuah peristiwa menarik tentang Abdurrahman bin Auf ra.. Tak disangka, ternyata beliau ra. pernah berkeinginan jatuh miskin agar bisa masuk surga terlebih dahulu. Untuk memuluskan rencananya, beliau pun memborong kurma busuk dengan harga yang bagus.

Qadarullah, seorang utusan Raja Negeri Yaman datang untuk membeli kurma busuk itu sebagai obat penyakit yang sedang mewabah di negerinya. Sehingga, Abdurrahman bin Auf tak jadi jatuh miskin.

Namun, tidak semua sahabat Rasulullah saw. adalah orang kaya. Banyak juga sahabat yang ditakdirkan tak berharta. Mereka tinggal di shuffah dan hidup begitu sederhana. Salah satunya adalah Rabi’ah bin Ka’ab ra..

Rabi’ah sangat mencintai Rasulullah saw., bahkan sering membantu beliau saw. berwudu. Karena itulah, Rasul ingin membalas kebaikannya. Beliau saw. menanyakan apa yang Rabi’ah inginkan.

Rabi’ah sempat berpikir untuk meminta Rasul mendoakannya agar hidup berkecukupan. Namun, ia segera menghilangkan pikiran itu mengingat bahwa semua kesenangan duniawi akan habis. Maka, ia meminta petunjuk agar bisa menemani Rasulullah saw. di surga.

Dunia Bukan Segalanya

Begitulah para generasi terbaik memandang dunia. Bagi mereka, dunia bukanlah segalanya, bahkan dipandang sebagai alat untuk meraih kebahagiaan akhirat.

Tiadalah para sahabat takut akan kematian, sehingga mereka bersemangat mengikuti setiap momen jihad fī sabīlillāh dengan satu slogan: “Hidup mulia atau mati syahid.”

Dengan pemahaman yang begitu tertancap kuat, tak heran jika generasi sahabat adalah generasi terbaik, khairu ummah. Di kala itulah, Islam sebagai sebuah institusi negara berhasil tumbuh menjadi mercusuar peradaban dunia.

Tentu saja hal itu tidak terbentuk secara tiba-tiba, melainkan dengan proses pembinaan intens yang dilakukan oleh Rasulullah saw.. Pemikiran dan perasaan para sahabat dibersihkan dari sisa-sisa pemikiran jahiliah, sehingga benar-benar memahami makna kehidupan yang hakiki.

Mereka menjadikan syariat sebagai tolok ukur perbuatan. Bagi mereka, mendapat rida Allah Swt. adalah tujuan dan kebahagiaan. Kehidupan mereka juga diatur dengan syariat Islam kafah di bawah naungan kepemimpinan Islam. Atmosfer keimanan pun tercipta di tengah masyarakat.

Sungguh indah hidup mereka, tak diperbudak dunia, justru mampu menjadikannya sebagai sarana mencapai kebahagiaan yang sebenarnya. Itulah kebahagiaan negeri akhirat yang kekal selamanya.

Tidak rindukah kita mengikuti jejaknya? Wallahu a’lam. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan