Zainab binti Ali bin Abi Thalib


Penulis: Ruruh Anjar


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Zainab binti Ali bin Abi Thalib lahir pada 6 H/626 M. Anak ketiga setelah Hasan dan Husein dari pasangan yang mulia, Fatimah binti Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib. Ia lahir lima tahun sebelum Rasulullah, kakeknya, wafat.

Aqilah Bani Hasyim

Zainab tumbuh dan besar dalam lingkungan kehidupan yang mulia, bertakwa, bersahaja, dan ilmiah. Sebagaimana ayahnya, ia suka belajar dan mencintai ilmu pengetahuan. Bahkan, berkat kecerdasannya, ia dijuluki sebagai “Aqilah Bani Hasyim” atau perempuan cerdas dari Bani Hasyim.

Selain itu, ia juga mewarisi keberanian, kepahlawanan, dan kefasihan dalam berbicara, mengikuti ayahnya, Sayidina Ali; serta kebaikan, kelembutan hati, dan pengorbanan dari ibunya, Sayyidah Fatimah az-Zahra.

Zainab menikah dengan anak pamannya atau sepupunya, Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib. Kemudian lahir beberapa orang anak seperti Muhammad, Ali, Abbas, dan Ummi Kultsum.

Zainab juga meriwayatkan beberapa hadis. Beberapa orang meriwayatkan hadis yang berasal darinya, seperti Muhammad bin Amru, Atha bin As-Saib, dan Fathimah binti Husain bin Ali.

Di antara beberapa perkataan Zainab yang dikenal, “Barang siapa yang menginginkan makhluk menjadi syafaat (mediator) baginya menuju keridaan Allah, maka hendaklah dia sering-sering memuji Allah (dengan ucapan alhamdulillah). Tidakkah kau mendengar perkataan mereka ‘sami’a Allahu liman hamidah’ (Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya) kemudian Allah meringankan qudrah-Nya yang akan menimpamu dan merasa malu untuk menurunkan cobaan lebih besar karena kedekatan-Nya padamu.”

Suatu saat Rasulullah pernah mendekap Sayyidah Zainab di dadanya dan meletakkan wajahnya yang mulia di wajahnya. Tiba-tiba Rasulullah (saw.) menangis. Begitu banyak air mata yang mengalir hingga membasahi janggutnya.

Sayyidah Fathimah binti Rasulullah bertanya, “Duhai Ayah, mengapa engkau menangis?”

Rasulullah menjawab, “Setelah kepergianku, anak ini akan mendapat musibah yang bermacam-macam.” Mendengar itu, Sayyidah Fathimah pun menangis.

Saksi Kelam Tragedi Karbala

Zainab menjadi salah satu saksi kelam tragedi Karbala. Sejarah telah mengabadikan perannya yang besar dan kesabarannya pada peristiwa itu. Salah satunya ketika berhadapan dengan Ubaidillah bin Ziyad, saat ia digiring sebagai tawanan.

Ubaidillah bin Ziyad adalah Gubernur Kufah dan Bashrah yang zalim. Ia dan pasukannya telah membunuh Husein dan para sahabat yang menyertainya.

Ketika menghadapi Ibnu Ziyad yang sudah masuk ke ruangan dan duduk, Zainab menyamar dan dikelilingi para budak wanitanya.

Ubaidillah bertanya, “Siapakan wanita yang duduk ini?” Zainab tidak menjawabnya. Ibnu Ziyad mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali, hingga beberapa budak wanita mengatakan, “Ini Zainab binti Fatimah.”

Mengetahui hal itu, Ibnu Ziyad berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mencemarkan nama baik kalian, membunuh kalian, dan mendustakan kalian.”

Zainab membalas, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan Muhammad saw. dan menyucikan kami dengan sebaik-baiknya. Tidak seperti apa yang engkau katakan, karena sesungguhnya yang akan terbongkar kejelekannya adalah orang fasik dan yang akan didustakan adalah orang yang hanyut dalam kemaksiatan.”

Ibnu Ziyad berkata lagi, “Bagaimana pendapatmu mengenai apa yang telah Allah lakukan terhadap keluargamu?”

Zainab menjawab tegas, “Mereka telah ditakdirkan untuk terbunuh, maka mereka pun bersegera menuju tempat pembaringan mereka, dan Allah akan mengumpulkan engkau dengan mereka. Lalu mereka akan mendebatmu di hadapan-Nya.”

Ibnu Ziyad naik pitam. Kemarahannya meluap hingga ‘Amr bin Harits berkata kepadanya, “Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, wahai Amir. Sesungguhnya dia hanyalah seorang wanita, apakah engkau akan menghukum seorang wanita hanya karena ucapannya? Sesungguhnya seorang wanita tidak akan dihukum karena ucapannya dan tidak akan dicela karena omong kosongnya.”

Maka Ibnu Ziyad berujar, “Allah telah menyelamatkan jiwaku dari kesombonganmu dan para pendurhaka dari keluargamu.”

Zainab menangis seraya berkata, “Demi Allah, engkau telah membunuh saudaraku yang separuh baya, memfitnah keluargaku, memutuskan nasabku, dan mencerai-beraikan asal-usulku. Jika ini membuatmu puas, maka engkau telah mendapatkan kepuasan itu.”

Lalu Ibnu Ziyad berkata, ”Demi Allah, perempuan ini pemberani. Sebagaimana ayahmu pun seorang penyair pemberani.”

Demikianlah, Zainab berdiri di hadapan orang zalim ini dengan segenap keberanian. Tak ada rasa takut karena ia senantiasa berpegang teguh dan berserah diri kepada Zat yang Mahakuat dan Mahaperkasa.

Dari lisannya yang fasih tergambar kepedihan dan celaan, namun tetap dalam kemuliaan seorang perempuan mukmin dengan ketegaran dan keberanian yang teguh membela agama Allah.

Sungguh, kefasihan, ketabahan, dan ketegaran yang bersumber dari akidah yang kukuh, mampu membuat musuh-musuh Allah terdiam dan bergetar. Wallahu a’alam bishshawwab. [MNews/Juan]

*Disarikan dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan