[Tarikh Khulafa] Umar bin Khaththab ra., Khalifah yang Sangat Paham Ajaran Islam


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, TARIKH KHULAFA — Umar bin Khaththab ra. termasuk ulama yang terkemuka dan hakim yang adil. Beliau menjadi rujukan para sahabat sepeninggal Rasulullah (saw.). Penguasaan Umar bin Khaththab ra. akan kitabullah dan sunah Rasulullah (saw.) diakui oleh para sahabat.

Abdullah ibnu Mas’ud ra. menyatakan, “Umar adalah orang yang paling alim di antara kami tentang Zat Allah Swt.. Dia juga orang yang paling fasih dalam membaca Al-Qur’an. Selain itu, dia adalah orang yang paling paham tentang ajaran Allah.”

Ilmu, Modal Utama Seorang Khalifah

Ilmu yang dimiliki Umar bin Khaththab ra. terbukti pada saat beliau menjadi khalifah setelah Abu Bakar ash-Shiddiq ra.. Bahkan, beliau mendapatkan gelar Amirulmukminin dengan kepemimpinannya yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah; seorang kepala negara yang berilmu memimpin masyarakat dengan pemahamannya akan ajaran Islam.

Amirulmukminin melaksanakan tugasnya meriayah rakyat berdasarkan syariat Allah, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Umar bin Khaththab ra. menjadi khalifah dalam rentang waktu yang cukup lama. Dengan ilmunya, Khalifah Umar mengeluarkan kebijakan yang mampu menyejahterakan rakyatnya dan memperluas wilayah kekuasaan Negara Khilafah pada masa itu.

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Amirulmukminin yang Memiliki Istana di Surga

Keluasan Ilmu Amirulmukminin

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadis Abdullah bin Umar, “Aku mendengar Rasulullah (saw.) bersabda, ‘Saat tidur aku bermimpi, aku diberi semangkuk susu. Lalu aku meminumnya hingga aku melihat susu itu keluar di antara jari jemariku. Aku berikan sisanya kepada Umar bin Khaththab.’ Mendengar cerita tersebut, para sahabat bertanya, ‘Bagaimana engkau menakwilkan mimpi itu wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Ilmu.'” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam redaksi yang lain, Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw.) bersabda, “Aku melihat dalam mimpiku aku diberi satu mangkuk besar yang penuh dengan susu. Aku minum sampai aku merasa kenyang, hingga aku melihat air susu itu berjalan mengalir di urat-urat nadiku, antara kulit dan daging. Kemudian aku menyisakan sebagian dan aku berikan kepada Umar bin Khaththab.’ Lalu para sahabat menakwilkan dengan mengatakan, ‘Wahai Nabi Allah, ini adalah ilmu yang diberikan Allah padamu, kemudian ilmu itu memenuhi dirimu, dan engkau sisakan sebagian kemudian engkau berikan kepada Umar bin Khaththab.’ Rasul membenarkan penakwilan tersebut dengan mengatakan, ‘Kalian benar.'” (HR Tabrani)

Imam Nawawi menjelaskan bahwa “susu” ditafsirkan dengan “ilmu” karena keduanya sama-sama memberikan manfaat dan mendatangkan kebaikan. Susu adalah makanan bagi bayi yang bisa membuat mereka sehat dan badan menjadi kuat. Sedangkan ilmu akan mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat.

Baca juga:  Peradilan Antisuap (Nasihat Khalifah Umar bin Khaththab ra. kepada Para Hakimnya - Bagian 1/2)

Imam Nawawi menegaskan, para ulama sepakat tentang luasnya ilmu Umar bin Khaththab ra. dan kecerdasannya dalam memahami suatu masalah, juga tentang kezuhudannya. Mereka sepakat pula bahwa Umar ra. sebagai orang yang tawaduk, lemah lembut terhadap kaum muslimin, berkomitmen pada kebenaran, dan dikenal sebagai orang yang sangat menghormati ajaran yang telah diwariskan Rasulullah (saw.).

Umar ra. juga dikenal sebagai orang yang sangat istikamah mengikuti ajaran Rasulullah (saw.). Ia sangat memperhatikan kepentingan-kepentingan kaum muslimin dan memuliakan orang-orang yang memiliki keutamaan dan kebaikan.

Kebaikan Umar bin Khaththab ra. sangat banyak. Sampai-sampai pada saat Umar ra. meninggal dunia, Ibnu Mas’ud memberikan komentar, “Telah hilang Sembilan persepuluh ilmu.” Pandangan para ulama salaf tentang keilmuan Umar bin Khaththab sangat masyhur.

Kepala Negara Yang Menegakkan Hukum Allah

Adalah Qubaishah bin Jabir orang memiliki pengalaman dan kritis. Ia sering menemani Amirulmukminin Umar bin Khaththab ra..

Qubaishah mengatakan, “Demi Allah, aku tidak melihat seorang pun yang lebih lembut kepada rakyatnya dan lebih baik daripada Abu Bakar ash-Shiddiq ra.. Aku juga tidak melihat seorang pun yang paling fasih membaca Al-Qur’an, paling paham tentang ajaran Allah, lebih lurus dalam menegakkan hukum Allah, serta tidak ada yang lebih baik dalam mencetak generasi Islam, daripada Umar bin Khaththab. Aku tidak melihat orang yang lebih punya sifat malu melebihi Utsman.

Baca juga:  Penentuan Upah Pegawai Pemerintahan pada Masa Khalifah Umar bin Khaththab ra.

Tidak hanya faqqih fiddin, Umar bin Khaththab ra. memimpin Negara Khilafah Islamiah dengan menjalankan seluruh ajaran Islam secara kafah. Umar ra. adalah pemimpin yang bertakwa. Keamanan dan keberkahan hidup dirasakan kaum muslimin di bawah kepemimpinan Amirulmukminin Umar bin Khaththab ra.. [MNews/Rgl]

Sumber :Tarikh Khulafa, Prof. Dr. Ibrahim al-Quraibi, Qisthi Press

Tinggalkan Balasan