Tsaqafah

[Mafahim Islamiyah] Asy-Syakhsiyatu Aqliyatun wa Nafsiyatun


Penulis: Muhammad Husain Abdullah


MuslimahNews.com, MAFAHIM ISLAMIYAH — Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga aku (Nabi) dijadikan akalnya untuk berpikir.” (Al Hadis)

Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu hingga nafsunya mengikuti apa yang datang dari saya (Nabi) atau Al-Hadis.”

Aqliyah adalah cara yang berlandaskan asasnya berpikir tentang realitas, atau juga disebut cara manusia mengaitkan maklumat sabiqah dengan realitas berdasarkan kepada kaidah tertentu.

Dan nafsiyah adalah cara manusia mengaitkan dorongan-dorongan pemenuhan gharizah dan hajah ‘udwiyah dengan mafahim-nya, atau disebut juga dengan muyul yang merupakan hasil dari mengaitkan mafahim dengan dorongan-dorongan. Lantas apa pengait antara aqliyah dan nafsiyah?

Sesungguhnya sudah merupakan urusan alami manusia adalah berpikir tentang al-asyya dan al-a’mal, kemudian menghukuminya berlandaskan kaidah tertentu seperti akidah yang dipegangnya. Dari tafkir ini akan dihasilkan mafahim yaitu menjadikan pemikirannya sebagai dalil-dalil atas realitas yakni indera menemukan realitas atau tergambarnya realitas di dalam otak dan meyakininya seperti menemukan realitas yang bisa diindra langsung.

Mafahim ini mempengaruhi pada dorongan-dorongan pemenuhan. Maka jadilah  baginya muyul pemenuhan sebagai hasil dari mengaitkan antara mafahim dengan dorongan, bagi mafahim ada ikatan antara ‘aqliyah manusia dengan nafsiyah-nya, karena mafahim yang terbentuk adalah dari jalan berpikir tentang realitas (aqliyah-nya) yang akan menghukumi muyul yang dihasilkan dari mengaitkan antara mafahim dan dorongan-dorongan (nafsiyah-nya).

Baca juga:  Pemimpin Bodoh dan Dampak Buruknya

Dan mengaitkan antara ‘aqliyah dan nafsiyah tampak jelas di dalam syakhsiyah mutamayyizah, contohnya yang bisa diteladani adalah Anas bin Nadhar salah satu Sahabat, semoga Allah rida padanya. Dalam perang Uhud beliau bersama ‘Umar bin al-Khaththab dan Thalhah bin ‘Ubaidillah melewati kelompok Sahabat Muhajirin dan Anshar, kelompok Sahabat tersebut duduk dan melemparkan senjatanya setelah tersebar berita bahwa Rasulullah terbunuh. Maka Anas bin Nadhar berkata kepada mereka, “Apa yang membuat Anda sekalian duduk?” Mereka menjawab, “Rasulullah saw. terbunuh.” Berkata Anas bin Nadhar, “Apa yang akan Anda perbuat dengan hidup Anda setelah Rasulullah mati? (Apakah anda akan berhenti berjuang dengan wafatnya Rasul saw.?) Bangkit dan matilah seperti matinya Rasulullah.” Kemudian mereka bangkit dan menghadapi kaum Quraisy, lalu memeranginya sehingga mereka mati syahid.

Suluk dari Anas bin Nadhar menunjukkan sebuah syakhsiyah mutamayyizah, menunjukkan adanya ikatan yang kuat antara ‘aqliyah dan nafsiyah-nya. Anas bin Nadhar mengindra realitas yakni para Sahabat membiarkan tidak saling menolong dalam peperangan setelah tersebar berita terbunuhnya Rasulullah dan Anas bin Nadhar mengikatkan realitas dengan maklumat sabiqah (pahitnya kekalahan dan haramnya berpaling pada hari kepayahan pada waktu perang dan pengaruh tersebarnya kematian Rasulullah pada Sahabat). Anas Bin Nadhar berpijak dari pemikiran kaidah asasiyah yaitu akidah Islamiyah dan bahwa peperangan itu wajib dan balasan bagi mujahid atau mati syahid adalah surga, juga ajal itu sudah ditentukan Allah dan lari dari peperangan adalah haram.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Ruh

Pemikiran-pemikiran ini bagi Anas bin Nadhar sebagai mafahim karena beliau yakin dan percaya atas pemikiran tersebut, kemudian mengaitkan antara mafahim ini dengan dorongan-dorongan gharizah baqa’ yang terlihat mazhahir-nya dari para Sahabat yaitu menjaga kehidupan dan takut dari mati, kemudian Anas bin Nadhar menyesuaikan dorongan-dorongan ini dengan mafahim-nya maka jadilah mereka cenderung untuk berperang walaupun mereka melaksanakan sesuatu yang kontradiksi dengan dorongan-dorongan gharizah-nya, maka ‘aqliyah Anas bin Nadhar adalah aqliyah Islamiyah. Beliau bisa mengubah dorongan-dorongannya dan menjadikannya sebagai muyul yang Islamiyah, sehingga jadilah nafsiyah-nya cenderung berperang melawan musuh dan lebih baik mati syahid menyusul Rasulullah.

Sungguh Anas bin Nadhar telah menerjemahkan Syakhsiyah Mutamayyizah yang tinggi kepada suluk yang men-jasad (mengkristal) dalam dirinya dengan memerangi kaum musyrikin.

Adapun aktivitasnya bukanlah Syakhsiyah, bukan ‘aqliyah, dan bukan pula nafsiyah, akan tetapi merupakan bekas dari bekas-bekasnya syakhsiyah,’aqliyah dan nafsiyah.

Syakhsiyah kadang-kadang bisa berbentuk syakhsiyah mutamayyizah dan syakhsiyah ghairu mutamayyizah. [MNews/Rgl]

Sumber: Mafahim Islamiyah, Muhammad Husain Abdullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *