Tsaqafah

[Mafahim Islamiyah] Al-Nafsiyah

MuslimahNews.com, MAFAHIM ISLAMIYAH — Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu, hingga nafsunya mengikuti apa yang datang dari saya (Nabi).” (Al-Hadis)

Gharizah dan hajah ‘udwiyah yang dimiliki manusia menuntut pemenuhan yang akan mendorong manusia melakukan aktivitas pemenuhan tersebut. Manusia akan bergerak secara fitri sebagai pemenuhan (isyba’) yang disebut dengan dorongan-dorongan (dawafi’).

Maka, jika manusia dibiarkan di dalam dorongan-dorongan ini tanpa aturan dan patokan, manusia akan memenuhi gharizah dan hajah ‘udwiyah menurut hawa nafsunya. Sehingga, haruslah dorongan-dorongan tersebut dikaitkan dengan mafahim manusia tentang al-a’mal dan al-asyya.

Karena manusia hidup di dalam masyarakat, maka konsekuensinya di situ harus ada pemikiran-pemikiran tertentu di dalam menghukumi al-asyya dan al-af’al, yang bisa memengaruhi dan mengakses kepada masyarakat. Sehingga, pemikiran tersebut dijadikan sebagai mafahim tertentu untuk menghukumi terhadap dorongan-dorongan tersebut.

Keterkaitan antara dorongan-dorongan manusia dan mafahim-nya disebut dengan muyul (kecenderungan). Maka, muyul itu lebih tinggi dari dorongan-dorongan, karena muyul itu dorongan-dorongan yang dikaitkan dengan mafahim.

Dorongan-dorongan pemenuhan ada pada manusia dan hewan, sedangkan muyul ada pada manusia dan tidak ada pada hewan, karena beda fundamen manusia dan hewan terletak pada idrak/tafkir: manusia bisa berpikir, hewan tidak, dan dengan tafkir saja didapatkan mafahim.

Maka, nafsiyah adalah cara manusia mengaitkan manusia dorongan-dorongan pemenuhan dengan suatu mafahim, dan mafahim ini kembali kepada pemikiran-pemikiran tertentu yang bersumber dari perspektif kehidupan, dalam arti hidup itu dibatasi atau tidak.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Asy-Syakhsiyah Ghairu Mutamayyizah

Jika mafahim itu muncul dari akidah islamiah, tentu nafsiyah-nya adalah nafsiyah islamiah. Begitu juga jika mafahim-nya muncul dari akidah komunisme atau kapitalisme, maka nafsiyah-nya adalah komunisme dan kapitalisme.

Jika mafahim-nya muncul dari qaidah/aturan yang bermacam-macam, berarti nafsiyah-nya adalah nafsiyah yang kacau dan cenderung anarkisme.

Nafsiyah adalah yang menjadikan manusia mendahulukan beraktivitas atau menahan beraktivitas. Nafsiyah inilah yang menghukumi dan memutuskan di dalam dorongan-dorongan gharizah dan hajah ‘udwiyah.

Seorang muslim, sebelum khamr diharamkan, suka meminum khamr karena mafahim-nya terhadap khamr adalah mubah/boleh. Maka, ketika turun ayat:

“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS Al-Maidah: 91)

Ketika mendengar ayat pengharaman khamr di atas, mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah menghentikan meminum khamr dan menahan mereka yang masih terbelit dengan minuman khamr.” Lalu dilanjutkan penumpahan seluruh khamr di jalan-jalan Madinah, setelah itu mereka tidak meminum khamr lagi.

Perubahan pemahaman tentang khamr telah mengubah muyul mereka kepada khamr. Kecenderungan baru ini adalah hasil dari mengaitkan dorongan-dorongan dengan mafahim (nafsiyah).

Mafahim Islam datang untuk mengubah muyul orang Arab (untuk pertama kali), dan dengan mafahim Islam ini telah mampu mengubah total muyul mereka sampai akar-akarnya.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan antara Gharizah dan Kebutuhan Jasmani

Kita bisa menyimak kisah dua saudara sekandung, salah satunya masuk Islam, yaitu Muhayyishoh bin Mas’ud dan satunya lagi masih kafir, yaitu Huwayyishoh bin Mas’ud. Rasulullah (saw.) menyuruh sahabat yang muslim yaitu Muhayyishoh untuk membunuh Ka’ab bin Yahuudza.

Kemudian, saudaranya yang kafir yaitu Huwayyishoh mencela Muhayyishoh seraya berkata, “Apakah engkau telah membunuh Ka’ab bin Yahuudza? Sungguh Ka’ab telah sering memberi makan kamu dan tumbuh di dalam perutmu hartanya, sungguh engkau tercela, Muhayyishoh.”

Maka, Muhayyishoh bin Mas’ud menjawab, “Sungguh Rasul telah menyuruh saya untuk membunuhnya, seandainya Rasul menyuruh saya membunuh kamu, maka akan kubunuh kamu.”

Huwayyishoh menjawab, “Demi Allah, sungguh agama yang datang padamu itu betul-betul mengagumkan.” Maka, masuk Islamlah Huwayyishoh bin Mas’ud.

Nafsiyah Muhayyishoh bin Mas’ud adalah adanya keterkaitan dorongan-dorongan dengan mafahim-nya, sehingga menjadikan muyul-nya berdasarkan hukum syarak.

Hal ini jelas dari perkataan Muhayyishoh kepada Huwayyishoh, “Sungguh Rasul menyuruh saya membunuh Ka’ab, sehingga seandainya Rasul menyuruh saya membunuh kamu, tentu aku akan membunuhmu.” Jadi, bukan berdasar gharizah atau kemaslahatan, seperti yang dijadikan pegangan saudaranya yang kafir.

Itulah nafsiyah yang benar seperti yang diajarkan Islam, sehingga menjadikan kekaguman saudara yang kafir, yang dilanjutkan dengan proklamasi dirinya menjadi Islam. [MNews/Rgl]

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Perubahan Mujtama'

Sumber: Mafahim Islamiyah, Muhammad Husain Abdullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *