Tsaqafah

[Mafahim Islamiyah] Al-Syakhsiyah (Kepribadian)


Penulis: Muhammad Husain Abdullah


MuslimahNews.com, MAFAHIM ISLAMIYAH — Manusia melaksanakan aktifitasnya untuk memenuhi gharizah dan hajah ‘udwiyyah dan kumpulan dari aktivitas ini adalah suluk (tingkah laku) manusia. Suluk terikat  dengan mafahim manusia dari al-asyya dan al-af’al dan al-hayah. Suluk adalah yang menunjukkan syakhsiyah seseorang, tidak termasuk di dalam syakhsiyah ini seperti postur             tubuh seorang dan baik buruknya tubuh, bentuknya, warna kulitnya, atau ras bangsanya.

Syakhsiyah adalah thariqah akal manusia terhadap suatu realitas, atau muyul-nya  terhadap realitas. Arti lain dari Syakhsiyah manusia adalah aqliyah dan nafsiyah manusia. Lantas apa aqliyah dan apa nafsiyah itu ?

Al-Aqliyah

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (QS Al Hasyr: 7)

Manusia mengindra realitas dan mengaitkan dengan maklumat sabiqah yang ada padanya tentang realitas yang diindra itu, kemudian menghukumi realitas tersebut berdasarkan al-qaidah al-fikriyah yang dipakai sebagai parameter di dalam proses berpikirnya.

Minyak bumi misalnya, yang sering disebut sebagai emas hitam, realitas minyak akan diindra manusia, dan minyak itu kemudian mempengaruhi hubbu al tamalluk-nya maka dia akan menghukuminya bahwa minyak tadi bisa memenuhi gharizah baqa-nya. Akan tetapi qaidah fikriyah yang digunakan manusia sebagai parameter untuk menghukumi sesuatu disandarkan pada penghukuman yang dahulu sama dengan yang akhir.

Maka seorang muslim melihat bahwa minyak bumi yang bisa memuaskan gharizah baqa wajib menjadi milik umum, jika dia mengambil akan menguranginya seperti mengurangi sesuatu yang bukan bagiannya, maka individu-individu dari masyarakat mempunyai hak atas minyak bumi tersebut. Sedangkan kapitalisme/liberalisme melihat bahwa minyak tanah bisa memuaskan gharizah baqa dan menjadi milik individu, setiap individu berhak untuk memilikinya asal mampu, tanpa mengindahkan kepentingan yang lain.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Hubungan Unsur-Unsur Pembentuk Mujtama’

Seorang wanita cantik secara realitas akan mempengaruhi al-mailu al-jinsi bagi seorang pria, maka dia akan menghukuminya bahwa wanita tersebut bisa memuaskan sebagian dari gharizah nau’nya. Akan tetapi qaidah fikriyah yang digunakan manusia sebagai parameter dalam menghukumi realitas, disandarkan kepada penghukuman yang pertama (seorang muslim) berbeda dengan yang akhir (kapitalis).

Maka seorang muslim melihat bahwa wanita yang bisa memuaskan gharizah nau’nya adalah sesuatu yang harus dijaga dan dipelihara, sedangkan kapitalisme/liberalisme melihat wanita selain bisa memuaskan gharizah nau’-nya, juga sebagai barang perniagaan yang bisa dimanfaatkan untuk pemuasan gharizah baqa, juga bisa digunakan di dalam perwujudan usaha-usaha madiyah seperti untuk mata-mata/spionase, mengundang seorang pembesar sebagai jamuan, dan lain-lain. Dan sebab perbedaan dalam menghukumi sesuatu yang dilakukan seorang muslim dan kapitalis/liberalis atas minyak bumi dan atas wanita dari perbedaan qaidah fikriyah yang dibuat landasan berfikir. Maka akidah Islamiyah yang timbul darinya hukum-hukum bagi seorang muslim bukanlah akidah kapitalis/liberalis yang menjadi sumber hukum orang kapitalis.

Aqliyah adalah cara berjalan atas asasnya untuk berpikir sesuatu atau disebut juga  dengan cara manusia mengaitkan realitas dengan maklumat yang disandarkan pada qaidah tertentu. Adapun aqliyah Islamiyah adalah cara berpikir dan menghukumi tentang al-asyya dan al af’al yang berlandaskan atas al-qaidah al-fikriyah al-asasiyah bagi seorang muslim yaitu aidah Islamiyah karena hal itu merupakan hukum-hukum syarak yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya dan dengan Tuhannya serta dengan yang lainnya. Seorang muslim menggunakan hukum syarak untuk menghukumi al-asyya dan al-af’al dan hukum-hukum ini bersumber dari akidah Islamiyah.

Seorang muslim yang mengindera realitas kemudian mengaitkannya dengan maklumat sabiqah maka ia akan menemukan esensi realitas tersebut, kemudian esensi tersebut dibahas dari hukum syarak, selanjutnya realitas ini dijelaskannya, jadi proses dari ihsas sampai ke pengaitan penjelasan berdasarkan hukum syarak disebut al-aqliyah al-Islamiyah. Barang siapa yang menempuh cara ini di dalam memahami realitas dan menghukuminya, maka berarti telah menggunakan ‘aqliyah Islamiyah, sehingga ia dapat menghukumi bahwa jihad itu fardhu, sedekah itu sunah, buah apel itu mubah dimakan, berobat dengan barang yang najis itu makruh, dan zina itu haram karena hukum syarak khitab pembuat syarak yang dikaitkan dengan aktivitas manusia yang tidak akan keluar dari al-ahkaamu al-khomsah, yakni: fardhu, mandhub/sunah, mubah, makruh, dan haram.

Baca juga:  Memahami Amal (Aktivitas) menurut Islam (Bagian 3/3)

Jadi akidah Islamiyah merupakan sumber munculnya hukum syarak yang berasal dari wahyu Allah. Firman Allah,

“Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa-apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah.” (QS Al Hasyr 7).

Para sahabat Nabi semuanya memegang ‘aqliyah Islamiyah mutamayyizah (modern), setiap mendapatkan dan mengetahui realitas dipandang dari sisi dan visi Islam.

Dalam Perdamaian Hudaibiyah, berkata Ibnu Hisyam yang dinukilkan dari ibnu Ishaq dari Al-Zuhri:

Ketika selesai perdamaian Hudaibiyah, tapi masih di dalam tulisan saja, ‘Umar bin Al- Khaththab bergegas mendatangi Abu Bakar kemudian berkata, “Bukankah dia itu Rasulullah?” Abu Bakar menjawab, “Betul dia Rasulullah.” Maka Umar berkata lagi, ”Bukankah kita kaum muslimin?” Beliau menjawab, “Betul, kita kaum muslimin.” Berkata lagi ‘Umar, “Bukankah mereka kaum musyrikin?” Menjawab Abu Bakar, “Betul mereka kaum musyrikin. Berkata Umar, ”Untuk apa kita memberi kehinaan pada agama kita (mengadakan perjanjian dengan mereka?” Berkata Abu Bakar, ” Yaa Umar, tetaplah pada prinsipnya (pegang teguh keputusan yang telah dipegang nabi), maka saya bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah.”

Abu Bakar dengan ‘aqliyah Islamiyah-nya yang tunggal menemukan bahwa perdamaian Hudaibiyyah adalah jaiz/mubah, maka berkata kepada Umar yang belum menemukan hukum atas perkara itu, “Tetaplah pada prinsipnya yaitu ikutilah perintah Rasul. Saya bersaksi bahwa Dia adalah Rasulullah.”

Maka penghukuman perdamaian Hudaibiyah yang dikatakan Abu Bakar berangkat dari pemikiran akidah Islamiyahnya, yakni dengan adanya persaksian beliau terhadap kerasulan Muhammad, dan datang perkara ini dari Allah Swt.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Al-Idrak (Pemikiran) Bagian 2/3

Adapun ‘Umar Bin Al-Khaththab juga menggunakan akidah Islamiyah Mutamayyizah, terbukti dia telah berkata kepada Abu Bakar, “Saya bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah.” Kemudian beliau mendatangi Rasul dan berkata, “Wahai Rasulullah bukankah anda seorang Rasul?” Rasul menjawab, “Benar saya Rasul.” Berkata ‘Umar, “Untuk apa kita memberikan kehinaan pada agama kita?” Jawab Rasul, “Saya hamba Allah dan Rasul-Nya dan tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Allah juga tidak akan mengabaikan saya.”

Berkata al-Zuhri, ”Maka ‘Umar berkata, ”Saya senantiasa bersedekah, berpuasa, salat, dan memerdekakan budak, saya takut dan berlindung kepada Allah dari perkataan yang saya katakan dan mengharap semua perkataan saya menjadi baik. Maka ‘Umar berkata, “Saya bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah”, menerangkan bahwa beliau masih muslim, dan masih mengambil penghukuman terhadap sesuatu berdasarkan Islam, lalu beliau pergi kepada Rasul dan melaksanakan dengan rida terhadap perdamaian Hudaibiyah.

Maka akidah islamiah yang digunakan manusia sebagai parameter untuk  menghukumi realitas itulah yang membatasi dan membedakan dengan al-aqliyah yang lain, maka siapa yang berpikir terhadap realitas dari perspektif Islam (Islamic thinking oriented) itulah ‘aqliyah Islamiyah dan siapa yang berpikir terhadap realitas dari perspektif kapitalisme/liberalis maka itulah ‘aqliyah kapitalisme dan siapa berpikir terhadap realitas dari perspektif komunis, maka itulah

aqliyah komunisme yang tidak modern. [MNews/Rgl]

Sumber: Mafahim Islamiyah, Muhammad Husain Abdullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *