Arus Sekularisme Menutup Cahaya Islam di Azerbaijan


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Penaklukan wilayah Azerbaijan terjadi sekira tahun 643 M setelah pasukan Islam berhasil menaklukkan kekuatan imperium Sasanid Persia di wilayah Iran.

Penaklukan Azerbaijan ini sejalan dengan penaklukkan wilayah Kaukasus lainnya, seperti Georgia dan Armenia. Dilakukan oleh beberapa pasukan ekspedisi yang dibentuk oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra..

Sebelum masuk dalam kekuasaan Islam, wilayah ini sempat dikuasai beberapa bangsa, termasuk oleh imperium Romawi dan Sassanid (Persia).

Namun ketika ditaklukkan oleh Islam, Azerbaijan sedang ada dalam kekuasaan Sassanid dan penduduknya memilih membayar jizyah.

Pascapenaklukan ini, tak butuh waktu lama, Islam pun menyebar di Azerbaijan. Hal ini memang sesuai dengan visi futuhat dalam Islam yang tak lepas dari visi dakwah. Bukan visi penjajahan yang eksploitatif sebagaimana penaklukan yang biasa dilakukan bangsa-bangsa non-Islam.

Maka setelah itu, jadilah Islam sebagai agama mayoritas penduduk Azerbaijan. Bahkan agama ini mendasari terbentuknya tradisi dan corak hidup masyarakatnya yang Islami dalam kurun waktu yang cukup lama.

Sementara secara politik, wilayah ini berada dalam kekuasaan Khalifah Rasyidah setelah Sayidina Umar, yakni di bawah kepemimpinan Khalifah Utsman dan Ali.

Lalu berganti-ganti di bawah kekuasaan Khilafah Bani Umayyah, Khilafah Bani Abbasiyah, dan abad 11 M direbut dan dikuasai oleh Dinasti Turki Seljuk, dilanjut oleh Turki Utsmani.

Dikuasai Dinasti Safawi yang Syiah

Sekitar abad 13 M di perbatasan Azerbaijan Iran berkembang gerakan sufi Safawi yang mengadopsi ajaran Syiah. Saat itu kepemimpinan Khilafah sudah berada di tangan Khilafah Utsmaniyah yang mulai tegak pada 1299 M dan mengadopsi Islam Sunni sebagaimana Dinasti Seljuk.

Saat wilayah Iran dianeksasi Dinasti Timuriah Mongol sekira tahun 1370 M, gerakan sufi ini berkembang menjadi sebuah gerakan politik yang terus melakukan perlawanan. Hingga pada 1501 M  akhirnya berhasil menumbangkan Dinasti Timuriyah.

Selanjutnya, gerakan ini mendirikan kekuasaan politik yang dikenal dengan Dinasti Safawiyah hingga terjadi perang dengan pusat kekuasaan Khilafah yang saat itu sudah berada di tangan dinasti Utsmaniyah.

Perang Utsmaniyah-Safawiyah ini terjadi pada 1532—1555 M. Berujung dengan Perdamaian Amasya yang membagi wilayah kekuasaan di antara keduanya.

Kesultanan Utsmaniyah memperoleh Irak, Kurdistan, dan Armenia Barat. Sedangkan Dinasti Safawiyah kembali mendapati Tabriz (Azerbaijan), Provinsi Kaspia.

Setelah perang berakhir, Dinasti ini dengan cepat melebarkan kembali pengaruhnya ke wilayah-wilayah sekitar Iran, termasuk ke wilayah Kaukasus seperti Georgia dan Azerbaijan.

Hingga pada puncak kejayaannya, wilayah kekuasaan Dinasti Safawiyyah ini meluas meliputi Iran, Azerbaijan, Armenia, sebagian besar Irak, Georgia, Afganistan, Pakistan, Turkmenistan, Turki, dan wilayah Kaukasus lainnya.

Dinasti ini lalu menjadikan Islam Syiah sebagai agama resmi negara dengan cara yang represif. Akhirnya Syiah tersebar luas di seluruh wilayah kekuasaannya. Bahkan, wilayah Azerbaijan disebut-sebut menjadi wilayah penganut Syiah terbesar kedua setelah Iran.

Namun demikian, catatan sejarah juga menyebutkan bahwa wilayah Azerbaijan saat itu seakan menjadi pembatas antara pengaruh Ottoman dan Safawi. Sehingga, warna keislaman di wilayah ini juga terpecah menjadi dua, yakni Sunni-Syi’i yang akhirnya sering kali memunculkan friksi.

Dinasti Safawiyah ini berkuasa di Azerbaijan dan wilayah lainnya hingga 1722. Lalu sempat mengalami restorasi singkat dari tahun 1729 hingga 1736.

Ia tegak bersamaan dengan Khilafah Utsmaniyah di Turki (1299—1924 M) dan kesultanan Mughal di India (1526—1857 M), dan ketiganya dikenal sebagai negara mesiu, yakni negara dengan kekuatan militer yang ditakuti.

Minyak Menjadikan Azerbaijan Diperebutkan

Di bawah kepemimpinan Dinasti Safawi, Azerbaijan sebagaimana wilayah lainnya menjadi wilayah yang cukup maju terutama bidang pemerintahan, seni budaya dan militer.

Namun, seiring dengan perpecahan internal, akhirnya wilayah kekuasaan Dinasti ini terpecah-pecah dan kekuatan politiknya pun melemah di bawah kepemimpinan beberapa Khan.

Pada kondisi inilah terjadi perang antara kekuasaan Safawi dan Kekaisaran Rusia (Tsar). Hingga Azerbaijan akhirnya direbut Rusia melalui Perjanjian Gulistan pada 1813, dan Perjanjian Turkmenchay pada 1828, dan beberapa perjanjian yang lebih awal antara Tsar Rusia dan para khan berakhir pada dasawarsa pertama abad ke-19.

Perebutan kekuasaan di wilayah ini makin memiliki alasan ketika pada 1873 M ditemukan cadangan minyak (“emas hitam”) di Kota Baku yang ada di wilayah Azerbaijan dan nantinya menjadi pusat pemerintahan negara Azerbaijan.

Cadangan minyak di Baku ini jumlahnya sedemikian fantastis, hingga separuh cadangan minyak dunia pada awal abad ke-20 itu disuling di Baku.

Praktis, selama dalam kekuasaan Kekaisaran (Tsar) Rusia, posisi Azerbaijan menjadi wilayah jajahan. Sumber dayanya dieksploitasi dan meski penjajah tak mengutak-atik urusan agama penduduknya, namun sekularisasi berjalan secara massif. Hingga muncul tokoh-tokoh sekuler yang mengampanyekan anti agama Islam.

Setelah Kekaisaran Rusia jatuh pada PD I Azerbaijan bersama Armenia dan Georgia sempat menjadi bagian Republik Federasi Demokrasi Transkaukasia. Namun pada Mei 1918 republik itu bubar dan Azerbaijan menyatakan kemerdekaan sebagai Republik Demokrasi Azerbaijan.

Pasca-Revolusi Bolsevik di Rusia dan negara sosialis Uni Soviet (USSR) berdiri, Tentara Merahnya pun menyerang Azerbaijan. Maka pada Maret 1922, Azerbaijan, bersama dengan Armenia dan Georgia menjadi bagian dari negara Uni Soviet yang berhaluan sosialis.

Di bawah kekuasaan sosialis inilah kondisi kaum muslim di Azerbaijan dan negeri-negeri muslim lainnya makin tertindas. Simbol-simbol dan praktik Islam menjadi sesuatu yang terlarang. Maka otomatis sekularisasi pun berjalan makin massif.

Ketika terjadi PD II, wilayah Azerbaijan, khususnya Baku menjadi sasaran Operasi Edelweiss Adolf Hitler. Ia ingin mencaplok wilayah yang kaya minyak di Azerbaijan ini namun bisa digagalkan oleh pasukan Uni Soviet.

Saat kondisi Uni Soviet mengalami keguncangan dengan arus liberalisasi sekitar tahun 1990, masyarakat Azerbaijan pun bergerak menuntut kemerdekaan. Namun, demonstrasi itu secara brutal ditindas oleh Soviet, hingga orang Azerbaijan mengenangnya sebagai Januari Hitam.

Namun, sejalan dengan runtuhnya Uni Soviet pada 1991 M, Azerbaijan pun memproklamasikan kemerdekaannya dan memilih menjadi negara demokratis dan sekuler.

Hanya saja, jauh sebelum itu Stalin telah berhasil menciptakan biang konflik yang membuat saat Azerbaijan menjadi negara merdeka harus terus menerus terlibat perang dengan negara tetangganya Armenia yang juga muslim terkait perebutan wilayah, khususnya di perbatasan Nagorno-Karabakh.

Saat itu, tahun 1923, awalnya Stalin memutuskan wilayah Nagorno-Karabakh yang penduduknya 93% etnis Armenia menjadi bagian wilayah Armenia. Tiba-tiba di tahun itu pula, Stalin mengubah keputusannya dan menyerahkan wilayah ini kepada Azerbaijan.

Azerbaijan, Situasi Sekarang

Hingga saat ini, konflik etnik dan wilayah antara Azerbaijan dan Armenia masih terus berlangsung meski tensinya naik turun. Konflik ini mengakibatkan kedua negara menghadapi masalah pengungsi dan orang telantar yang kesulitan ekonomi.

Foto: Salah satu dampak perang dengan Armenia 1993, Kota Agdam menjadi kota mati. Kumparan.com

Bahkan pada September tahun 2020 terjadi perang dalam skala besar yang telah merenggut ribuan nyawa dan ribuan lain kehilangan tempat tinggal.

Meski akhirnya terjadi kesepakatan damai untuk mengakhiri peperangan, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi lagi bentrokan-bentrokan kecil yang bisa memicu pertempuran skala besar.

Terlebih perang ini melibatkan kepentingan negara-negara besar lainnya. Mengingat di dunia internasional, Azerbaijan sendiri tetap dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil minyak terbesar.

Kondisi inilah yang menjadikan Azerbaijan menjadi wilayah rebutan pengaruh-negara negara adidaya, khususnya Amerika, Rusia dan Uni Eropa. Meski akhirnya Azerbaijan lebih memilih berjalan bersama Uni Eropa.

Ya. Meski mayoritas penduduknya tetap Muslim dengan corak Syiah, namun sejak 2001,  Azerbaijan bergabung dalam keanggotaan Uni Eropa dan menjadi anggota dari Dewan Eropa dan menjadi negara sekuler seutuhnya.

Tentu saja pilihan ini tak membuat Azerbaijan terdongkrak menjadi negara yang berpengaruh di kancah politik internasional. Mengingat posisinya hanya sebagai follower yang cenderung didikte dan dimanfaatkan untuk kepentingan negara induknya.

Semestinya Teguh Memegang Ideologi Islam

Sejarah Azerbaijan semestinya cukup menjadi cerminan bahwa nasib umat Islam di bawah dominasi sistem non-Islam akan jauh dari kemuliaan. Bahkan menjadikan mereka hanya sebagai objek santapan dan bulan-bulanan negara yang lebih besar.

Bayang-bayang konflik yang terjadi antara Azerbaijan dan Armenia, sebagaimana terjadi pula di wilayah lainnya, semestinya tak terjadi manakala mereka merujuk pada akidah Islam yang sama-sama mereka anut.

Justru kekuatan Islam yang ada pada mereka semestinya menjadi modal untuk menjadikan umat ini kembali menjadi entitas politik yang ditakuti musuh-musuhnya sebagaimana sejarah di masa lalu. Yakni pada saat umat Islam dipersatukan di bawah naungan Khilafah yang tegak atas dasar kesatuan akidah dan aturan-aturan Islam selama belasan abad.

Justru saat mereka lepas dari naungan Khilafah dan dengan sadar menenggak racun sekularisme, mereka -sekalipun jumlahnya besar- terus menjadi bahan rebutan dan bancakan negara-negara kapitalis rakus yang menghendaki keburukan terus menimpa umat Islam. Tak ubah buih di lautan dan hidangan.

Sungguh benar apa yang pernah Rasulullah saw. sampaikan 14 abad yang lalu:

“Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud). [MNews/Juan]

Dinarasikan ulang dari berbagai sumber tulisan.

Tinggalkan Balasan