[Tafsir Al-Qur’an] Pilih Islam, Campakkan Lainnya (Tafsir QS Ali Imran [3]: 20)


Penulis: Ustaz Rokhmat S. Labib


MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN — Allah Swt. berfirman,

فَإِنْ حَآجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِىَ لِلَّهِ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِ ۗ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْأُمِّيِّۦنَ ءَأَسْلَمْتُمْ ۚ فَإِنْ أَسْلَمُوا۟ فَقَدِ ٱهْتَدَوا۟ ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ ٱلْبَلَٰغُ ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِٱلْعِبَادِ

“Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah, “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Alkitab dan kepada orang-orang yang ummi, “Apakah kamu (mau) masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk. Dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (TQS Ali Imran [3]: 20)

Benarkah penganut Yahudi dan Nasrani diperbolehkan tetap memeluk agamanya selagi mereka tetap konsisten dengan agama mereka? Bagaimana pula terhadap penganut agama lainnya? Sebagai seorang muslim yang meyakini kebenaran Islam, apa sikap yang harus kita lakukan kepada mereka?

Ayat di atas memberikan penjelasan seputar pertanyaan tersebut.

Jika Mereka Mendebat Kamu

Allah Swt. berfirman,“Fa in hâjjûka (kemudian jika mereka mendebat kamu [tentang kebenaran Islam]).” Ayat ini tidak bisa dipisahkan dengan ayat sebelumnya. Dalam ayat sebelumnya, Allah Swt. menegaskan bahwa agama yang diridai-Nya adalah Islam.

Kemudian dijelaskan mengenai sikap Ahli Kitab setelah datangnya Islam, risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. Mereka berselisih terhadap Islam. Perselisihan itu bukan didasarkan karena ketaktahuan mereka, namun karena kedengkian mereka. Ayat tersebut juga mengancam siapa saja yang mengingkari ayat-ayat Allah Swt.

Oleh karena ayat sebelumnya memberitakan sikap Ahli Kitab, maka dhamîr wâwu al-jamâ’ah (yang menunjukkan kata ganti mereka), merujuk kepada Yahudi dan Nasrani. Demikian kesimpulan al-Hasan sebagaimana disitir oleh al-Alusi. Sedangkan “hâjjûka”, menurut al-Samarqandi bermakna khâshamûka wa jâdalûka fî al-dîn (mendebat dan membantah kamu dalam agama). Artinya, perkara yang mereka debat adalah tentang Islam.

Islam yang diturunkan Allah Swt. berdiri atas hujah yang kuat. Tidak ada yang bisa merobohkannya. Juga didasarkan bukti-bukti yang terang benderang. Tidak ada seorang pun yang bisa menolak kebenarannya. Oleh karena itu, ketika ada manusia yang membantah atau menolaknya, pasti bukan disebabkan oleh kelemahan dan ketakjelasan Islam. Sebagaimana ditegaskan dalam ayat sebelumnya, penolakan itu didasarkan kepada kedengkian. Sikap tercela inilah yang menjangkiti Ahli Kitab sehingga menyebabkan penolakan mereka terhadap Rasulullah saw. dan risalahnya.

Terhadap sikap dan bantahan mereka, Allah Swt. pun memberikan panduan dalam bersikap dengan firman-Nya, “Faqul aslamtu wajhiya lil-Lâh waman [i]ttaba’an” (maka katakanlah, “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”). Inilah perkataan yang diperintahkan kepada Rasulullah saw. untuk disampaikan kepada mereka. Kata “aslamtu” dalam ayat ini kembali kepada makna bahasanya, yakni “anqadtu (saya pasrah, tunduk).”

Menjelaskan ayat ini, Ibnu Jarir al-Thabari berkata, “Katakanlah, Aku tunduk kepada Allah satu-satunya, baik dengan lisan, hati, maupun seluruh anggota badanku.” Penyebutan wajah secara khusus disebabkan karena wajah merupakan anggota badan yang paling mulia. Pada wajah pula kehormatan dan kemuliaannya. Apabila wajahnya tunduk kepada sesuatu, maka tunduk pula semua anggota badan yang lebih rendah kemuliaannya. Dijelaskan Ibnu Katsir, yang dimaksud dengan “waman[i]ttaba’ani” adalah orang-orang yang berada dalam agamaku. Ini sebagaimana disebutkan dalam QS Yusuf [12]: 108.

Inilah sikap yang harus diambil dalam menghadapi bantahan mereka. Yakni sikap yang menunjukkan ketundukan dan kepasrahan kepada Allah Swt. Sikap inilah yang melatari penerimaan secara sempurna terhadap Islam, risalah yang dibawa Rasulullah saw. Karena Islam berasal dari Allah Swt., maka tidak ada alasan sedikit pun untuk menolaknya.

Mengajak kepada Islam

Kemudian Allah Swt. berfirman, “Waqul lil al-ladzîna ûtû al-Kitâb wa al-ummiyyîn aaslamtum” (dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Alkitab dan kepada orang-orang yang ummi “apakah kamu [mau] masuk Islam?”). Setelah bisa menyempurnakan dirinya sendiri, lalu diwajibkan untuk berusaha menyempurnakan orang lain. Inilah yang diperintahkan dalam ayat ini. Demikian al-Biqa’i dalam tafsirnya. Setelah menunjukkan ketundukannya kepada Allah, Rasulullah saw. pun diperintahkan untuk mengajak orang lain bersikap serupa.

Frase “al-ladzîna ûtû al-Kitâb” merujuk kepada Yahudi dan Nasrani. Sementara “al-ummiyyîn” merujuk kepada musyrik Arab dan kafir lainnya. Demikian penjelasan Abdurrahman al-Sa’di dan banyak mufasir lainnya. Rasulullah saw. diperintahkan menyampaikan dakwah agar mereka masuk ke dalam Islam dan mengikuti syariatnya. Karena tidak ada indikasi yang memalingkan kepada makna bahasa atau urf, maka pengertian “aslamtum” di sini tetap dalam makna syar’i. Artinya, “Apakah kamu mau masuk Islam?”

Dalam ayat ini digunakan bentuk istifham (kalimat tanya). Akan tetapi, kalimat tersebut mengandung makna amr (perintah), yakni, “aslimû (masuklah kepada Islam).” Bahkan menurut al-Zujjaj sebagaimana disitir al-Syaukani, frase tersebut bermakna tahdîd (ancaman). Pengertian ini dinyatakan al-Qurthubi amat tepat. Sebab, maknanya, “aaslam-tum am lâ? (apakah kamu mau masuk Islam atau tidak?).” Tidak jauh berbeda, al-Zamakhsyari juga mengatakan, “Sesungguhnya telah datang kepadamu al-bayyinât (petunjuk yang terang) yang mewajibkan Islam dan mengharuskan terjadinya keyakinan, apakah kamu mau masuk Islam atau tetap dalam kekufuran kalian?”

Pengertian tersebut menjadi makin jelas dengan kalimat berikutnya, “Fain aslamû faqad [i]htadaw (jika mereka masuk Islam sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk).” Artinya, jika mereka menyambut seruanmu dengan kesediaan mereka untuk meninggalkan agama mereka dan masuk Islam, maka mereka telah mendapatkan petunjuk kepada jalan keselamatan.

Sebaliknya, “Wain tawallaw (dan jika mereka berpaling).” Jika berpaling dari Islam dan lebih memilih agama lainnya, maka, “fainnamâ ‘alayka al-balâgh (maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan [ayat-ayat Allah]).” Rasulullah saw. hanya berkewajiban menyampaikan dakwah kepada mereka. Keputusan akhirnya diserahkan kepada mereka. Tentu saja, mereka harus menerima konsekuensi apa pun atas pilihan mereka itu.

Kemudian diakhiri dengan firman-Nya, “Wal-Lâh Bashîr bi al-‘ibâd (dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya).” Artinya, Dia Maha Mengetahui semua keadaan mereka, kemudian Dia memberikan balasan kepada mereka atas apa yang mereka perbuat. Demikian al-Shabuni dalam Shafwah al-Ta-fâsîr. Menurut Ibnu ‘Athiyah, ini merupakan janji Allah kepada orang mukmin dan ancaman kepada orang kafir.

Diterangkan Ibnu Katsir, ayat ini dan semisalnya merupakan dalil yang paling jelas mengenai keumuman diutusnya Rasulullah saw. ke seluruh makhluk. Ini termasuk perkara ma’lûm min dînihi dharûrat[an] (yang telah dimaklumi karena demikian pentingnya dalam agama), sebagaimana ditunjukkan oleh Alkitab dan Sunah seperti QS al-A’raf [7]: 158, al-Furqan [25]: 1, dan hadis mutawatir bahwa Nabi saw. mengirimkan surat berisi dakwah kepada para raja dan berbagai komunitas manusia, baik dari kalangan Arab maupun ajam, Ahli Kitab maupun ummi. Tindakan tersebut dilakukan dalam rangka menjalankan perintah Allah Swt. Dan masih banyak lagi hadis-hadis lainnya sejalan dengannya.

Jelaslah, ayat ini kian mengukuhkan kesimpulan bahwa tidak ada pilihan lain bagi manusia kecuali Islam. Sedangkan semua selainnya harus dicampakkan, termasuk agama Yahudi dan Nasrani yang mewarisi sebagian kitab yang pernah diturunkan-Nya. Terlebih agama dan ideologi buatan manusia, seperti Hindu, Buddha, sosialisme, sekularisme, liberalisme, kapitalisme, dan berbagai -isme lainnya. Jika demikian, mengapa masih ada di antara kita yang rela berbagai ideologi sesat itu terus diterapkan dalam kehidupan kita? Wa-lLâh a’lam bi al-shawâb. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan