[Pribadi Rasulullah] Lauk-pauk yang Dimakan Rasulullah Saw.


Penulis: Shezan Adzkayra Gerung


MuslimahNews.com, PRIBADI RASULULLAH — Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Aisyah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Saus yang paling enak adalah cuka.”

Abdullah bin Abdurrahman berkata, “Saus yang paling enak adalah cuka.”

Nu’man bin Busyar ra. memperingatkan kepada kaum muslimin sebagai berikut, “Sesungguhnya kalian makan dan minum dengan sepuas-puasnya, padahal aku melihat sendiri Nabi kalian (saw.) tidak pernah memakan kurma sampai memenuhi perutnya.”

Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Jabir bin Abdullah ra. diungkapkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Saus yang paling enak adalah cuka.”

Zahdam al-Jurmi ra. bercerita, “Kami berada di rumah Abu Musa al-Asy’ari ra.. Maka, disuguhkan kepada kami daging ayam. Tiba-tiba seorang laki-laki di antara kami menyingkir.

Abu Musa bertanya, ‘Mengapa engkau berkhidmat?’ Ia menjawab, ‘Sungguh, aku melihatnya (ayam) sedang makan sesuatu yang kotor. Maka aku bersumpah tak akan memakannya.’

Abu Musa berkata, ‘Mendekatlah kemari, sungguh aku melihat Rasulullah saw. pun makan daging ayam.'”

Ibrahim bin Umar bin Safinah bercerita bahwa kakeknya, Safinah ra. berkata, “Aku bersama Rasulullah saw. memakan daging kalkun.”

Zahdam al-Jurmi ra. bercerita, “(suatu waktu) kami bersama Abu Musa al-Asy’ari ra… (selanjutnya Zahdam bercerita) Kemudian ia menghidangkan makanannya. Ia ketengahkan makanan yang di antaranya terdapat daging ayam. Di antara kelompok itu terdapat seorang laki-laki dari Bani Taimilah. Lelaki itu berkulit merah seakan-akan bekas budak.”

Selanjutnya Zahdam meneruskan ceritanya, ‘Lelaki itu tidak mau mendekat,” maka Abu Musa berkata, “Mendekatlah, sungguh saya telah melihat Rasulullah saw. pun memakannya.”

Lelaki itu menjawab, “Aku pernah melihatnya (ayam) memakan sesuatu yang menjadikan aku jijik karenanya. Maka aku menghindarinya dan aku bersumpah tidak akan memakannya untuk selamanya.”

Abu Usaid ra. bercerita bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.”

Umair bin Khaththab ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.”

Anas bin Malik ra. memberitakan, “Nabi saw. menggemari buah labu. Maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu atau diundang untuk makan makanan itu (labu). Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan di hadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya.”

Jabir ra. bercerita, “Aku berkunjung ke rumah Rasulullah saw. kulihat di sampingnya ada labu yang telah dipotong-potong. Aku bertanya, ‘Apakah ini ya Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Kami memperbanyak makanan kami dengannya.'”

Anas bin Malik bercerita, “Sesungguhnya seorang tukang jahit mengundang Rasulullah saw. untuk makan suatu makanan yang dibuatnya. Selanjutnya Anas bin Malik ra. berkata, ‘Aku bersama Rasulullah saw. pergi untuk memenuhi undangan makanannya. Kemudian tukang jahit itu menyuguhkan kepada Rasulullah saw. roti yang terbuat dari tepung sya’ir dan sayur labu serta dendeng daging.'”

Cerita Anas selanjutnya, “Kulihat Nabi saw. mencari labu itu di sekitar qash’ah. Maka sejak itu aku (Anas bin Malik ra) menyukai labu.”

Qash’ah adalah piring besar untuk makan sepuluh orang. Selain itu ada pula yang disebut shahfah, yaitu piring besar untuk makan lima orang.

Aisyah ra. mengisahkan bahwa Nabi saw. menyenangi kue-kue manisan (manisan) dan madu.

Atha bin Yasar mengabarkan, “Sesungguhnya Ummu Salamah bercerita kepadaku (Atha bin Yasar) bahwa ia menyuguhkan daging panggung (semacam sate) kepada Rasulullah saw. kepada beliau memakannya, lantas berdiri untuk melaksanakan salat, sedangkan beliau tidak berwudu lagi.”

Abu Hurairah ra. bercerita, “Nabi saw. diberi daging, maka diambilkan baginya bagian dzira’an. Bagian dzira’an kesukaannya. Maka Rasulullah saw. mencicipi sebagian dari padanya.”

Ibnu Mas’ud bercerita Nabi saw. menyukai dzira’an. (Selanjutnya) Ibnu Mas’ud berkata, “Pada suatu ketika bagian dzira’an itu diracuni orang.” Ibnu Mas’ud diberitahu bahwa orang yang meracuni itu adalah orang Yahudi.

Ummu Hani ra. bercerita, “Nabi saw. mengunjungiku kemudian beliau bersabda, ‘Apakah Bibi memiliki sesuatu?’ Aku menjawab, ‘Tidak ada apa-apa selain roti kering dan cuka.’

Nabi saw. bersabda, ‘Boleh juga… suatu rumah tidak dianggap kekurangan lauk bila padanya masih tersedia cuka.'”

Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Abu Musa al-Asy’ari ra diberitakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Keutamaan Aisyah ra. atas wanita lainnya, seperti keutamaan Tsarid atas sekalian makanan.” Tsarid adalah roti yang dicampur dengan gulai daging.

Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah ra. dikemukakan, “Sesungguhnya ia melihat Rasulullah saw. berwudu disebabkan memakan sepotong keju. Pada lain waktu ia melihat pula bahwa Rasulullah saw. memakan bahu kambing lalu beliau salat, padahal beliau tidak berwudu lagi.”

Anas bin Malik bercerita bahwa Rasulullah saw. mengadakan kenduri perkawinannya dengan Shafiyah dengan makanan berupa kurma dan sawiq.

Ummul Mundzir bercerita, “Rasulullah saw. bersama Ali kw. berkunjung kepadaku. Pada waktu itu, kami mempunyai beberapa tandan kurma yang hampir matang (Dawal) digantungkan (di rumah).”

Ummul Mundzir meneruskan ceritanya, “Rasulullah saw. memakannya. Ali kw. juga turut memakannya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda kepada Ali kw., ‘Sudah, berhentilah wahai Ali. Engkau baru sembuh dari sakit (belum pulih sepenuhnya).'”

Ummul Mundzir meneruskan ceritanya, “Maka duduklah Ali kw. sedangkan Nabi saw. terus memakannya.”

Kata Ummu Mundzir selanjutnya, “Maka kubuatkan mereka makanan dari sayur dan gandum, kemudian beliau bersabda kepada Ali kw., ‘Makanlah ini sebab lebih cocok untukmu.'”

Aisyah Ummul Mukminin ra. bercerita, “Nabi saw. datang kepadaku seraya bersabda, ‘Adakah makanan untuk sarapan pagi?’ Aku menjawab, ‘Tidak ada.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Aku saum.'”

Aisyah ra. melanjutkan, “Di lain hari, datang pula Rasulullah saw. padaku, aku berkata kepadanya, ‘Kita diberi hadiah.’ Beliau bersabda, ‘Apa bentuk hadiah itu?’ Aku (Aisyah) menjawab, ‘Hais.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Sebenarnya aku sejak pagi tadi telah saum.'”

Cerita Aisyah ra. selanjutnya, “Kemudian beliau memakan makanan itu.” Hais adalah makanan yang dibuat dari kurma, minyak samin, dan keju atau tepung.

Anas ra. berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. merasa sayang terhadap Tsufl. Menurut Abdullah, Tsufl adalah sisa makanan.” [MNews/Juan]

Referensi: Asy-Syamailul Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi

Tinggalkan Balasan