Harim bin Hayyan, Penjaga Kuda Umar

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Harim bin Hayyan al-Abdi al-Azdi al-Bashri gemar beribadah dan zuhud. Ia disebut Harim karena hidup dalam kurun waktu yang cukup lama hingga semua giginya tanggal.

Suatu malam, Harim keluar dan menyeru dengan suara yang keras, “Saya heran dengan surga. Bagaimana orang yang mencarinya bisa tertidur pulas?! Saya heran dengan neraka. Bagaimana orang yang menghindarinya bisa terlelap?!”

Kemudian ia membaca ayat,

“Maka, apakah penduduk kota-kota itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk kota-kota itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalah naik ketika mereka sedang bermain-main? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raf: 97—99)

Ia mengulang-ulang seruannya kepada manusia hingga mereka bergegas keluar ke masjid. Di antara mereka ada yang mendirikan salatnya di dalam rumahnya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah Swt..

Begitulah salah satu wasiat dari salah seorang ahli zuhud, Harim bin Hayyan. Ia selalu memberi wasiat dengan Al-Qur’an dan berbicara kepada banyak orang dengan Al-Qur’an.

Wara’ dan Zuhud

Suatu hari, ia pernah memberikan gambaran tentang “alim bertakwa” dan “alim yang rusak”. Banyak orang yang merasa aneh dengan istilah “alim yang rusak”.

Ia membedakan jawaban pada mereka bahwa “alim yang rusak” adalah orang yang berbicara dengan ilmu, namun amal perbuatannya fasik dan rusak karena tak berbuat dengan ilmunya. Ia (alim yang rusak tadi) tidak menjadi teladan dengan ilmunya dan menjadi lebih berbahaya bagi umat manusia. Sebab, ia mengaburkan kebenaran pada mereka hingga sampai pada kesesatan.

Berbagai riwayat tentang ciri-cirinya menyebutkan, ia orang yang tidur sebentar dalam kegundahan, orang yang terjaga dalam kehausan, hidup dengan sangat mencintai Allah dan sangat merindukan pertemuan dengan-Nya.

Harim bin Hayyan mendapatkan hadis dari Amirulmukminin Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan. Ia bekerja sebagai pengurus kuda Umar dan juga kuda-kuda tentara Islam.

Ia mendapat apresiasi tersendiri dalam hal kebenaran riwayat hadis dan ilmunya. Ia dipercaya para Khalifah Rasulullah saw.. Mereka menugaskannya untuk memimpin pasukan dalam penaklukan negeri Persia. Ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar dan Utsman.

Inilah sekelumit gambaran kecil tentang Harim bin Hayyan. Ia mempunyai banyak teman dan sahabat. Mereka digambarkan oleh para rawi sebagai orang-orang yang wara’ (selalu menjaga diri dari dosa dan perkara syubhat). Di antara mereka adalah Hamamah, seorang sahabat Rasulullah Saw.

Suatu malam, Harim pergi mengunjungi Hamamah. Harim menginap malam itu di rumah Hamamah. Malam itu, Hamamah menghabiskan malamnya dengan menangis hingga menjelang subuh.

Harim tidak berbicara dengannya sepatah kata pun hingga matahari muncul. Saat itu ia menyambut pagi dengan bertanya kepada temannya, “Wahai Hamamah, apa yang membuatmu menangis semalaman?”

Hamamah menjawab, “Saya mengingat suatu malam yang paginya semua kuburan berhamburan hingga mengeluarkan siapa pun yang ada di dalamnya. Bintang-gemintang langit bertebaran. Inilah yang membuatku menangis, wahai temanku.”

Setelah berlalu sejenak, kedua sahabat itu keluar menuju ke pasar Ar-Raihan. Di jalan, kedua orang itu meminta kepada Allah agar diberikan surga. Keduanya terus memperbanyak doa di sepanjang jalan.

Dalam perjalanannya, mereka melewati beberapa pandai besi yang sedang melelehkan besi dalam kobaran api. Masing-masing mengulang-ulang doa, “Ya Allah, lindungilah kami dari neraka. Ya Allah, lindungilah kami dari neraka.”

Lalu, keduanya berpisah menuju rumah masing-masing, setelah merenungi banyak hal yang mereka jumpai di perjalanan.

Dari temannya ini, Harim bin Hayyan belajar tentang bagaimana bersikap qana’ah (menerima) dan bagaimana zuhud (menghindarkan diri) dari dunia dan seisinya.

Kedua matanya selalu mengarahkan kepada kehidupan yang menetap, negeri akhirat dan hari kebangkitan, hingga mampu meninggalkan setiap kekuasaan di muka bumi kecuali apa yang ada di jalan Allah.

Wasiat Harim

Harim bin Hayyan sering mengemban tugas memimpin pasukan Islam dan misi-misi pasukan untuk menaklukkan berbagai wilayah.

Utsman bin Ash pernah mengirimkannya menuju sebuah perkampungan yang diberi nama Bajrah atau perkampungan para guru. Para penduduknya adalah pembangkang yang menantang kaum muslimin. Persoalan menjadi sulit karena perlawanan mereka yang sengit.

Namun, Harim tetap dalam tekad, kecemerlangan berpikir, dan pembelaannya pada agama, sehingga berhasil menaklukkan perkampungan tersebut pada 26 H dan membuat mereka bertekuk lutut membayar jizyah (upeti).

Ia dapat menegakkan keadilan hingga menjadikan mereka mencintai Islam dan masuk ke dalamnya tanpa rasa takut dan ancaman.

Harim dikenal dengan etos kerja dan sikap tegasnya dalam berbagai peperangan. Tak heran bila Amirulmukminin mengukuhkannya dalam pasukan dalam berbagai misi.

Ia menjadi ikon bagi seorang panglima sukses dan kuat, yang mampu mengatur segala hal berkaitan dengan urusan peperangan secara bijaksana dan nasihat yang baik. Hal ini selalu ia ulang-ulang dalam setiap waktu dan kesempatan.

Saat Harim sakit, banyak orang datang menjenguknya, memberikan hiburan atas sakit yang menderanya. Mereka meminta agar Ia memberikan wasiat pada mereka setelah melewati umur panjang sebagai seorang yang zuhud, teladan, tsiqah, dan panglima yang teguh dan sukses.

Salah seorang dari mereka mengatakan, “Wahai Harim, berikanlah wasiat kepada kami.”

Ia menjawab, “Saya tak tahu apa yang harus saya wasiatkan. Tapi jualkanlah baju perangku ini dan bayarkanlah utangku dengan hasil penjualan itu. Jika tidak cukup menutupi utang, maka jualkanlah juga budakku.”

Kemudian ia terdiam sejenak. Lalu mereka mengulangi permintaannya, “Berilah wasiat kepada kami, wahai Harim.”

Ia menjawab, “Aku berwasiat kepada kalian dengan ayat terakhir dari surah An-Nahl,

‘Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.’ (QS An-Nahl: 125—128).

Begitulah gambaran sifat Harim. Sosok yang tegas dalam kelembutan, keras dalam kasih sayang, panglima yang empati bersama pasukannya. Meski tegas, ia tetap memiliki etika dan kesopanan. Ia tak suka ada kata-kata yang kurang enak pada saudaranya.

Apa pun tingkat kekuasaannya dan kekuatannya, baginya, orang seperti ini lemah di hadapan hukum. Ia juga mengukuhkan dirinya sebagai musuh bagi kezaliman dan para pelakunya.

Semoga keteladanan wara’ dan zuhudnya Harim, memberi inspirasi bagi kita bagaimana memandang dunia dan akhirat sebagai ladang untuk beramal saleh. [MNews/Chs-Juan]

Tinggalkan Balasan