[Tapak Tilas] Menengok Warisan Islam di Georgia


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Kemenangan pasukan Muslim merebut wilayah Iran dari kekuatan terakhir Imperium Sasanid atau Persia telah membuka pintu dakwah dan jihad ke wilayah Eropa Timur. Di antaranya adalah ke wilayah Jurjan (Georgia), Tabristan, dan Azerbaijan.

Foto: wikipedia.org

Hal ini terjadi sekitar tahun 645 M, saat kepemimpinan Khilafah masih berada di tangan Umar Bin Khaththab ra..

Saat itu, Georgia Timur direbut, lalu Kota Tbilisi dijadikan sebagai pusat wilayah keamiran yang langsung menginduk ke pusat Khilafah di kota Madinah Al-Munawwarah.

Namun, kendali kuat atas sebagian besar wilayah ini baru benar-benar baru terjadi sekitar tahun 735 M. Yakni ketika Kekhilafahan berada di tangan Marwan II dan dikendalikan dari Baghdad Irak.

Saat itu kota Tbilisi yang dikenal sebagai kota yang diapit dua sungai mulai berkembang pesat menjadi pusat perdagangan. Ia menjadi penghubung aktivitas perdagangan antara dunia Arab dengan Eropa bagian Utara. Sehingga lambat laun masyarakatnya pun mulai hidup dalam kemakmuran.

Jadi Sasaran Invasi Berkali-kali

Selain menjadi pusat perdagangan, Kota ini pun berfungsi politis dan strategis. Yakni sebagai pos terdepan bagi dunia Arab, sekaligus menjadi daerah penyangga untuk menghadapi kekuasaan Bizantium dan Khazar yang masih eksis di Eropa.

Posisi inilah yang membuat wilayah Georgia, khususnya kota Tbilisi selalu menjadi sasaran penaklukkan satu penguasa dinasti ke penguasa dinasti yang lainnya.

Di sekitar tahun 1386 dan 1404 misalnya, wilayah Georgia dan kota Tbilisi menjadi target penyerangan penguasa Timurid dari Turki Mongol.

Saat itu mereka sedang bergerak untuk merebut wilayah Kaukasus dan memastikan wilayah ini ada di bawah kendalinya demi menghadapi kekuasaan Utsmaniyah di Turki.

Lalu pada abad 16 hingga 18, Georgia juga menjadi rebutan antara dinasti Syiah Safawi yang berpusat di Iran dengan Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki.

Perang yang terjadi di antara keduanya sekitar tahun 1532-1555 berakhir dengan perjanjian di Amasya. Melalui perjanjian ini, wilayah Kaukasus dibagi antara keduanya.

Lalu Georgia Barat dan Georgia selatan bagian barat jatuh ke tangan Utsmaniyah, sedangkan Georgia Timur (terdiri dari kerajaan Kartli dan Kakheti ), serta bagian timur (terbesar) Georgia selatan jatuh ke tangan Safawi Iran.

Dengan demikian, sebagian besar Georgia  tetap berada di bawah pengaruh dinasti Safawi Iran. Dan pembagian Kaukasus ini ditegaskan kembali pada tahun 1639 .

Penduduk Georgia Menerima Islam

Saat dibuka, penduduk Georgia rata-rata beragama Kristen dan Kristen ortodoks. Namun seiring dengan interaksi yang makin intens dengan kaum muslim, banyak di antara bangsawan mereka dan rakyatnya yang akhirnya menerima Islam.

Bahkan mereka sempat merasakan hidup di masa keemasan Islam. Terutama ketika Khilafah Utsmaniyah memimpin Georgia dan mengalami puncak kejayaannya pada abad 16—17-an.

Foto: republika.co.id

Georgia dan ibu kotanya juga dikenal sangat multietnik. Dalam Wikipedia disebutkan, ada dua kelompok Muslim besar di Georgia.

Pertama, etnis yang menganut Sunni Hanafi dan terkonsentrasi di Republik Otonomi Adjara Georgia yang berbatasan dengan Turki.

Kedua, etnis Muslim Azerbaijan yang sebagian besar menganut Syiah Itsna Asyariyah dan terkonsentrasi di sepanjang perbatasan dengan Azerbaijan dan Armenia.

Di luar itu, ada juga orang-orang Chechen yang tinggal di Ngarai Pankisi yang juga merupakan muslim penganut aliran Naqsybandiyah. Juga muslim Armenia, Ossetia dan Turki Meskheti yang merupakan kelompok Hanafi Sunni.

Namun, kelompok yang terakhir ini (Turki Meskheti) sempat dideportasi ke Asia Tengah pada saat Uni Soviet dipimpin oleh Josep Stalin (1944). Sehingga mereka pun menetaplah di Kazakhstan, Kirgistan, dan Uzbekistan.

Menderita di Bawah Kepemimpinan Rezim Sosialis

Pada akhir abad ke-18, Georgia dikuasai oleh dinasti Kartli-Kakheti. Dinasti ini awalnya tunduk ada kekuasaan Islam di Turki.

Namun kemudian membentuk aliansi dengan Kekaisaran Rusia, sehingga area tersebut dianeksasi oleh Rusia pada tahun 1801 dan diteguhkan oleh Perjanjian Gulistan dengan Dinasti Qajar.

Ketika Revolusi Rusia berlangsung pada tahun 1917, Georgia mendapatkan kemerdekaan dan menjadi republik pertama yang dibentuk di bawah perlindungan Jerman dan Inggris.

Namun pada tahun 1921 akhirnya kembali diinvasi dan bergabung menjadi Uni Soviet sebagai Republik Sosialis Soviet Georgia.

Foto: Masjid Sunni di Jalan Botanical, Tbilisi, Georgia. riowang.blogspot.com

Sebelum kepemimpinan Soviet, muslim Georgia sudah mencapai lebih dari 20% populasi. Namun mereka harus mengalami penindasan luar biasa. Bahkan upaya menjauhkan mereka dari Islam dilakukan secara masif di bawah arahan negara.

Sebagaimana kaum muslim di wilayah pendudukan lainnya, mereka pun menjadi sasaran permusuhan penguasa sosialis kepada musuh politik mereka, yakni kekuasaan Khilafah Islam di Turki dengan mengalami berbagai macam kebijakan represif di dalam negeri.

Selama di bawah kekuasaan Uni Soviet itu, undang-undang Islam (syariat) dihapus pada tahun 1926. Bahkan praktik penghancuran simbol-simbol Islam, termasuk masjid juga masif dilakukan. Akibatnya, banyak praktik agama Islam yang ditinggalkan oleh generasi muda.

Tak heran jika sensus di tahun 1989 dan 2002, menunjukkan jumlah muslim di sana terus menyusut hingga 12%. Bahkan hari ini jumlahnya menyusut lagi hingga tinggal 10%.

Georgia Butuh Islam Untuk Kembali Mulia

Sejak Soviet runtuh dan Georgia menjadi  negara Republik pada April 1991, Georgia terus menderita krisis sipil dan ekonomi.

Bahkan sebagaimana negeri-negeri kecil lainnya, Georgia pun masuk dalam permainan negara-negara adidaya yang ingin berebut pengaruh di dunia.

Maka pada tahun 2003 terjadilah Revolusi Mawar yang menandai berubahnya loyalitas penguasa Georgia dari pengaruh kekuasaan Rusia sebagai pewaris tunggal Uni Soviet kepada pihak Barat yang kapitalistik.

Ketika itu, Georgia memutuskan untuk mengikuti kebijakan asing pro Barat dan mendeklarasikan integrasi Eropa dan Euro-Atlantik sebagai prioritas utamanya.

Hal ini yang kemudian menyebabkan hubungan yang memburuk antara Rusia dan Georgia, serta memicu Perang Rusia-Georgia pada tahun 2008.

Di perang itu, kedua negara saling memperebutkan dua wilayah, Abkhazia dan Ossetia Selatan. Namun saat itu Georgia kalah dan gagal merebut kembali daerah-daerah tersebut hingga saat ini. Bahkan kasus ini terus menjadi api dalam sekam bagi hubungan kedua negara sampai sekarang.

Saat ini Georgia telah menjadi anggota Majelis Eropa dan GUAM Organisasi untuk Demokrasi dan Pembangunan Ekonomi.

Namun keanggotaan ini tetap saja tak membuat Georgia mampu menunjukkan diri sebagai negara mandiri dan punya posisi tawar dalam politik Internasional. Atau seperti saat berada dalam naungan Islam, menjadi negara berpengaruh dalam perdagangan internasional.

Foto: Muslim Georgia sedang salat id. https://cdn.1tv.ge/

Memang saat ini, sisa-sisa peradaban Islam di Georgia seolah terkubur oleh sejarah. Terlebih otoritas sekarang lebih bangga menunjukkan diri sebagai negara Kristen dibanding dengan Islam. Sementara warga beragama Islam harus menampakkan kesetiaan mereka kepada pemerintahan Kristen.

Hanya beberapa masjid dan madrasah yang tersisa di Georgia. Salah satunya Masjid Tbilisi yang dibangun tahun 1895 serta beberapa buah madrasah yang sederhana. Itu pun berusaha dipertahankan oleh masyarakat Muslim secara swadaya.

Namun meski cahaya Islam hari ini masih tertutup di Georgia, akan ada masanya di mana umat akan kembali melihat bahwa Islam adalah masa depan mereka.

Terlebih saat kehidupan sekuler yang diterapkan atas mereka ternyata tak menjanjikan apa-apa. Bahkan hanya menjadi sumber penderitaan yang tak ada ujungnya. [MNews/Juan]

Foto: againstthecompass.com/en/travel-georgia/

Tinggalkan Balasan