Pendidikan Seks Global, Sampai Kapan Anak-Anak Jadi Tumbal?


Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq


MuslimahNews.com, OPINI — Pergaulan lawan jenis selalu menjadi bahan yang renyah untuk diperbincangkan. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan seks. Di masa sekarang, di tengah kemajuan teknologi, tak sulit menemukan konten-konten berbau seks. Apalagi anak-anak khususnya remaja selalu dekat dan mengikuti perkembangan melalui internet.

Mirisnya, dari situ justru membuat mereka mengakses konten porno. Tak jarang juga ada yang mencobanya. Apalagi mereka adalah manusia yang memiliki naluri seksual, yang akan gelisah jika tidak terpenuhi keinginannya. Sampai saat ini, tren pernikahan karena kecelakaan juga meningkat di kalangan remaja.

Menikah Usia Muda Dipermasalahkan

Global Education Monitoring (GEM) Report, UNESCO melaporkan, “15 juta anak perempuan menikah sebelum 18 tahun setiap tahunnya secara global. Sekitar 16 juta anak berusia 15—19 tahun dan satu juta anak perempuan di bawah 15 tahun melahirkan setiap tahunnya di dunia.” (cnnindonesia.com, 14/6/21).

Menurut badan internasional itu, kondisi macam ini tak baik. Sepertiga HIV di 37 negara disumbang oleh anak-anak. Selain itu, menurut lembaga dunia itu kehamilan usia muda juga menjadi penyebab meningkatnya kematian pada ibu hamil.

Oleh karena itu, GEM membuat program sex education. Harapannya agar anak-anak memiliki pemahaman bagaimana agar tidak tertular HIV, kehamilan yang tidak diinginkan, mempromosikan toleransi, saling menghormati dalam berhubungan.

Baca juga:  Merdeka Belajar, Terobosan Anyar yang Bikin Visi Keilmuan Ambyar

Salah Kaprah Pendidikan Seks

Program global ini ikut diamini oleh Negeri Khatulistiwa. Sebuah negeri yang mayoritas penduduknya muslim, serta sedang mengalami bonus demografi. Kebijakan memberikan pendidikan seks pun dilakukan. Di berbagai lembaga pendidikan diberikan, sayangnya pendidikan itu tak serta-merta melarang anak-anak untuk tidak terjebak dalam seks bebas. Alternatif pemakaian kondom pun diberikan jika anak-anak tak bisa menahan ghirah seksualnya.

Pandangan yang sama pun menjangkiti masyarakat luas. Salah satu yang sempat viral beberapa hari ini adalah pernyataan seorang publik figur. Ia bercerita jika memberikan pendidikan seks dengan cara mengajak menonton video porno. Menurut pendapat aktris ini, daripada anak-anak menonton konten porno sendiri lebih baik ditemani dan dinasihati.

Sekilas pendapat itu akan disetujui oleh khalayak. Dengan dalih bentuk tanggung jawab orang tua mendidik anak. Namun, jika kita berpijak pada Islam sebagai agama mayoritas penduduk di negeri ini, cara mendidik seperti ini adalah hal yang sangat tabu. Di sisi lain, menurut budaya ketimuran juga tidak pantas.

Menurut Susanto, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), apa yang dilakukan figur publik itu adalah salah. Pasalnya, dengan menonton konten porno memiliki dampak negatif yang serius. Menurut para ahli, tontonan ini dapat merusak otak. Seseorang dapat mengalami adiksi atau kecanduan pornografi.

Baca juga:  [News] Intoleransi dan Radikalisme, Dosa Besar Pendidikan?

Masuknya Pemikiran Liberal

Apa yang dilakukan publik figur tersebut menandakan bahwa orang tua telah terpengaruh pemikiran liberal dan sekuler. Melihat semakin maraknya pergaulan bebas, menandakan banyak orang tua yang berpikir demikian.

Dengan demikian program dunia internasional telah berhasil mengobok-obok pemahaman keluarga. Melalui pendidikan seks, mereka memasukkan pola didik liberal. Agar tidak hamil atau tertular HIV pakai saja kondom. Cara lainnya dengan mengajak anak-anak mereka menonton adegan tak pantas. Ujung-ujungnya anak-anak jadi tumbal.

Pendidikan ala liberal lahir dari pemikiran serba bebas. Baik buruk aktivitas hanya diserahkan pada akal manusia. Tidak menjadikan agama sebagai patokan. Walaupun seorang muslim, jika pola pikirnya sekuler dan liberal tidak akan mengambil Islam sebagai petunjuk. Jadi, ketika mendidik anak sesuai dengan anggapannya sendiri.

Tentu hal ini sangat membahayakan. Selain menjauhkan anak-anak dari agama, juga membuat mereka tak terkendali. Mereka akan sulit membedakan mana yang benar dan salah. Bahkan akan cenderung mengikuti hawa nafsunya.

Islam Memberikan Pendidikan yang Jelas

Pola pendidikan semacam itu sangat berbeda dengan Islam. Islam melalui negara akan langsung memberikan pendidikan akidah. Baik di sekolah maupun di rumah, anak-anak akan dikuatkan keimanannya lebih dahulu. Setelah itu mereka akan diajari ilmu fikih pergaulan, mulai dari berpakaian, pemisahan kehidupan laki-laki dan perempuan hingga fikih rumah tangga.

Baca juga:  Anak Putus Sekolah, Pembelajaran Online Tuai Rapor Merah?

Jadi, ketika baligh anak-anak akan siap melaksanakan hukum syariat. Serta dapat membedakan mana yang benar dan salah. Mereka akan selalu menempatkan Allah Swt. dalam segala aktivitasnya. Sehingga tidak akan ditemui kejadian “married by accident” atau tertular penyakit HIV. Karena Islam mengharamkan zina.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (QS Al-Isra: 32)

Selain itu, negara juga akan memberikan hukuman yang tegas bagi pelanggar hukum syariat. Dengan demikian, perilaku masyarakat utamanya remaja akan terjaga.

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap satu dari keduanya dengan seratus kali dera. Dan janganlah kamu belas kasihan kepada keduanya di dalam menjalankan (ketentuan) agama Allah yaitu jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (dalam melaksanakan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS An-Nur: 2)

Begitulah pandangan Islam tentang cara mendidik anak. Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya kita mengambilnya. Bukan malah mengadopsi pemikiran lain yang jelas bertentangan dengan Islam. Bukankah kita semu menginginkan surga? [MNews]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *