Tsaqafah

[Mafahim Islamiyah] Ruh


Oleh: Muhammad Husain Abdullah


MuslimahNews.com, MAFAHIM ISLAMIYAH — “Dan mereka bertanya tentang ruh (roh).” (QS AL-Israa’ 85)

Manusia adalah makhluk yang ada, hidup terbentuk dari maddah/materi, dan Allah menciptakan alam dari tanah, firman Allah Swt.,

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.’” (QS Shaad: 71—72)

Manusia saling bertanya tentang substansi ruh kepada Rasul Muhammad, maka datanglah waktu untuk menjawab pertanyaan mereka langsung dari Allah RabbilAlamin,

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu urusan Tuhanku, kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.’” (QS Al-Israa’: 85)

Ruh adalah sirru al-hayah/rahasia kehidupan, mutlak urusan Allah Swt., diletakkan di dalam diri manusia dan disandarkan pada dirinya. Firman Allah, “Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan) Ku,” yakni ruh buatan-Ku, hal ini bukan maksud ruh bagian dari Allah Swt., sebab firman selanjutnya, “Katakanlah, ‘ruh itu adalah urusan Tuhanku,” yakni tercipta dari perintah Allah Swt..

Manusia tidak akan bisa menjumpai dan mengetahui ruh ini secara realistis substansial langsung, akan tetapi manusia bisa mengetahui bahwa ruh itu ada dari mengetahui mazhahir-nya (penampakan/indikasi), hanya kemampuan untuk berkembang, bergerak, dan menjadi banyak, hal ini menunjukkan keberadaan ruh, jadi selama didapatkannya kapabilitas menjadi banyak, berkembang, dan bergerak ada pada diri manusia, maka dikatakan manusia itu hidup dan di dalamnya ada ruh, dan jika hilang mazhahir-nya ini, manusia dikatakan mati berarti tiada ruh di dalamnya.

Allah meletakkan ruh pada diri Adam as.. Ruh adalah fenomena yang berhubungan dengan kehidupan, ruh selalu ada pada diri manusia dari zaman Adam as. sampai zaman manusia sekarang, sedang berakhirnya ruh, bila telah lenyap kehidupan manusia dari muka bumi.

Ruh menyebar dari manusia ke manusia lain dengan jalan perkawinan antara sperma pria dengan ovum wanita, hal ini dimulai dengan perkembangan tubuh (jasad bayi) yang baru yang akan terus berkembang hingga menjadi manusia yang sempurna setelah melalui tahap-tahap tertentu, firman Allah Swt.,

“Hai manusia jika kamu ada dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.(QS Al-Hajj: 5)

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Cara Mengubah Mujtama', Tahap Pertama: Pembentukan Syakhsiyah dengan Durus dan Taklim

Proses terjadinya manusia seperti ini adalah sesuatu yang sudah lazim pada diri manusia, yang bisa diketahui dengan indra, kecuali pada penciptaan ‘Isa as. Karena proses penciptaan ‘Isa as., Allah langsung meniupkan ruh ciptaan-Nya tanpa ada perpindahan ruh dengan perkawinan, karena Allah memerintahkan ruh lepas secara langsung dan pindah pada diri ‘Isa as..

Firman Allah, “Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Jadilah.’ (seseorang manusia), maka jadilah dia.” (QS Ali ‘Imran: 59)

Yakni Allah menjadikan dan meletakkan ruh pada ‘Isa as. dari tidak ada, seperti menjadikan dan meletakkan ruh pada diri Adam, dan firman Allah mengenai Maryam,

“Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiyaa’ 91)

Maryam adalah perempuan yang sangat menjaga kehormatannya yang tidak pernah berbuat mesum ataupun kejelekan, tidak bersuami, tidak ada perpindahan ruh ke rahimnya dengan jalan pertemuan sel sperma pria dengan ovum Maryam, akan tetapi Allahlah yang telah meletakkan dengan jalan peniupan ruh di dalam rahimnya dengan dominasi kekuasaan-Nya melalui perintah-Nya dari tidak ada menjadi ada, seperti peletakan ruh pada al-thin/tanah yang kemudian dijadikan Adam as..

Ruh adalah sirru al-hayah, merupakan hak mutlak dan hanya Allah yang tahu substansinya, dan ruh itulah yang menjadikan materi bisa membentuk tubuh manusia, mempunyai kemampuan berkembang, bergerak, dan menjadi banyak. Dan Allah semata yang mampu untuk menghilangkan kemampuan ini dengan mengambil ruh dari tubuh tersebut.

Adapun ruh yang disampaikan oleh para ahli Barat, dimulai dari para ahli Yunani, yang mengatakan bahwa ruh itu adalah bagian dari manusia, mereka berkata bahwa manusia itu terbentuk dari materi dan ruh, serta ruh adalah limpahan dari Zat Tuhan, jika ruh mampu menundukkan jasmani, maka manusia akan tinggi derajatnya, mulia, dan dekatlah perbuatannya dari kesempurnaan Ilahi. Akan tetapi bila ruh itu dikalahkan oleh jasmani, maka manusia akan menjadi rendah dan hina.

Ruh yang disampaikan ahli Barat yang wujudnya seperti itu sebetulnya tidak ada dan bukanlah ia sirru al-hayah, karena jika dilihat secara indra manusia, maka ia bukan lagi sirru al-hayah.

Sesungguhnya manusia itu terdiri dari materi saja, dan sirru al-hayah itu tidak berkurang juga tidak bertambah dengan rendah atau tingginya derajat manusia.

Walhasil, manusia yang bisa tinggi karena adanya ruh adalah sesuatu yang lain, ruh tidak membentuk ataupun menyusun bagian dari manusia karena sesungguhnya ruh itu bersifat tambahan yang datang dari luar dirinya dan memengaruhi pada suluk/tingkah lakunya, dan dengan ruh itulah manusia akan menjadi tinggi bila hal ini dihubungkan dengan pemenuhan gharizah dan haajah al-‘udhawiyyah-nya, dan sifat ini tidak akan ada kecuali jika manusia menjalankan perbuatannya berdasarkan aturan dari luar dirinya yang datang dari kekuatan yang Mahatinggi dari pada manusia biasa, yakni Allah Swt.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Al-Nafsiyah

Dan ketetapan seperti ini tidak akan pernah datang kecuali bagi mereka yang iman kepada Allah Swt. dan mendapatkan shilah/hubungan dengannya. Maka dengan begitu, ruh yang telah dibahas tadi dan yang bisa meninggikan manusia bukan sirru al-hayah lagi tetapi adalah idraak as shilah billah.

Dan tidak akan didapatkan sifat tambahan seperti ini (idraak shilah billah) kecuali bila manusia telah beriman kepada-Nya bahwa pencipta wujud ruh adalah Allah dan setelah manusia mampu mengetahui hubungan setiap ciptaan dengan-Nya yakni (al-kaun, al-insan dan al-hayah), maka jika manusia melihat segala macam makhluk, seperti bulan misalnya, ia akan idraak/mengetahui dan mendapatkan bahwa bulan mempunyai shilah billah yakni bahwa pencipta bulan adalah Allah Swt., maka idraak/mengetahui ini adalah ruh bagi manusia. Dan jika belum mendapatkan hubungan seperti ini atau masih kosong dari mengetahui ini, maka jadilah ia tanpa ruh.

Sedangkan ruh yang didakwakan para ahli Barat bukanlah bagian dari manusia. Karena sesungguhnya ruh itu adalah idraak as shilah billah yang bila manusia mengerjakan segala perbuatannya berdasarkan perintah dan larangan dari Allah Swt., dan mekanisme inilah yang menujukan adanya ruh ini pada manusia.

Dan perasaan manusia akan keagungan Khaliq Mahakuasa dan Maha Mengetahui dibangun atas dasar al-idraak ini yaitu al-ruhaniyah dan jika terus-menerus perasaan (manusia) seperti ini maka manusia itu hidup di tengah kedalaman iman, yang membantu manusia mengikatkan dirinya dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan rida dan tenang/thuma’ninah.

Adapun korelasi (hubungan) al-ruhiyyah pada al-asyya/sesuatu yakni adanya sesuatu yang dicipta oleh sang Pencipta, maka aspek ruhiyyah pada gunung, binatang maupun manusia, ini adalah adanya sesuatu yang dicipta oleh Pencipta, aspek seperti ini tidak akan bisa dijumpai kecuali bagi mereka yang beriman dengan adanya Pencipta yang menciptakan segala sesuatu.

Islam telah memotivasi manusia agar mampu memikirkan pada aspek al-ruhiyyah terhadap segala sesuatu di dalam dirinya, dan ini semua berguna untuk memperkuat ruhiyyah, yakni dengan memikirkan hubungan makhluk dengan Allah, firman Allah Swt.,

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS Al-Ghaasyiyah: 17-20)

Baca juga:  Memahami Amal (Aktivitas) menurut Islam (Bagian 1/3)

Dan setelah ayat ini, Allah selanjutnya berfirman,

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS Al-Ghaasyiyah: 21)

Maka Allah menyuruh Rasul agar mengingatkan kepada manusia untuk memikirkan hubungan antara makhluk dengan khaliq-nya, yakni shilah al-khalqi (hubungan penciptaan) dan itu semua untuk memperkuat ruh bagi manusia, firman Allah Swt.,

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS Ali ‘Imran: 190)

Ayat di atas menunjukkan agar manusia memikirkan shilah antara makhluk dengan khaliq. Allah Swt. memulai wahyu surat Makkiyah dengan menyebutkan makhluk-makhluk-Nya yang bisa menambah kekuatan di dalam aspek ruhiyyah manusia, firman Allah Swt.,

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringnya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya.” (QS Asy-Syams: 1—6)

Firman Allah Swt.,

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS Al ‘Alaq 1-2)

Islam menuntut kepada setiap muslim untuk mencampur antara materi/jasad dan ruh, yakni menuntut kepada manusia agar mengikatkan dengan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, firman Allah,

”Ikutilah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (QS Al-A’raf: 3)

Firman-Nya,

“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain).” (QS Al-An’am: 153)

Firman-Nya,

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 36)

Dan Allah menerangkan hukum atas segala sesuatu, firman-Nya,

”Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-Baqarah: 75)

Firman Allah Swt.,

“Menghalalkan (Allah) bagi mereka apa-apa yang baik dan mengharamkan bagi mereka apa-apa yang buruk.” (QS Al-A’raf: 157)

Dan keterikatan dengan hukum-hukum ini ketika manusia melakukan aktivitas-aktivitasnya dan inilah yang disebut dengan percampuran antara ruh dan materi, sebab keterikatan dengan hukum-hukum ini dijumpai ketika melakukan aktivitas yang menghubungkan dengan Allah Swt.

Kesimpulan: Ar-Ruuh adalah pertama, sirru al-hayah;kedua adalah ruuhiyyah/idraak shillah billah. [MNews/Rgl]

Sumber: Mafahim Islamiyah, Muhammad Husain Abdullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *