[Tanya Jawab] Hukuman Pezina Muhsan di Dalam Islam


Oleh: Syekh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah


MuslimahNews.com, TANYA JAWAB — Assalâmu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu. Berkaitan dengan hukuman mati untuk pezina muhsan, apakah itu terkategori qath’iy di dalam fikih Islam?

Ada beberapa ulama seperti syekh Abu Zahrah yang tidak mengategorikan hukuman pezina muhsan itu sebagai sanksi hudud. Pendapat itu didukung oleh Syekh Mustafa Zarqa yang menyatakan bahwa hukuman pezina muhsan terkategori hukuman takzir. Bagaimana pendapat Anda tentang isu ini?

Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada Anda atas kesediaan Anda menjawab pertanyaan saya.

Jawab:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.

Anda menanyakan hukuman pezina muhsan apakah itu qath’iy di dalam fikih Islam? Dan apakah itu termasuk bagian dari hudud atau bukan bagian dari hudud, tetapi termasuk takzir sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama masa kini?

Jawaban pertanyaan Anda sebagai berikut:

  • Hukuman pezina muhsan berupa rajam sampai mati termasuk di dalam bab hukum syara’ dan bukan bagian dari bab akidah. Jadi seperti hukum-hukum syara’ lainnya, untuk diambil tidak disyaratkan dalilnya qath’iy. Tetapi cukup ghalabatu azh-zhann(dugaan kuat) sebagaimana yang sudah maklum di dalam ushul fikih.

Oleh karena itu, keberadaan dalil atas hukuman ini apakah qath’iy atau tidak qath’iy tidak memiliki pengaruh dalam pengambilannya. Tetapi yang penting adalah tetapnya dalil syara’ atasnya.

Di dalam syara’, telah dinyatakan banyak dalil dan sahih yang menjelaskan tanpa menyisakan ruang untuk keraguan bahwa hukuman pezina muhsan adalah rajam sampai mati.

  • Catatan terhadap sebagian ulama masa sekarang bahwa mereka tidak berjalan pada jalan yang sahih dalam mengambil hukum syara’ dari dalil-dalilnya.

Hal itu karena ketika membahas hukum syara’ mereka memperhatikan untuk menyesuaikan dengan zaman dan mencapai pandangan yang sesuai dengan hukum dan pandangan yang mendominasi dunia yang dipaksakan oleh peradaban barat dengan nama hukum internasional, piagam HAM dan lainnya, dan perkara ini tidak benar.

Sebab yang dituntut adalah hukum Allah bukan sembarang hukum. Juga bukan hukum yang sesuai dengan hukum, undang-undang, piagam dan pandangan yang memimpin dunia.

Yang wajib adalah mengambil hukum syara’ sebagaimana adanya dari dalil-dalilnya dan menjadikannya diterapkan dan diimplementasikan serta didakwahkan di seluruh dunia.

Hukum itu adalah hukum yang layak untuk seluruh umat manusia. Sebab hukum itu berasal dari Pencipta manusia yang Mahatahu keadaan mereka.

أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ  ١٤

 “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (TQS al-Mulk [67]: 14).

أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  ٥٤

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam” (TQS al-A’raf [7]: 54).

Oleh karena itu, tidak seharusnya memperhatikan pendapat mereka yang dalam istinbat mereka memperhatikan untuk menyesuaikan zaman dan menyelaraskan dengan peradaban barat baik mereka melakukan hal itu di bawah tekanan fakta atau untuk mendapatkan keridaan orang-orang kafir barat.

  • Hukuman pezina muhsan adalah rajam sampai mati dan untuk selain muhshan adalah dijilid seratus kali dera. Hukuman itu di dalam Islam masuk di dalam bab hudud. Kami telah menjelaskan hukum-hukum had zina di dalam Nizhâm al-‘Uqûbâtsecara rinci dan mencukupi.
Baca juga:  RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU-PKS) Kembali Dibahas, Apa Bahaya Terbesarnya?

Saya kutipkan dari buku Nizhâm al-‘Uqûbât sebagian yang ada di bab Had az-Zinâ:

[Sebagian mengatakan bahwa had pezina perempuan dan pezina laki-laki adalah dijilid seratus kali dera baik untuk muhshan atau ghayru muhsan, tidak ada perbedaan di antara keduanya karena firman Allah SWT:

ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِي فَٱجۡلِدُواْ كُلَّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا مِاْئَةَ جَلۡدَةٖۖ وَلَا تَأۡخُذۡكُم بِهِمَا رَأۡفَةٞ فِي دِينِ ٱللَّهِ ٢

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah” (TQS an-Nur [24]: 2).

 Mereka mengatakan, tidak boleh meninggalkan Kitabullah yang qath’iy dan yakin dikarenakan kabar ahad yang di dalamnya bisa terdapat kebohongan. Karena ini mengantarkan kepada penasakhan al-Kitab dengan as-Sunah dan itu tidak boleh.

Sementara para ahli ilmu umumnya dari kalangan sahabat, tabiin dan para ulama setelah mereka di semua penjuru mengatakan bahwa ghayru muhsan dijilid seratus kali dera, sedangkan yang muhsan dirajam sampai mati, karena Rasul saw “merajam Ma’iz”.

Karena diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah:

أَنَّ رَجُلاً زَنَى  بِإِمْرَأَةٍ فَأَمَرَ بِهِ النَّبي صَلَّى الله عَلَيْه وَسَلَّمَ فَجُلِدَ ثُمَّ أُخْبِرَ أَنَّهُ مُحْصَنٌ فَأَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ

“Seorang laki-laki berzina dengan seorang perempuan lalu Nabi saw memerintahkan dengannya maka dia dijilid kemudian diberitahukan bahwa dia muhsan maka beliau memerintahkan dia dirajam”.

Orang yang memperhatikan dalil-dalil, dia memandang bahwa firman Allah SWT:

ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِي فَٱجۡلِدُواْ كُلَّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا مِاْئَةَ جَلۡدَةٖۖ ٢

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera” (TQS an-Nur [24]: 2).

Ayat ini bersifat umum. Kata az-zâniyatu (pezina perempuan) dan kata az-zâniyu (pezina laki-laki) termasuk lafaz umum.

Dia mencakup muhsan dan ghayru muhsan.  Ketika datang hadis yaitu sabda Nabi saw.,

وَاَغْدِ يَا أُنَيْسَ إِ لى اِمْرَأَةٍ هَذَا فَإِنْ اِعْتَرَفَتْ فَاَرْجُمْهَا

 “Pergilah ya Unais kepada perempuan ini, jika dia mengakui maka rajamlah dia”.

Terbukti bahwa Rasulullah saw. merajam Ma’iz setelah Beliau menanyakan kemuhsanan Ma’iz. Beliau juga merajam al-Ghamidiyah, dan masih ada hadis-hadis sahih lainnya.

Maka hadis-hadis itu mengkhususkan ayat tersebut. Hadis-hadis ini mengkhususkan keumuman yang ada di dalam ayat tersebut pada ghayru muhsan, dan darinya dikecualikan muhsan.

Jadi hadis-hadis itu mengkhususkan keumuman ini dan tidak menasakh al-Qur’an. Pengkhususan al-Qur’an dengan as-Sunah adalah boleh dan terjadi di dalam banyak ayat yang datang bersifat umum dan datang hadis-hadis yang mengkhususkannya.

Baca juga:  Sekularisme Menyuburkan HIV/AIDS, Islam Membasmi Sampai Akarnya

Hukum syara’ yang ditunjukkan oleh dalil-dalil syara’, yakni al-Kitab dan as-Sunah adalah bahwa hukuman pezina adalah jilid untuk ghayru muhsan seratus kali dera sebagai pengamalan Kitabullah dan pengasingan sebagai pengamalan sunah Rasulullah.

Hanya saja, pengasingan itu bersifat boleh, dan bukan wajib, dan itu diserahkan kepada keputusan imam (khalifah).

Jika dia suka, dia boleh menjilid dan mengasingkannya setahun, dan jika dia suka maka dia boleh menjilidnya dan tidak mengasingkannya.

Tetapi, tidak boleh mengasingkannya tanpa menjilidnya. Sebab hukumannya adalah jilid. Adapun hukuman muhsan adalah dirajam sampai mati, mengamalkan sunah Rasulullah saw. yang datang mengkhususkan kitabullah.

Pada muhsan boleh digabungkan atasnya jilid dan rajam, jadi dijilid dahulu kemudian dirajam. Boleh juga hanya dirajam tanpa dijilid. Tetapi tidak boleh dijilid saja sebab hukumannya yang wajib adalah rajam.


Adapun dalil hukuman muhsan maka ada banyak hadis. Dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid, keduanya berkata, “seorang laki-laki dari arab baduwi datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata, “ya Rasulullah, saya adukan Anda kepada Allah kecuali Anda putuskan untukku dengan kitabullah”.

Lawan sengketanya berkata dan dia lebih fasih darinya, “Benar, putuskan di antara kami dengan Kitabullah, dan beritahukan kepadaku.”

Maka Rasulullah saw. Bersabda, “katakan!”. Laki-laki itu berkata, “anak laki-lakiku bekerja pada ini lalu dia berzina dengan isterinya dia. Aku diberitahu bahwa terhadap anakku hukumannya rajam, lalu aku menebusnya dengan seratus ekor domba dan induk. Lalu aku bertanya kepada ahlul ilmi dan dia memberitahuku bahwa hukuman anakku jilid seratus kali dan pengasingan setahun dan hukuman bagi isterinya dia adalah rajam”. Lalu Rasulullah saw. bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ، اَلْوَلِيْدَةُ وَالْغَنَمُ رُدَّ، وَعَلَى اِبْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ، وَتَغْرِيْبُ عَامٍ، وَاغْدُ يَا أُنَيْسَ-لِرَجُلٍ مِنْ أَسْلَمَ-إِلَى اِمْرَأَةٍ هَذَا فَإِنْ اِعْتَرَفَتْ فَارْجُمُهَا، قَال: فَغُدَا عَلَيْهَا فَاعْتَرَفَتْ فَأَمَرَ بِهَا رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَتْ

“Demi Zat yang jiwaku ada di genggaman tangan-Nya, sungguh aku putuskan di antara kamu berdua dengan Kitabullah. Induk unta dan domba dikembalikan. Hukuman terhadap anakmu jilid seratus kali dera dan pengasingan setahun. Dan pergilah ya Unais -kepada seorang laki-laki dari Bani Aslam- kepada isterinya ini, jika dia mengaku maka rajamlah dia”. Dia berkata; “lalu Unais pergi kepada wanita itu dan dia mengaku, maka Rasulullah saw. memerintahkan diterapkan dengannya lalu dia dirajam.”

 Al-‘asîf adalah al-ajîr (pekerja). Jadi Rasul saw. memerintahkan rajam terhadap muhsan dan tidak menjilidnya.

Dari asy-Sya’biy, “bahwa Ali ra. ketika merajam seorang wanita, Ali memukulnya pada hari Kamis dan merajamnya pada Jumat.

Ali berkata, “aku menjilidnya menurut Kitabullah dan aku rajam dia menurut sunah Rasulullah saw.”.

Baca juga:  Perlukah Pendidikan "Sexual Consent" untuk Mencegah dan Menghindari Kekerasan Seksual?

Dari Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata,  “Rasulullah saw. bersabda,

خُذُوْا عَنِّيْ، خُذُوْا عَنِّيْ، قَدْ جَعَلَ الله لَهُنَّ سَبِيْلاً اَلْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ، وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ

“Perhatikan aku, perhatikan aku, Allah telah menjadikan jalan untuk mereka, perjaka dengan gadis jilid seratus kali dera dan pengasingan setahun, dan yang sudah menikah dengan yang sudah menikah jilid seratus kali dera dan rajam”.

Jadi Rasul saw. bersabda bahwa hukuman muhsan adalah jilid dan rajam. Ali menjilid muhsan dan merajamnya.

Dari Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah saw. merajam Ma’iz bin Malik, dan Jabir tidak menyebutkan jillid.

Dalam riwayat al-Bukhari dari Sulaiman bin Buraidah bahwa Nabi saw. merajam al-Ghamidiyah, dan dia tidak menyebutkan jilid.

Dalam riwayat Muslim, bahwa Nabi saw. telah memerintahkan terhadap seorang wanita dari Juhainah, lalu pakaiannya dikencangkan kemudian diperintahkan dilakukan terhadapnya lalu dia dirajam, dan dia tidak menyebutkan jilid.

Maka yang demikian itu menunjukkan bahwa Rasul saw. merajam muhsan dan tidak menjilidnya. Sementara beliau juga bersabda,

وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ

“dan yang sudah menikah dengan yang sudah menikah jilid seratus kali dera dan rajam”.

Maka hal itu menunjukkan bahwa rajam adalah wajib. Adapun jilid maka itu boleh, dan diserahkan kepada pandangan khalifah.

Tidak lain ditetapkan had muhsan adalah jilid bersama dengan rajam sebagai kompromi di antara hadis-hadis.

Tidak dikatakan bahwa hadis Samurah bahwa Rasul saw. tidak menjilid Ma’iz, tetapi beliau hanya merajamnya saja, adalah menasakh hadis Ubadah bin ash-Shamit yang mengatakan “ats-tsayyibu bi ast-tsayyibi jaldu miatin wa ar-rajmu –dan yang sudah menikah dengan yang sudah menikah jilid seratus kali dera dan rajam-”.

Tidak dikatakan demikian karena tidak terbukti apa yang menunjukkan lebih akhirnya hadis Ma’iz daripada hadis Ubadah. Karena tidak terbukti lebih akhirnya maka ditinggalkannya jilid tidak mewajibkan pembatalannya dan menasakh hukumnya, dikarenakan tidak terbuktinya mana yang lebih dahulu dan mana yang lebih akhir dari kedua hadis itu, hal itu menafikan nasakh.

Tidak ada murajih untuk salah satunya terhadap yang lain. Apa yang ada di dalam hadis berupa tambahan atas rajam dianggap sebagai perintah mubah bukan wajib, sebab yang wajib adalah rajam.

Sedangkan tambahan atas yang demikian, maka imam diberi pilihan untuk menghimpun di antara kedua hadis itu …] selesai kutipan dari buku Nizhâm al-‘Uqûbât.

Ringkasnya, bahwa hukuman pezina muhsan adalah rajam sampai mati. Hal itu ditunjukkan oleh dalil-dalil yang sahih terbukti dari sunah Rasulullah saw. di dalam ash-Shahîhayn dan kitab hadis lainnya. Itu merupakan hukuman yang masuk di dalam hudud, dan bukan bagian dari bab at-Takzir.

Wallâhu a’lam wa ahkam. 12 Muharram 1441 H/11 September 2019 M [MNews/Juan]

Sumber: https://tsaqofah.id/hukuman-pezina-muhshan-di-dalam-islam/

Tinggalkan Balasan