Tren Istri Gugat Cerai Meningkat Tajam, Institusi Pernikahan Karam


Oleh: Rindyanti Septiana, S.H.I.


MuslimahNews.com, OPINI — Apakah ini yang dinamakan zaman ‘edan’? Para istri saat ini makin berani, jika sakit hati berakhir di meja pengadilan dengan menggugat cerai. Inikah kehidupan dimana aturan Islam tak menjadi tuntunan? Institusi pernikahan terancam karam. Sungguh memprihatinkan, air mata rumah tangga terus berderai berjatuhan,biduk rumah tangga hancur berantakan.

Di sejumlah kota di Indonesia, istri menggugat cerai mengalami peningkatan. Di antaranya, terjadi di Palembang. Juru Bicara Pengadilan Agama Kelas 1 A Palembang, Raden Acmad Syarnubi adi mengatakan hingga Juni 2021, telah memproses 1.265 kasus peceraian yang sebagian besar diajukan oleh istri. Setiap bulan rata-rata 210 orang istri melakukan gugat cerai dengan alasan beraneka ragam, faktor ekonomi, krisis akhlak hingga adanya orang ketiga atau wanita/pria idaman lain. (viva.co.id, 24/6/2021)

Begitu pula terjadi di Kabupaten Blitar, sebanyak 2.942 para istri lebih menginginkan berstatus janda sepanjang tahun 2020. Panitra Muda PA Blitar Nurkholis Ahwan mengatakan, gugat cerai dilatarbelakangi faktor ekonomi, istri bekerja dan menjadi buruh migran sementara suami banyak yang menjadi pengangguran. Orang ketiga dan kekerasan dalam rumah tangga juga menjadi penyebab terjadi gugat cerai. (jatim.inews.id, 4/2/2021)

Para istri melakukan gugat cerai juga terjadi di Semarang dan Padang. Hingga Mei 2021 kasus peceraian di Semarang mencapai 1.141 perkara dengan 854 perkara cerai gugat diajukan istri. Di Padang ada sekitar 1.123 istri menggugat cerai suami sepanjang 2020.Tren istri gugat cerai dianggap solusi paling benar di tengah kemelut rumah tangga. Padahal hal itu menyebabkan masalah sosial makin bertambah, generasi minus pengasuhan terbaik dari kedua orang tuanya yang bercerai. Fenomena single parent dianggap sah-sah saja, meski keluarga berjalan ‘pincang’.

Kapitalisme Merusak Ikatan Cinta

Sistem kapitalisme telah mendominasi seluruh sendi kehidupan masyarakat saat ini. Termasuk dalam ranah rumah tangga. Hubungan yang harusnya dibangun berdasarkan ikatan cinta yang kuat didasari keimanan kepada Allah SWT. Kini berubah sekadar menjadi ‘pondok’ tempat berlindung dan makan. Cinta di antara sesama pasangan hidup makin melemah dan memudar karena berbagai kepentingan masing-masing yang lebih dikedepankan.

Baca juga:  Strategi Menguatkan Pengaruh Ibu terhadap Anak

Konflik rumah tangga pun tak terelakkan, perceraian menjadi jalan pintas untuk mengakhiri pernikahan. Perempuan yang mandiri secara finansial merasa tak lagi membutuhkan laki-laki yang tak memenuhi kebutuhan rumah tangga. Apalagi memang suami menganggur di rumah sementara istri banting tulang mencari penghidupan untuk seluruh anggota keluarga.

Bisa dibayangkan, faktor ekonomi menjadi soal utama gugat cerai diajukan oleh para istri. Di sisi lain, pergaulan antara pria dan wanita yang bebas, saling bertemu dan bercengkrama meski telah menjadi status suami atau istri orang membuka peluang adanya wanita/pria idaman. Perselingkuhan menjadi pilihan, saat keharmonisan dalam rumah tangga tak lagi ada.

Semua alasan yang menjadi penyebab gugat cerai tak lepas dari atmosfer kapitalisme yang mendominasi kehidupan masyarakat. Ide kesetaraan gender yang dihembuskan di tengah keluarga muslim memperparah rusaknya ikatan cinta antar pasangan. Pilihan lebih baik menjanda daripada tersakiti solusi ala kapitalisme yang diambil oleh para istri saat ini.

Gugat Cerai Suami, Apakah Solusi?

Menikah bertujuan menyatukan dua pribadi yang berbeda sehingga tercipta keharmonisan. Agar tercipta keharmonisan maka harus ada sikap saling menerima kekurangan pasangan. Bukan sekadar mengharapkan kelebihan dan kesalehannya. Pernikahan yang harmonis bukanlah pernikahan yang sesama pasangannya selalu senada dan seirama, terkadang perbedaan menjadi bumbu ‘penyedap’ dalam rumah tangga.

Riak-riak kecil terkadang menjadi salah satu episode dalam rumah tangga. Tabiat suami yang buruk atau pun istri membawa kesengsaraan di dalamnya. Dalam keadaan itu dibutuhkan kesabaran suami terhadap istri atau pun sebaliknya. Ia akan mendapat pahala yang besar karena bersabar atas sesuatu yang tidak disukainya.

Keberhasilan pernikahan sangat bergantung pada sejauh mana penerimaan perempuan untuk menaati laki-laki yang menjadi suaminya serta tunduk kepada kepemimpinan suami untuk keluarganya. Hal ini yang kerap kali mengawali terjadi konflik dalam rumah tangga, istri yang sulit menaati suami. Padahal pahala ketaatan istri kepada suami disamakan dengan pahala mati syahid di jalan Allah SWT dan aktifitas jihad.

Namun, rusaknya hubungan pernikahan karena ide kesetaraan gender juga ide-ide liberal lainnya yang membebaskan interaksi sesama manusia. Menjadi semakin runyamnya hubungan suami istri. Istri mandiri secara finansial mudah mengatakan pisah pada suami yang tak mencukupi. Lelaki yang tak bertakwa, mudah pula mencari wanita idaman lain karena istri kurang melayani atau tak lagi menawan hati.

Baca juga:  Perceraian, Rapuhnya Ikatan Rumah Tangga, dan Gagalnya Negara Sekuler

Gugat cerai merupakan solusi tergesa-gesa tak menyelesaikan akar masalah rumah tangga. Hingga saat ini solusi tersebut terus dibenarkan dan didukung oleh sistem kapitalisme. Lantas benarkah ini solusi atau semakin memperparah kehidupan rumah tangga muslim? Ingatlah hadis Rasulullah saw., “Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan syariat maka haram baginya wangi surga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu majah, Ibnu Hibban). Lalu hadis Rasul lainnya menyatakan “Para istri yang minta khulu’ adalah wanita-wanita munafik.” (Hadis sahih. Riwayat Tirmidzi (no.1186) dan Abu Dawud (no.9094).

Islam Selamatkan Pernikahan yang Karam

Pernikahan dalam Islam sejatinya dibentuk untuk meraih kedamaian dan ketentraman. Mereka dihubungkan dengan saling memahami aturan Islam, maka berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mendapatkan pahala. Suami/Ayah melindungi keluarganya. Istri/Ibu menaati dan membahagiakan suaminya. Keduanya saling memahami hak masing-masing dan berusaha memenuhinya untuk mendapat rida Allah SWT.

Dengan itu bahtera rumah tangga berlayar tanpa gangguan angin dan badai, dipimpin seorang kapten yang dibantu oleh para asisten. Dengan penuh kesadaran dan pemahaman melakukan tugas yang diamanahkan agar Allah rida dan berkumpul bersama di surga. Istri merupakan sahabat bagi suaminya dalam kehidupan.

Maka setiap ketidakbahagiaan yang dialami istri tentu juga menimpa suami. Islam memerintahkan suami istri agar bergaul dengan cara yang baik serta mendorong untuk bersabar memendam kebencian yang ada. Firman Allah SWT, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudia bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS an-Nisa:19)

Islam juga telah memerintahkan para suami untuk menggunakan berbagai sarana yang bisa mengurangi sikap keras istrinya karena pembangkangan (nusyûz) mereka. Allah SWT berfirman: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.” (TQS an-Nisâ’ [4]: 34). Islam mampu menyelamatkan pernikahan yang terancam karam.

Baca juga:  Nafkahi Keluarga dengan Harta Halal

Islam tidak menjadikan perceraian sebagai satu-satunya solusi dalam menyelesaikan masalah rumah tangga, betatpun hebatnya krisis di antara keduanya. Islam memerintahkan agar persoalan yang ada diselesaikan oleh orang lain, misal dari pihak keluarganya masing-masing agar terjadi perbaikan di antara keduanya. Firman Allah SWT, “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu. Sesunggunya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisa: 35)

Namun, jika keduanya tak lagi mampu bertahan dalam bahtera rumah tangga, untuk membawa ketenangan di antara keduanya setelah berbagai solusi telah ditempuh. Islam membolehkan perceraian. Dengan berharap membawa kebaikan bagi keduanya. Tapi dengan catatan, tidak mencari-cari pembenaran untuk bercerai misal, ketidakcocokkan, tak romantis, saat suami kesulitan mencari nafkah, lalu dengan berani menggugatnya cerai.

Khatimah

Kapitalisme telah mencabut seluruh kebaikan pada setiap aspek kehidupan. Keluarga pun tak luput dari sasarannya untuk dirusak. Menyelamatkan pernikahan yang terancam karam tak bisa dengan solusi-solusi ala kapitalis. Justru menambah kesengsaraan.

Maka bagi Barat sebagai penyebar berbagai macam ide-ide sesat kapitalisme berupaya memasukkan nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam dalam tubuh keluarga Muslim. Ditempuh dengan berbagai cara, baik dengan konvensi dan perjanjian internasional terkait perempuan, keluarga yang diagensikan oleh pegiat gender.

Sejatinya kaum muslimin berupaya untuk mengembalikan kembali kehidupan Islam. Menjadikan nilai-nilai Islam sebagai aturan dalam kehidupan pernikahan. Pengabaian atasnya membuktikan banyaknya pernikahan muslim yang berakhir dengan perceraian dan penderitaan. Generasi muslim pun terancam tak mendapatkan pendidikan terbaik dari kedua orang tua yang bercerai. Akhiri jumlah ratusan hingga ribuan istri menggugat cerai, berganti dengan minimnya perceraian dan mudahnya pernikahan karena didukung serta difasilitasi oleh negara. [MNews]

Tinggalkan Balasan