Nafsiyah

[Nafsiyah] To the Last Breath


Penulis: Mohammad Fauzil Adhim


MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Kawan berpulang satu per satu. Sahabat pergi tanpa menunggu rambut memutih. Di antara mereka ada yang wafat tanpa kehadiran kerabat serta keluarga yang paling dekat. Kematian datang menjemput mereka dalam keadaan sendirian. Tak ada yang menemani kecuali amal-amal mereka. Seolah-olah sudah dikubur bahwa sebelum kematian itu datang.⁣⁣
⁣⁣
Hari-hari terakhir ini, selama berbulan-bulan lamanya, kematian demi kematian seperti kuda yang berpacu kencang. Para ulama mengatakan, kematian adalah nasihat tanpa kata. Tetapi sebagaimana nasihat yang disampaikan dalam susunan kata berangkai pun banyak yang tak didengar, betapa terasa hari ini kematian sebagai nasihat pun tak menggetarkan hati yang lalai.⁣⁣
⁣⁣
Salah satu kesempatan berharga saat mendampingi keluarga kita yang sedang menghadapi maut adalah, men-talqin-kan kalimat tauhid kepadanya agar menjadi penutup hidupnya. Tetapi ini tidak dapat kita lakukan manakala orang-orang yang kita cintai pergi tanpa sempat kita temani di detik-detik terakhir hidupnya.⁣⁣
⁣⁣
Nabi ﷺ bersabda,
⁣⁣
لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ⁣⁣
⁣⁣
“Talkinkanlah (tuntunkanlah) orang yang akan meninggal di antara kalian dengan bacaan: ‘laa ilaha illallah’ (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ).” (HR Muslim).⁣
⁣⁣⁣⁣
Mengapa kalimat ini? Beliau ﷺ bersabda⁣,
⁣⁣
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ⁣⁣
⁣⁣
“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘lailaha illallah’ (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ), maka dia akan masuk surga.” (HR Abu Dawud)
⁣⁣⁣⁣
Nah, masihkah ada rasa sayang di hatimu kepada orang-orang yang terdekat dalam hidupmu? Inilah urusan cinta yang mestinya kita tunaikan di ujung hidup keluarga, kerabat, dan sahabat kita andaikan kita ada di sisinya.⁣⁣

Jadi, kita menjaga diri dari Corona bukan karena tak beriman kepada takdir, tetapi justru sebagai bagian dari ikhtiar beriring tawakal. Jika telah tiba saatnya maut menjemput, tidak ada satu pun yang dapat mengelak darinya.

Tetapi, bagaimana kita mati, itu yang menjadi pembedanya. Mereka yang mati dalam keadaan beriman sangat berbeda dengan yang mati karena bunuh diri; berbeda pula yang mati dalam keadaan tawakal dan rida tatkala sakit menderanya. [MNews/Nsy]

Sumber: Telegram Garasi Fauzil Adhim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *