Kisah InspiratifShahabiyah

Ummul Khair binti al-Huraisy, Pemilik Kata Indah yang Berani

Ummul Khair adalah wanita yang mempunyai kedudukan tinggi di tengah kaumnya. Ide-idenya dihormati para gubernur Kufah. Hingga para Gubernur segan terhadapnya, sebab ia seorang wanita yang memiliki komitmen kuat dan tegas memegang kebenaran tanpa basa-basi.


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Ia dikenal sebagai sosok tabi’iyah (tabiin perempuan) yang pemberani, lisannya tak pernah surut menyampaikan kebenaran, dan kata-katanya bijaksana sarat makna.

Namanya adalah Ummul Khair binti Al-Huraisy bin Suraqah al-Bariqiyah al-Kufiyah, atau biasa dikenal Ummul Khair.

Ummul Khair sangat mahir berbahasa. Ia dijuluki ahli bahasa dari Kufah. Ummul Khair binti al-Huraisy terkenal sebagai negosiator ulung dari wanita-wanita orator di Kufah.

Ia memiliki idealisme politik yang terkenal bagi pusat pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus. Ia mempunyai lisan yang tidak ditandingi oleh tajamnya ujung pedang.

Ummul Khair adalah wanita yang mempunyai kedudukan tinggi di tengah kaumnya. Ide-idenya dihormati para gubernur Kufah. Hingga para Gubernur segan terhadapnya, sebab ia seorang wanita yang memiliki komitmen kuat dan tegas memegang kebenaran tanpa basa-basi.

Diceritakan dalam suatu kisah, Khalifah Muawiyah pernah mengirim surat kepada Gubernur Kufah agar mengundang Ummul Khair datang ke Damaskus dan menemuinya.

Setelah surat itu sampai pada gubernur dan diteruskan kepada Ummul Khair, saat itu ia berkata kepada gubernur, “Saya tak akan melenceng dari ketaatan, tidak melukainya dengan kebohongan. Sebenarnya saya ingin bertemu Amirul Mukminin untuk persoalan-persoalan yang menggelayut di hatiku, menjalar seperti aliran nyawa, mendidih panas dengan bara api dari tonggak kayu menyala.”

Ummul Khair bersiap berangkat ke Syam untuk menemui Khalifah Muawiyah. Sang gubernur memperlakukannya dengan baik dan bersikap lembut, dengan harapan ia akan menyebut dirinya dengan baik di hadapan Amirul Mukmirun. Namun, Ummul Khair tidak berpengaruh sedikit pun dengan sikap manis gubernur.

Sang gubernur yang memberikan pelayan terbaik untuknya dan berkata kepada Ummul Khair, “Wahai Ummul Khair! Sesungguhnya Muawiyah menulis surat kepadaku bahwa ia akan memberikan balasan kepadaku sesuai dengan perkataanmu. Jika baik, maka balasannya baik. Dan jika buruk, maka balasannya juga buruk. Maka pikirkanlah bagaimana yang akan engkau lakukan.”

Ia menjawab, “Wahai lelaki! Janganlah sekali-kali mengharap kebaikanmu padaku akan mengubah sikapku untuk mendukung kebatilan demi membahagiakanmu. Dan janganlah pengetahuanku tentang diriku membuatmu putus asa apabila saya katakan tentang dirimu selain kebenaran.”

Dengan sikap seperti ini, Ummul Khair telah membuktikan konsistensi dan ketegasannya dalam perkataan dan perbuatan.

Ummul Khair meninggalkan Basrah dan berangkat menuju Damaskus. Sesampainya di Damaskus, Ummul Khair ditempatkan di sebuah rumah khusus wanita selama tiga hari dan hari ke-4 menemui khalifah Muawiyah.

Saat Ummul Khair masuk ruangan, Khalifah Muawiyah sudah berkumpul bersama pejabat-pejabatnya.

Ummul Khair berkata, “Assalamu‘alaikum, wahai Amirul Mukminin.” Muawiyah menjawab, “ Wa’alaikumussalam, wahai Ummul Khair, demi Zat yang kau doakan aku dengan nama-Nya.” Ummul Khair berkata, “Setiap sesuatu sudah tertulis ketentuannya.”

Muawiyah menjawab, “Engkau benar, lalu bagaimana keadaanmu bibi?” Ummul Khair menjawab, “Aku masih sehat dan kuat, hingga bisa datang ke tempatmu ini, dan sekarang aku berada di majelis yang megah dan di samping kepala negara yang agung.”

Muawiyah berkata, “Dengan tulus aku melakukan semua ini untuk menghormatimu.”

Muawiyah ingin mengetahui pendapat Ummul Khair tentang para tokoh sahabat. Maka, ia diminta mengomentari tentang Utsman dan Zubair. Ia menjawabnya dengan jawaban lengkap, jujur, dan menyeluruh. Ia berikan komentar secara proporsional dalam hal penghormatan dan apresiasi sesuai dengan hak-haknya.

Muawiyah bertanya, “Wahai Ummul Khair, apa yang hendak engkau katakan tentang Utsman bin Affan, Amirul Mukminin, dan Khalifah Rasyidin yang ketiga?”

Ia menjawab, “Saya tidak berharap untuk mengatakan tentang dirinya. Ia diangkat oleh banyak orang, sementara mereka rida dengannya. Mereka membunuhnya saat mereka benci kepadanya.”

Muawiyah berkata, “Cukup, wahai Ummu al-Khair! Sungguh ini adalah sifat aslimu yang menjadikanmu mendukung Ali.”

Ia berkata (mengutip firman Allah), “Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu,tetapi Allah mengakui Al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkan dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula), cukuplah Allah yang mengakuinya..” (QS An-Nisa: 166). Sungguh demi Allah, saya tidak ingin berkomentar miring terhadap Utsman. Ia adalah orang yang paling dahulu menuju kebaikan. Sesungguhnya ia pasti dalam tingkatan yang tinggi di sisi Tuhan Yang Maha Berkuasa.”

Muawiyah terdiam sejenak, lalu bertanya kepadanya dengan mengatakan, “Sekarang, apa yang engkau katakan tentang Thalhah bin Ubaidillah?”

Ia menjawab, “Apa yang kukatakan tentang Thalhah? Beliau dibunuh dalam kondisi yang aman, beliau dibunuh dalam kondisi tidak tahu menahu tentang bahaya. Dan Allah Swt. telah menjamin beliau masuk surga.”

Lalu Muawiyah menyusulnya dengan pertanyaan, “Bagaimana pendapatmu tentang Zubair bin Awwam?”

Ummul Khair menjawab, Beliau adalah sepupu Rasulullah saw., sahabat dekat Rasulullah, dan Rasulullah telah menjamin surga untuknya. Beliau selalu terdepan dalam mencari kemuliaan dalam Islam. Semoga Allah Swt. selalu meridai beliau.”

Lantas Ummul Khair diam sejenak, kemudian berkata, “Wahai Muawiyah, orang-orang Quraisy banyak yang berkata bahwa dirimu orang Quraisy yang penyabar, maka bebaskan aku dari pertanyaan-pertanyaan yang sensitif seperti ini, jika engkau mau, bertanyalah tentang hal-hal yang lain.”

Kemudian Muawiyah berkata, “Baiklah, aku tidak akan memaksamu , dan membebaskan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak kau sukai.”

Perempuan seperti Ummul Khair binti al-Huraisy al-Bariqiyyah telah diberikan kefasihan dan seni tutur kata yang tidak tertandingi oleh para orator dan sastrawan lainnya di zamannya.

Di antara tutur katanya yang indah adalah penjelasannya tentang orang yang benar dan orang yang salah, “Siapa pun yang tersesat dari kebenaran pasti jatuh dalam kebatilan. Dan siapa pun yang tidak mendiami surga maka ia tinggal di neraka. Sesungguhnya orang-orang pintar berusaha memperpendek umur dunia hingga mereka menolaknya, mengharap panjang masa akhiratnya hingga mereka melangkah ke sana. Seandainya kebenaran tidak dipersalahkan, seandainya orang-orang zalim tidak ditampakkan, dan seandainya kata-kata setan tidak dikuatkan, maka mereka tak akan memilih melalui dunia atas kemudahan hidup dan keindahannya.”

Itulah Ummu al-Khair binti al-Huraisy al-Bariqiyyah, perempuan salihah dari kalangan tabiin. Sosok pemberani dan tegas dalam menyampaikan kebenaran. Ia jadikan ketaatan kepada Allah sebagai poros hidupnya. (MNews/Chs-Juan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *