[Hadits Sulthaniyah] ke-39: Larangan Fanatisme Golongan, Nasionalisme, atau Berperang Tanpa Argumentasi yang Sahih

Hadis mengenai “Beberapa Aspek Penting dalam Pemerintahan dan Persatuan” (Hadis ke-31—39)


MuslimahNews.com, HADITS SULTHANIYAH — Hadis ke-39:

“Barang siapa yang keluar dari jemaah (kaum muslim) dan melepaskan ketaatan (dari imam/khalifahnya) lalu ia mati, maka matinya mati (dalam keadaan) jahiliah.

Dan barang siapa yang keluar (memisahkan diri) dari umatku dengan mengangkat pedang (senjata) melawan (penguasa) adil ataupun zalim, tidak menjaga keimanannya dan tidak menepati perjanjiannya, maka ia bukanlah bagian dari umatku.

Dan barang siapa terbunuh di bawah bendera kejahiliahan, (merasa) benci karena ashabiyah (fanatisme kelompok, golongan, atau nasionalisme), atau berperang atas nama ashabiyah, atau menyeru kepada ashabiyah, maka matinya mati (dalam keadaan) jahiliah.”

(Musnad Ahmad No. 7716)

Penjelasan

a. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan penjelasan tentang riwayat di atas,

“(Bahwa Rasulullah saw.) menjelaskan tentang pemberontak yang melepaskan ketaatannya terhadap penguasa dan jemaah kaum muslim, dan menjelaskan bahwa bila salah seorang di antara mereka mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliah.

Disebut sebagai mati jahiliah karena orang-orang jahiliah tidak terbiasa mengangkat pemimpin bagi kabilah-kabilah mereka, akan tetapi sebaliknya, masing-masing kelompok justru saling berperang di antara mereka.

Kemudian beliau saw. menjelaskan bahwa orang-orang yang berperang karena fanatisme golongan sama saja keadaannya dengan mereka yang berperang karena semangat kesukuan, sebagaimana kabilah Qays dan Yamanni.

Baca juga:  Memecah-belah Khilafah dengan Nasionalisme

Selanjutnya beliau saw. menjelaskan bahwa siapa saja yang terbunuh dalam perang antargolongan seperti itu, maka mereka tidak termasuk bagian dari umat ini.”

b. Dalam riwayat tersebut, juga ada larangan dan celaan terhadap peperangan yang dilakukan tanpa argumentasi syariat yang jelas. Siapa pun yang melakukannya tidak dianggap sebagai bagian dari umat Muhammad saw..

c. Konsep negara bangsa (nation state) pada hakikatnya merupakan sebuah struktur kesukuan yang lebih besar. Sedangkan kebanggaan terhadap bangsa, bendera (panji-panji), berikut berbagai warisan leluhurnya dipandang sebagai bentuk fanatisme golongan (ashabiyah) yang jahiliah. Oleh karena itu, amarah, peperangan, dan kematian yang timbul karena semangat kebangsaan dan panji-panji ashabiyah itu dianggap sebagai sesuatu yang sangat tercela, sebagaimana terungkap dalam hadis di atas. [MNews/Gz]


Sumber: Abu Lukman Fathullah, 60 Hadits Sulthaniyah (Hadits-Hadits tentang Penguasa), 2010


 

Tinggalkan Balasan