[Tapak Tilas] Isfahan, Antara Masa Lalu dan Masa Depan


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Perang Qadisiyah yang terjadi tahun 636 M menjadi babak akhir kekuasaan imperium Persia alias Sassanid di kawasan Irak. Maka, tersisalah kekuatan imperium tua itu di wilayah dataran tinggi Iran yang berpusat di Isfahan dan Khurasan.

Wilayah Isfahan sendiri kemudian ditaklukkan oleh pasukan Islam dalam Perang Nahawand yang terjadi pada tahun 642 M. Saat itu, Isfahan merupakan jantung kekuasaan Persia di Iran, karena merupakan pusat militer dan perbentengan yang sangat kuat.

Foto: Isfahan, tempat kelahiran Salman al-Farisi. Republika.co.id

Sementara Khurasan baru menjadi target futuhat pemerintahan khalifah Umar pada tahun 651 M dan takluk pada tahun itu juga. Wilayah ini bisa dikatakan sebagai benteng terakhir kekuasaan Raja Yazdgard yang melarikan diri dan justru mati karena pengkhianatan kaumnya sendiri.

Isfahan, Wilayah Strategis Yang Selalu Diperebutkan

Isfahan terletak sekira 340 km dari kota Teheran Iran sekarang. Posisinya ada di kawasan Timur Tengah, bagian Asia Barat Daya. Ia juga dikenal dengan nama Ramahurmuzi, sebuah kota terkenal di tepian Khazastan (Arbastan), yang juga merupakan negeri asal Salman Al-Farisi ra..

Posisinya yang strategis untuk jalur sutera perdagangan, membuat Isfahan sejak lama menjadi area perebutan kekuasaan antara kekaisaran Persia kuno dengan ancaman yang datang dari bangsa lain seperti Alexander Agung dari Macedonia.

Dalam sejarah emas peradaban Islam, Isfahan sempat menjadi kota terpenting bagi kekuasaan Islam. Ia sempat berada dalam kekuasaan kekhalifahan Abbasiyah selama beberapa abad.

Lalu ketika terjadi pemberontakan dari kaum Al-Alawiyin pihak khalifah Abbasiyah melakukan penaklukkan ulang pada tahun 861 M. Namun dinasti ini kemudian meredup pada abad 10 M. Maka wilayah ini pun dikuasai Dinasti Buwaih dan sempat menjadi pusat kekuatan bagi dinasti ini.

Baca juga:  Kesalahan Yahudi dan Nasrani

Hal ini terus terjadi hingga Dinasti Buwaih runtuh pada tahun 1055 M digantikan oleh dinasti Saljuk. Di bawah dinasti ini, Isfahan juga sempat dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan pusat peradaban Islam.

Bahkan pada masa itu, kota Isfahan dikenal sebagai salah satu kota metropolit paling penting di dunia. Hingga ilmuwan Muslim terkemuka, Ibnu Sina, diketahui menetap dan mengajar di kota itu.

Ketika Dinasti Timurid berkuasa tahun 1387 M penduduk Isfahan sempat melakukan pemberontakan. Pasalnya, mereka merasa dizalimi dengan aneka rupa pajak. Konon, pada peristiwa pemberontakan itu sekira 70 ribu penduduk Isfahan tewas dibantai oleh tentara penguasa.

Lalu dinasti kekuasaan pun berganti. Dinasti Timurid ditumbangkan oleh Shah Abbas I dari dinasti Safawi yang beraliran Syiah dan menjadikan Syiah sebagai sekte resmi negara. Di bawah dinasti ini Isfahan mengalami kemajuan materiel yang luar biasa.

Isfahan sebagai Nesf-e Jahan

Pembangunan rumah-rumah, istana, infrastruktur, jembatan, fasilitas umum, termasuk masjid-masjid megah, sekolah dan pusat-pusat pertokoan di Isfahan berjalan massif di bawah kekuasaan Safawi.

Bahkan di masa ini berkembang berbagai seni dan budaya yang dikenal hingga mancanegara. Mulai dari seni arsitektur, permadani, tembikar, seni lukis, dan lain-lain.

Tak heran jika di masa itu Isfahan menjadi kota yang maju dalam ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan perdagangan. Bahkan Isfahan dikenal di Eropa sebagai Separuh Dunia (Nesf-e Jahan) karena semua yang diperlukan seolah-olah ada di sana.

Baca juga:  [News] Agresi ke Al-Quds Meningkat, Sikap Lancang Penjajah Yahudi

Pada puncak kejayaannya, wilayah Safawiyyah yang berpusat di Isfahan ini meliputi Iran, Azerbaijan, Armenia, sebagian besar Irak, Georgia, Afganistan, Kaukasus, dan sebagian Pakistan, Turkmenistan dan Turki. Safawiyyah menjadi salah satu negeri mesiu, selain Utsmaniyah dan Mughal.

Pada tahun 955 H atau 1548 M Dinasti Safawi di Isfahan ini tunduk di bawah kekuasaan Khilafah Turki Utsmani. Lalu Dinasti yang tegak sejak tahun 1501 M ini pun runtuh pada tahun 1134 H atau 1721 M.

Saat itu terjadi pertempuran antara Husain Syah, penguasa Safawiyah, dengan Mahmud al-Afghani dari Afghanistan. Pertempuran inilah yang benar-benar mengakhiri era kekuasaan dinasti Safawiyah, termasuk di Isfahan.

Lalu bekas-bekas wilayah kekuasaannya pun digantikan oleh Dinasti Afshariyah, wangsa Zand, Qajar dan akhirnya Pahlavi. Bahkan tak lama setelah itu pengaruh penjajahan negara-negara Eropa mulai masuk ke jantung kekuasaan dan mereka memanfaatkannya sebagai upaya melemahkan kekhilafahan Islam yang berpusat di Istanbul Turki.

Isfahan Hari Ini

Saat ini Isfahan menjadi satu dari tiga kota terbesar di Iran. Konon Isfahan termasuk salah satu kota terindah di kawasan Timur Tengah. Sisa-sisa peninggalan sejarah Islam di sana benar-benar terpelihara sebagaimana aslinya.

Wajar jika Kota Isfahan menjadi salah satu tujuan wisata dunia, yang posisinya bagi Iran seperti Bali bagi Indonesia. Bahkan ada beberapa situs yang dijadikan sebagai peninggalan peradaban dunia oleh UNESCO.

Namun sejarah politik Isfahan tak bisa lepas dari sejarah Iran secara keseluruhan. Dinasti kekuasaan yang kerap bergantian di Iran membuat wilayah ini seakan lepas dari sejarah Kekhilafahan Islam yang tegak dari masa ke masa.

Baca juga:  Trump dan Iran, Bagaikan Serial “Tom and Jerry”
Foto: Isfahan the City of Love and Light – persaserv.com

Beratnya fitnah yang menimpa umat telah membuat muslim menjadi berpecah belah. Dan ini bisa terjadi akibat kelemahan internal yang dimanfaatkan musuh dalam berbagai bentuk makar.

Maka, kehebatan apa pun yang tersisa dari peradaban Islam hanya akan menjadi kenangan saja. Bahkan semuanya tak bermanfaat untuk mengembalikan wibawa umat ini di hadapan musuh-musuhnya. Kecuali jika mereka kembali mengambil rahasia kehebatan mereka yakni tatkala berpegang teguh pada ideologi Islam.

Dajal dan Isfahan

Nama Isfahan pernah disebut Rasulullah sebagai kota penganut Dajal. Dalam sebuah hadis, beliau SAW bersabda, ‘’Dajjal akan diikuti oleh 70 ribu Yahudi dari kota Isfahan (Nan), mereka memakai Al-Tayalisah.’’ (HR Muslim). Bahkan menurut Ibnu Katsir, Dajal pada mulanya pun akan muncul dari Isfahan.

Dalam sejarah Yahudi, Isfahan memang punya kedudukan tersendiri. Di masa lalu ia menjadi kota pengungsian pertama bangsa Yahudi pascapemusnahan Kota Yerusalem. Di era dinasti Safawi, Yahudi bahkan difasilitasi.

Adapun hari ini, konon Isfahan menjadi salah satu kota dengan komunitas Yahudi terbesar di Iran. Dan mereka punya wakil dalam parlemen Iran sejak seabad yang lalu.

Lantas, bagaimana realitasnya soal berita kedatangan Dajal dan Yahudi Isfahan? Jawabannya, wallaahu a’lam. [MNews]

****

Dinarasikan ulang dari berbagai sumber.

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *