Resensi Buku

[Resensi Buku] Ketika Invasi Barat Mengoyak Dunia Islam


Peresensi: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.


MuslimahNews.com, RESENSI BUKU — Buku Invasi Politik dan Budaya Asing ini ditulis oleh Ustaz Salim Fredericks, seorang pejuang Islam kafah yang berasal dari Inggris. Sejak awal buku, yakni pada bab “Pendahuluan”, penulis telah memaparkan sejarah sejumlah imperium dunia di masa lalu yang selalu memiliki pola untuk menginvasi budaya demi menguasai negeri-negeri jajahannya.

Imperium-imperium itu tahu benar bahwa salah satu kekuatan mereka yang tidak banyak diketahui khalayak tetapi mampu menyatukan seluruh potensi wilayah jajahan mereka, sesungguhnya adalah kebudayaan. Karena bagaimanapun, kebudayaan meniscayakan pengaruh terhadap bentuk berbagai kesenian yang ada, pola arsitektur bangunan, ragam bahasa, model pendidikan, formulasi hukum, filsafat kehidupan; hingga termasuk berbagai cita rasa yang menyangkut pakaian, makanan kesukaan, serta etika moral dan perbuatan.

Singkat kata, ketika budaya telah dikuasai, para penguasa imperium itu pun menjadi lebih mudah untuk mengendalikan perasaan dan pemikiran rakyat di wilayah jajahan tersebut.

Pola ini kemudian bisa disejajarkan dengan makna penjajahan pemikiran. Pola ini juga masih digunakan pada abad milenium oleh negara-negara kapitalis besar dalam rangka mengeksploitasi kawasan Dunia Ketiga.

Di buku ini, penulis memerinci sejumlah aspek yang mereka gunakan sebagai lajur-lajur invasi (penjajahan) tersebut. Pertama-tama, penulis menganalisis standar kebahagiaan sebagai motif utama bagi capaian invasi itu sendiri. Penulis hendak memaparkan, makin banyak aspek maupun wilayah yang bisa diinvasi, makin tinggi pula tingkat kebahagiaan yang diraih penjajah.

Baca juga:  Kepentingan Bisnis dan Politik Cina, di Balik Pilpres 2019

Tak pelak, invasi penjajah itu pun sudah sampai pada aspek paling privat dari seorang individu. Keluarga sebagai benteng terakhir perlindungan individu, ketika di satu sisi kebijakan-kebijakan negara sudah ter-Barat-kan, nyatanya tak luput dari invasi ini.

Lajur-lajur invasi itu meliputi invasi ideologi, invasi kebudayaan, imperialisme ekonomi, imperialisme pendidikan, sejarah realitas dan romantisme, imperialisme politik, kehidupan sosial dan keluarga, serta pemerintah dan pemerintahan.

Hal ini terjadi, paling banyak di dunia Islam. Mengingat wilayah terakhir kekuasaan Khilafah Turki Utsmani saat itu mencapai hampir dua per tiga dunia. Karenanya, sungguh momentum runtuhnya Negara Khilafah Islam Turki Utsmani pada abad lalu adalah momentum emas bagi invasi besar-besaran peradaban Barat ke dunia Islam dan kaum muslim.

Penulis juga membeberkan bentuk dan berbagai cara licik Peradaban Barat menginvasi dan mengeksploitasi kaum Muslim. Yang mana, serangan gencar tersebut tak hanya membidik aspek ideologis (akidah dan syariah) Islam, tetapi juga menembus jauh hingga kehidupan pribadi keluarga-keluarga muslim.

Tak puas sampai di situ, peradaban Barat juga begitu lancang melakukan invasi militer ke negeri-negeri muslim. Kaum muslim telah dikepung oleh Barat dari segala penjuru, baik secara fisik maupun pemikirannya.

Baca juga:  Holding BUMN Ancaman Baru Kedaulatan dan Kesejahteraan Bangsa

Hal ini kian menegaskan wajah buruk lagi menjijikkannya peradaban Barat. Yang tentu saja, semua yang mereka lakukan telah mengoyak dunia Islam. Mulai dari kesatuan wilayah hingga pemikiran kaum muslim, yang telah berganti menjadi sekuler dan kian jauh dari syariat Islam. Ini semua adalah realitas niscaya, demi mengukuhkan dominasi penjajah Barat atas dunia Islam dan kaum muslim.

Maka, sungguh sangat ironis dan tumpul akal, jika kita yang berkesempatan menyaksikan kehidupan modern di era digital ini tak menyadari “tsunami” penjajahan peradaban Barat yang kental dengan suasana ideologis yang bertentangan dengan Islam. Yang bahkan terjadinya langsung di depan mata kita.

Parahnya lagi, “tsunami” tersebut bersifat sistemis dalam format legal hukum negara, serta terjadi begitu deras hingga membuat kita terpojok dalam koridor sekularisasi yang berbahaya.

Betapa pola pikir dan pola sikap Islam kaum muslim telah terkoyak, hingga mudah dipaksa terkotak dalam sekat negara bangsa. Namun, ketika ingin kembali bersatu dalam naungan Khilafah, cita-cita itu diblokade dengan arus deras isu radikalisme serta kriminalisasi ulama dan pengemban dakwah. Bahkan, simbol-simbol dan identitas Islam dimakzulkan agar kaum muslim tak bangga sebagai umat terbaik. Na’udzu billaahi min dzaalik. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *