[Persepsi Berbahaya] Dialog Antarperadaban (Bagian 3/3)

[Seri buku ideologis, Bagian 5]

MuslimahNews.com, PERSEPSI BERBAHAYA — Perbincangan ini bertujuan untuk memperkuat legitimasi dialog antara tiga agama, dengan anggapan dasar bahwa agama samawi yang tiga itu telah dibawa oleh Nabi Muhammad, Isa, dan Musa as., yang mempunyai Bapak yang satu, yaitu Ibrahim as. Karena itu, pemeluk ketiga agama itu harus hidup berdampingan secara damai, karena mereka secara agama adalah berasal dari satu keturunan.

Ini dari satu segi. Dari segi lain, perbincangan ini adalah untuk mendukung apa yang disebut “proses perdamaian” dan pembukaan hubungan diplomatik dengan Yahudi, serta melancarkan satu poin di antara poin-poin konspirasi Barat-Yahudi atas Islam dan kaum muslimin, yaitu mencaplok Palestina dan Masjidilaqsa dan menancapkan pisau beracun dalam dada umat Islam.

Juga untuk menjustifikasi kerja sama orang Yahudi, Kristen, dan Islam guna menjalankan otoritas keagamaan dalam pengelolaan Kota Yerusalem, yang telah dianggap tempat suci untuk tiga agama. Sebab, orang Yahudi, Kristen, dan Islam, katanya adalah orang-orang muslim yang berasal dari agama yang satu, yaitu agama Ibrahim as., Bapak para Nabi (Abul Anbiyaa).

Untuk menjelaskan kekeliruan pemikiran ini sekaligus untuk membantahnya, harus dijelaskan 3 (tiga) poin berikut:

Pertama, aspek bahasa.

Kata “aslama” di antara makna bahasanya adalah “inqaada” (tunduk, patuh, berserah diri). Al-Qur’an telah menggunakan makna bahasa ini dalam kisah para nabi dan pemberian sifat para nabi itu sebagai orang-orang yang tunduk patuh kepada perintah Allah Swt..

Allah Swt. telah berfirman melalui perkataan Nabi Nuh as., nabi sebelum Ibrahim as.,

“Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).” (QS Yunus: 72)

Allah Swt. berfirman melalui perkataan Nabi Nabi Ibrahim dan Ismail as.,

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (QS Al-Baqarah: 128)

Allah berfirman tentang kaum Nabi Luth as.,

“Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri.” (QS Adz-Dzaariyaat: 36)

Allah Swt. berfirman melalui perkataan Nabi Musa as.,

“Maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang-orang yang berserah diri.” (QS Yunus: 84)

Allah Swt. berfirman melalui perkataan para Hawariyin (pengikut-pengikut setia Nabi Isa as.),

“Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri.” (QS Ali Imran: 52)

Dengan demikian, jelas bahwa kata “muslimun” yang terdapat dalam berbagai ayat tersebut maknanya adalah “munqaaduun” (orang-orang yang patuh, tunduk, berserah diri).

Jadi, bukan berarti mereka itu memeluk agama yang satu, yaitu Islam yang diturunkan kepada Muhammad saw., sebab Islam belum dikenal oleh mereka, di samping mereka memang belum diperintahkan untuk memeluk Islam.

Setiap kaum dari mereka mempunyai seorang rasul yang khusus bagi mereka. Dan setiap rasul itu menyeru mereka kepada syariat (aturan) yang khusus. Allah Swt. berfirman,

Baca juga:  Persepsi-Persepsi Berbahaya untuk Menghantam Islam dan Mengukuhkan Peradaban Barat

“Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan syariat (aturan) dan jalan yang terang.” (QS Al-Maidah: 48)

Setelah turunnya wahyu kepada Muhammad saw., wahyu tersebut telah mengarahkan perhatiannya pada beberapa kata Arab tertentu, lalu memindahkan dari makna bahasa yang dibuat pertama kali untuknya, kepada makna syar’i yang dijelaskan oleh nas-nas syara‟ dari Al-Qur’an dan Sunah.

Di antara kata-kata yang telah dipindahkan maknanya ialah kata “Islam”. Makna bahasanya adalah “inqiyaad” (tunduk, patuh, berserah diri). Tetapi makna syar’i-nya adalah agama yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya Muhammad saw. Makna ini misalnya terdapat dalam firman Allah Swt. yang ditujukan untuk semua manusia sampai Hari Kiamat,

“…dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian.“ (QS Al-Maidah: 3)

Juga dalam firman-Nya,

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran: 85)

Dan juga dalam sabda Rasulullah saw.,

“Islam dibangun atas dasar lima perkara…”

Sebagaimana diketahui, agama-agama selain Islam tidak dibangun atas dasar lima perkara seperti tersebut dalam hadis.

Setelah pemindahan kepada makna syar’i untuk kata “Islam”, maka semua kata yang berasal dari kata “Islam” -seperti fi’il “aslama”, dan isim fa’il “muslim”—jika diucapkan tanpa suatu qarinah (indikasi), berarti yang dimaksud adalah makna syar’i-nya, bukan yang lain. Apabila dimaksudkan untuk menunjukkan makna bahasa yang dibuat pertama kali untuknya, diperlukan qarinah yang mengalihkan dari makna syar’i-nya.

Misalnya firman Allah Swt.,

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS Ali Imran: 67)

Ini tidak berarti bahwa Ibrahim as. adalah penganut agama yang diturunkan oleh Allah kepada Muhammad saw. (agama Islam), tetapi artinya, Ibrahim as. tunduk patuh (munqaadun) kepada apa yang diturunkan Allah kepadanya, dan dia bukanlah orang Yahudi atau Nashara yang telah mengubah-ubah agama para nabi mereka.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad, Isa, dan Musa telah mengikuti agama Ibrahim, maksudnya adalah mereka itu mengimani akidah yang sama, yang merupakan dasar (pokok) dari setiap agama yang berasal dari sisi Allah. Inilah yang dimaksud oleh firman Allah Swt.,

“Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu, ‘Tegakkan agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya.'” (QS Asy-Syuura: 13)

Jadi, agama yang terdapat dalam ayat di atas adalah dasar/pokok agama (ashlud diin), yakni akidah. Akan tetapi syariat mereka tidak sama, karena ayat tersebut telah di-takhsis (dikecualikan) oleh firman Allah Swt.,

“Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS Al-Maaidah: 48)

Baca juga:  Praktik Toleransi dalam Sejarah Islam

Kedua, aspek hukum syariat.

Allah Swt. telah mengutus Muhammad saw. sebagai penutup para nabi kepada seluruh umat manusia, di mana mereka semua dituntut untuk meninggalkan agama-agama merek, baik samawi maupun bukan, dan mengambil Islam sebagai agama mereka.

Barang siapa yang memenuhi tuntutan ini, berarti telah masuk Islam, sedang yang tidak memenuhinya, berarti telah kafir.

Allah Swt. berfirman,

“Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi Alkitab dan orang-orang yang ummi, “Apakah kalian (mau) masuk Islam)?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imran: 20)

Allah Swt. berfirman,

“Orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata. (yaitu) seorang rasul dari Allah (Muhammad)…” (QS Al-Bayyinah: 1-2)

Jadi, orang-orang Ahli Kitab dan musyrik itu tidak dapat dikatakan meninggalkan kekufuran, kecuali dengan cara masuk Islam, yakni mengikuti agama Muhammad saw..

Selain itu Rasulullah saw. juga pernah bersabda,

“Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentang aku seseorang dari umat manusia ini, baik dia Yahudi maupun Nasrani, lalu dia tidak mengimani risalah yang aku bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR Muslim)

Walhasil, seluruh umat manusia telah diseru untuk memeluk Islam. Siapa saja yang tidak mau memeluk Islam setelah diajukan hujah baginya, berarti dia secara pasti adalah orang kafir.

Orang-orang Yahudi dan Kristen yang hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad saw., jika mereka tetap saja menganut agama mereka masing-masing, maka mereka adalah orang-orang kafir, menurut nas Al- Qur’an.

Haram hukumnya menyifati mereka sebagai muslim. Barang siapa ber-i’tiqad bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen—serta penganut agama lain selain mereka—adalah orang-orang muslim, sungguh dia telah kafir. Karena dengan i’tiqad-nya itu dia telah mengingkari nas-nas syara‘ yang qath’i tsubut (pasti sumbernya) dan qath’i dalalah (pasti maknanya). Jika dia mati dalam keadaan seperti itu, maka dia termasuk penghuni neraka.

Ketiga, perbincangan tentang Anak Cucu Ibrahim as..

Sebenarnya, perbincangan ini menyeru kepada ikatan kebangsaan (rabithah qaumiyah), yang pada faktanya merupakan ikatan yang emosional dan bermutu rendah, yang lahir dari naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa).

Ikatan ini tidak manusiawi, sebab tidak layak untuk menjadi pengikat seorang manusia dengan manusia lain tatkala keduanya berbeda dalam hal asal keturunan (nasab).

Ikatan anak-cucu Nabi Ibrahim as. telah terhapus oleh zaman, tidak ada lagi faktanya dalam kehidupan, sebab orang-orang yang bernasab kepada Ibrahim dan keturunannya telah bercampur baur dengan bangsa-bangsa lain, dikarenakan hubungan perkawinan, pergaulan, imigrasi, dan peperangan.

Maka, kini sangat sulit bahkan mustahil membedakan mereka dari manusia yang lain. Di samping itu, para pengikut ketiga agama tersebut berasal dari segala bangsa dan suku yang ada di dunia, yang masing-masing telah terintegrasi atas dasar agama, bukan atas dasar asal usul keturunan.

Baca juga:  Hadis tentang Kekalahan Yahudi

Maka dari itu, sebutan “Anak Cucu Ibrahim” untuk orang-orang Islam, Yahudi, dan Kristen, juga untuk orang-orang yang tinggal di sekitar Masjidilaqsa atau yang lainnya, adalah sebutan yang gegabah, serampangan, lagi pula tidak benar.

Maksud sebenarnya adalah untuk memerangi Islam, menjustifikasi proses perdamaian yang dipaksakan, serta melegitimasi pembukaan hubungan diplomatik dengan negara Yahudi yang bercokol di tanah kaum muslimin yang dirampas.

Semua ini adalah dalam rangka memberikan legalitas terhadap tindakan kriminal yang sangat menjijikkan yang telah diperbuat oleh para penguasa yang berkhianat atas dasar suruhan para majikan mereka yang kafir.

Ikatan kebangsaan atau ikatan kekeluargaan (rabithah usriyah), seperti halnya ikatan anak cucu Ibrahim as., tidak dibenarkan oleh syariat untuk dijadikan asas pengaturan interaksi di antara manusia.

Allah Swt. berfirman,

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, dan kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS At-Taubah: 24)

Jelaslah bahwa perintah Allah Swt., lebih tinggi kedudukannya daripada ikatan kebangsaan atau ikatan kekeluargaan, atau aspek kemanfaatan. Allah Swt. telah menjelaskan kepada para nabi sebelumnya mengenai lemahnya ikatan-ikatan seperti itu.

Allah Swt. berfirman,

“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.’ Allah berfirman, ‘Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik.’” (QS Huud: 45—46)

Allah Swt. berfirman mengenai Ibrahim as.,

“Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.’” (QS Al Baqarah: 124)

Ayat di atas menerangkan, bahwa anak Nabi Nuh as. dalam pandangan syara‘ bukanlah termasuk keluarganya, sebab dia tidak beriman dengan risalah yang diturunkan Allah kepada ayahnya. Demikian pula, orang-orang zalim dari keturunan Nabi Ibrahim as. dikecualikan dari janji Allah untuk mendapat kepemimpinan, sebab mereka tidak mengikuti risalah yang diturunkan Allah kepada Bapak mereka, Ibrahim as.

Oleh sebab itu, propaganda ide “Anak-Cucu Ibrahim as.” saat ini sesungguhnya adalah propaganda jahiliah yang bersifat politis dan sangat tendensius. Haram hukumnya menyerukan dan mempromosikan ide ini, sebab maksud hakiki dari ide itu adalah untuk memerangi Islam, memalingkan kaum muslimin dari agamanya, menjustifikasi proses perdamaian yang khianat dengan Yahudi yang kafir, menyerahkan kepada mereka bumi Palestina yang mereka jarah, mengesahkan hubungan diplomatik dengan mereka, serta menerima eksistensi negara Israel di Timur Tengah. [MNews/Rgl]


Sumber: Buku Persepsi-Persepsi Berbahaya untuk Menghantam Islam dan Mengukuhkan Peradaban Barat


 

Tinggalkan Balasan