Bulan-Bulan Haram, Tafsir Ibnu Katsir QS At-Taubah: 36 (Bagian 3/3)

Sambungan dari Bagian 2/3

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN – Firman Allah Swt.:

{وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً}

Dan perangilah kaum musyrik itu semuanya.(At-Taubah: 36)

Artinya, perangilah oleh kalian semua orang musyrik itu.

{كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً}

sebagaimana mereka pun memerangi kalian semua.” (At-Taubah: 36)

Yaitu sebagaimana mereka semua memerangi kalian.

{وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ}

“dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36)

Para ulama berbeda pendapat tentang keharaman hukum melalui peperangan dalam bulan-bulan Haram, apakah hukum ini di-mansukh atau muhkam. Ada dua pendapat mengenainya, yaitu:

Pendapat pertama, merupakan pendapat yang terkenal. Menurut pendapat ini hukumnya telah di-mansukh, karena di sini Allah Swt. berfirman:

{فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ}

maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.(At-Taubah: 36)

Lalu diperintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik. Makna lahiriah nas (teks) menunjukkan keumuman pengertiannya, yakni perintah ini bersifat umum tanpa ada ikatan waktu. Seandainya melakukan peperangan terhadap kaum musyrik diharamkan dalam bulan-bulan Haram, sudah dipastikan ada ikatannya, yaitu dengan lepasnya bulan-bulan Haram. Juga karena Rasulullah saw. ketika mengepung penduduk Taif terjadi dalam bulan Haram yaitu bulan Zulkaidah; seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, bahwa Nabi saw. berangkat untuk memerangi orang-orang Hawazin dalam bulan Syawal. Setelah Nabi saw. berhasil mematahkan dan mencerai-beraikan mereka, lalu mengambil harta rampasan mereka, maka sisa-sisa mereka berlindung di kota Taif. Maka Nabi saw. menuju Taif dan mengepung mereka selama empat puluh hari, lalu pulang ke Madinah tanpa membukanya. Dan terbukti bahwa Nabi saw. melakukan pengepungannya itu dalam bulan Haram.

Baca juga:  Memuliakan Bulan Rajab

Pendapat kedua mengatakan bahwa memulai peperangan dalam bulan-bulan Haram hukumnya haram, dan bahwa keharaman melakukan peperangan dalam bulan-bulan Haram ini tidak di-mansukh, karena firman Allah Swt. yang mengatakan:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلا الشَّهْرَ الْحَرَامَ}

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syiar-syiar Allah dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan Haram.” (Al-Maidah: 2)

{الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ}

Bulan Haram dengan bulan Haram dan pada sesuatu yang patut dihormati berlaku hukum qisas. Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia yang seimbang dengan serangannya terhadap kalian.” (Al-Baqarah: 194), hingga akhir ayat.

{فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ}

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu.” (At-Taubah: 5), hingga akhir ayat.

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan bahwa bulan-bulan Haram itu adalah empat bulan yag telah ditetapkan setiap tahunnya, bukan bulan-bulan tas-yir, menurut salah satu di antara dua pendapat.


Mengenai firman Allah Swt.:

{وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً}

dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya.” (At-Taubah: 36)

Baca juga:  Hukum Puasa Rajab

Dapat ditakwilkan bahwa ayat ini terputus dari ayat sebelumnya, kemudian ia dianggap sebagai kalimat baru yang menjelaskan hukum yang lain. Dan hal ini termasuk ke dalam Bab “Menggugah dan Memberikan Semangat untuk Hal yang Dimaksud”.

Dengan kata lain, sebagaimana mereka menghimpun kekuatannya untuk memerangi kalian saat mereka hendak memerangi kalian, maka himpunlah kekuatan kalian untuk memerangi mereka, bila kalian hendak memerangi mereka. Dan perangilah mereka sama dengan apa yang mereka lakukan terhadap kalian.

Dapat pula diinterprestasikan bahwa telah diberi izin oleh Allah bagi kaum mukmin untuk memerangi orang-orang musyrik dalam bulan-bulan Haram, jika mereka (orang-orang musyrik) memulainya terlebih dahulu, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ}

Bulan Haram dengan bulan Haram dan pada sesuatu yang patut dihormati berlaku hukum qisas.” (Al-Baqarah: 194)

{وَلا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ}

dan janganlah kalian memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kalian di tempat itu. Jika mereka memerangi kalian (di tempat itu), maka bunuhlah mereka.(Al-Baqarah: 191), hingga akhir ayat.

Demikianlah jawaban tentang pengepungan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. terhadap ahli Taif yang pengepungan tersebut terus berlangsung sampai masuk bulan Haram, karena sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. itu merupakan kelanjutan dari peperangan melawan orang-orang Hawazin dan para hulafa (teman-teman sepakta)nya dari kalangan Bani Saqif (penduduk kota Taif). Karena sesungguhnya merekalah yang terlebih dahulu memulai peperangan, menghimpun pasukan, serta menyerukan perang dan bertanding di medan perang. Maka pada saat itu juga Rasulullah saw. menerima tantangan mereka, seperti yang telah disebutkan jauh sebelum ini.

Baca juga:  Bulan-Bulan Haram, Tafsir Ibnu Katsir QS At-Taubah: 36 (Bagian 1/3)

Ketika orang-orang Hawazin berlindung di benteng kota Taif, maka Rasulullah saw. dan kaum muslim datang ke Taif untuk mengeluarkan mereka dari Benteng Thaif. Akhirnya mereka berhasil membunuh sebagian dari pasukan kaum muslim yang mencoba naik ke benteng mereka. Kemudian pengepungan dilanjutkan dengan manjanik (pelontar batu) dan senjata jarak jauh lainnya selama kurang lebih empat puluh hari.

Pengepungan tersebut dimulai pada bulan Halal dan berlanjut sampai ke bulan Haram selama beberapa hari. Setelah itu Rasulullah saw. kembali ke Madinah meninggalkan mereka. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah saw. karena mengingat bahwa dapat dimaafkan melanjutkan sesuatu itu dalam kondisi tertentu yang tidak dapat dimaafkan bila dilakukan pada permulaannya. Hal seperti ini merupakan suatu perkara yang telah menjadi ketetapan hukum, dan hal yang semisal dengannya dalam hukum banyak didapat.

Berikut ini akan kami sebutkan hadis-hadis yang menceritakan tentang hal tersebut. Hal ini telah kami catat di dalam kitab Sirah.

[Penulis (Ibnu Katsir) tidak menuturkan hadis-hadis yang telah dijanjikannya itu, maka harap direnungkan. pent.] [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan